Bab VI
Mengangkat Manusia yang Tertindas
Di zaman modern yang penuh dengan persaingan, terutama di kota-kota besar, kehidupan terasa berat untuk ditempuh. Ketatnya persaingan hidup dan budaya yang mengedepankan materi membuat seseorang bisa stress dan merasa tertindas. Orang-orang bisa jadi mempunyai bibit yang bagus dalam melakukan sesuatu. Namun, karena kelemahan emosionalnya maka ia mudah menjadi down. Akhirnya, ia menderita penyakit eksistensial diri dan krisi spiritual. Oleh Micheal Kerney, seorang konsultan media dari Irlandia digambarkan orang seperti ini mempunyai pengalaman diri yang terfragmentasi, terasing, dan sarat dengan ketidakbermaknaan hidup.
Manusia yang hidupnya sengsara secara emosional dan spiritual disebut manusia tindisan. Ada kalanya bawaan sejak kecil atau karena adanya pengalaman yang tidak mengenakkan. Misalnya ia gagal dalam ujian, ditimpa kematian orang yang dicintai, seringnya mengalami musibah, dan sebagainya. Mereka cenderung menyendiri dan menjadi asosial. Manusia tindisan ini biasanya berperilaku sebagai berikut.
A. Cuek (ignore)
Tidak peduli atau bahasa akrabnya disebut dengan cuek adalah merupakan ciri awal seorang manusia tindisan. Orang tersebut tidak peduli dengan apa yang terjadi pada lingkungannya. Contoh kasus ada seorang manajer di kantor hobi dalam bekerja (workaholic). Ia selalu bekerja dengan giat agar hasilnya sempurna. Ia ingin atasannya melihat pekerjaan yang dilakukan bersama anak buahnya selesai tanpa cacat. Apalagi setiap divisi di kantor berlomba dalam hal CTT (cepat, tepat, dan tertib). CTT inilah yang menjadi KPI (Key Performance Indicator) bagi dirinya. Kebiasaannya bekerja keras dan perfectionist ini, telah membuat anak buahnya pontang-panting. Tidak jarang mereka disuruh kerja lembur hingga larut malam agar ia bisa presentasi di depan Board Of Directors besok hari. Bahkan secara ekstrem ia menyuruh satpam kantor untuk tidak memperbolehkan anak buahnya pulang atau keluar kantor sebeblum pukul 10.00 malam. Beberapa anak buahnya sering mengeluh karena kejadian seperti itu kerap terjadi tidak sekali dua kali. Apalagi bagi karyawan yang pangkatnya sudah agak tinggi mereka tidak dapat lembur padahal mereka sudah berkeluarga. Perintah atasan untuk menylesaikan pekerjaan sampai larut malam sungguh menjadi siksaan bagi mereka.
Manajer seperti ini tidak peduli dengan keluhan anak buahnya. Bahkan ketika sempat seseorang menyampaikan keluhan karena pulang larut malam ia justru memarahinya, “Kamu tahu tidak, ketika perusahaan ini baru mulai berdiri kami semua kerja sampai larut malam. Bahkan sampai jam tiga pagi! Kalau kita tidak bekerja keras, perusahaan ini tidak bisa maju seperti sekarang. Bisa-bisa kamu tidak bekerja di sini.” Manajer tersebut membandingkan dirinya yang dahulu pulang pukul 3.00 pagi dengan anak buahnya yang sekarang mengeluh pulang jam 10.00 malam. Tentu bagi dirinya pulang pukul 10.00 malam bukan apa-apa.
Padahal zaman telah berubah. Suasana menjadi lain. Memang para perintis telah membuka jalan bagi majunua perusahaan. Namun tidak perlu ditempuh dengan kerja sampai jam tiga pagi. Yang merepotkan lagi adalah karena cuma bagian dia yang selalu pulang larut malam. Sementara bagian lain pulang jam kantor seperti biasa pukul lima atau enam sore.
Usut unya usut, ternyata di samping manajer tadi punya story yang kurang baik. Keluarganya berantakan. Ia ditinggal pergi oleh sang istri. Sebagai pelampiasan ia bekerja di kantor sampai larut malam. Dan, memang perusahan waktu itu sedang memulai bisnisnya hingga perlu bekerja lebih keras. Suatu ketika ia memberikan laporan kepada atasannya yang sudah ia persiapkan semalam suntuk. Entah mengapa, karena salah atau keliru besar (atau mungkin sang bos sedang kesal) laporannya disobek-sobek di depan matanya. Bos yang satu ini memang kalau marah gayanya lain, suka menyobek kertas atau dokumen di depan anak buahnya. Tidak jarang cek atau giro yang salah tulis langsung dia sobek sambil marah-marah. Ketersinggungan itulah yang membuat sang manajer tidak mau mengulangi lagi membuat laporan yang tidak CTT. Akibatnya, anak buahnya sekarang menjadi “korban”.
Orang yang cuek dan tidak peduli dengan kondisi lingkungan harus diberikan pemahaman. Pengalaman dan pengaruh buruk yang mempengaruhi sikapnya harus diluruskan. Memberikan pemahaman dan edukasi kepada orang seperti ini memang tidak mudah sebelum ia sendiri terbentur dengan masalah. Haus ada seorang atasan atau minimal teman yang sejajar dengan dirinya yang mengingatkan. Bahwa apa yang diperbuatnya telah membuat orang lain menderita. Kecuekannya terhadap masalah yang dikeluhkan anak buahnya akan menjadi bom waktu apabila tidak segera ditangani.
Pemahaman yang harus diberikan kepadanya adalah hakikat hidup. Apa yang kita cari di dunia ini? Bagi seseorang yang masih memiliki rasa keislaman tentu akan menanyakan kepada nuraninya, “ya, untuk apa ia hidup?” Apa sebenarnya yang dikejar selama ini? Pemahaman mengenai manajemen waktu akan sangat diperlukan. Bagaimana Nabi saw. dan para sahabat dahulu membagi waktunya untuk bekerja, untuk keluarga, dan untuk ibadah kepada Allah. Mereka bangun pagi dan langsung bekerja selepas subuh. Sore mereka sudah kembali dan bercengkrama dengan keluarga. Mereka tidak tidur larut malam. Namun ba’da isya sudah masuk ke kamar masing-masing. Malam hari menjelang subuh mereka bangun dan beribadah kepada Allah. Shalat tahajud dan tadarus Al-Qur’an. Bukankah hidup seperti itu nikmat dan berkah? Di mana enaknya kita bekerja sampai larut malam, menghilangkan hak-hak diri sendiri maupun orang lain, kemudian besoknya justru dimarahi oleh atasan. Apanya yang enak?
Kesadaran seperti ini sangat penting untuk mengubah seseorang yang ignore menjadi care. Dari cuek menjadi perhatian. Seorang muslim yang baik adalah muslim yang membawa manfaat bagi orang lain. Khairunnas, man yanfa’un nas. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain,” sabda Nabi saw.. Kalau seorang muslim diminta untuk memberi manfaat bagi orang lain, tentu faktor peduli harus nomor satu.
B. Penuh Curiga (Prejudice)
Orang yang merasa tertindas oleh kondisi, ia penuh curiga. Apa yang dilakukan orang lain selalu dipandang negatif. “Jangan, jangan …” Kalimat itu yang selalu terbayang jika ada orang mendatanginya. Contoh orang yang selalu penuh curiga digambarkan dalam buku ESQ-nya Ary Ginanjar sebagai orang yang terhalang zero mind process-nya. Kecurigaan menghilangkan keikhlasan, sehongga selalu melihat orang lain itu salah. Sebuah kisah menarik dalam buku itu,
Pada suatu pagi, diadakan rapat anterdepartemen di sebuah perusahaan. Peserta rapat sedang membicarakan hasil evaluasi rutin bulanan. Salah seorang tiba-tiba menguap di tengah rapat yang sedang berlangsung serius. Peserta lain spontan menoleh ke arahnya. Atasannya yang juga ikut rapat dengan penuh curiga langsung menegur karyawan yang menguap tadi. “Saya kecewa sekali dengan Anda. Anda tampaknya tidak peduli dengan rapat serius ini!” Karyawan itu langsung tertunduk. Wajahnya pucat. Ia berkata lirih, “Maaf, saya ingin menyampaikan sesuatu. Saya seharusnya tidak bisa ikut rapat ini. Tetapi mengingat rapat ini sangat penting, saya mencoba hadir,” Matanya berkaca-kaca. “Anak saya tadi malam mengalami kecelakaan. Saat ini ia sedang dirawat di ruang ICU, di rumah sakit dalam keadaan tidak sadar. Jadi, tadi malam saya tidak bisa tidur.” Semua peserta rapat langsung tertunduk. Bisa dibayangkan betapa malu dan tidak enaknya perasaan atasan yang telah menegur tadi. Ia telah terjebak dalam curiga dan prasangka negatif.
Yang lebih parah dari contoh sang atasan tadi tentu banyak. Orang yang karena pengalaman hidupnya, kecurigaan berlebihan bahkan bisa menimbulkan penyakit jiwa.
Dalam sebuah cerita dari negeri Cina dikisahkan ada seorang wanita yang sudah sangat tua menderita penyakit yang lama tidak sembuh-sembuh. Dalam penderitaannya di tempat tidur tiba-tiba ia merasa orang-orang akan membunuhnya. Setiap sang suami atau anaknya menyediakan bubur ia merasa akan diracun. Ia beranggapan karena sakitnya tidak sembuh-sembuh, barangkali keluarganya menganggap sebagai beban terutam masalah financial. Daripada menyusahkan lebih baik “diselesaikan” saja. Padahal diantara keluarganya tidak ada yang beranggapan seperti itu.
Kecurigaan seperti itu tentu sudah amat parah. Wanita tadi sudah sampai pada penyakit jiwa. Padahal sebetulnya, kecurigaan tersebut terbangun atas sikap hidupnya sendiri selama ini yang meterialistis. Ia menganggap segala sesuatu dinilai dengan uang, dengan untung rugi. Ia menganggap keluarganya akan rugi jika mengeluarkan uang terus-menerus untuk mengobatinya, padahal ia tidak sembuh-sembuh.
Diantara dua sifat curiga yang ekstrem tersebut banyak terjadi diantara kita, terutama yang tinggal di wilayah perkotaan sekarang ini, banyak mengidap penyakit curiga yang berlebihan. Seseorang yang selalu curiga biasanya didasari oleh pengalaman yang kurang baik sebelumnya. Terhadap orang seperti ini, kita harus memberikan perhatian lebih. Orang yang prejudice harus kita berikan perhatian serius. Tidak hanya sekadar memberikan pengertian seperti orang yang ignore. Karena pengalaman yang diderita orang ini sebelumnya lebih panjang atau lebih tidak mengenakkan.
Perhatian mengandung arti yang lebih dalam ketimbang sekadar memberikan penjelasan. Perhatian tidak melulu pada sikap atau kejadian yang tengah berlangsung, namun juga hal-hal lain di luar itu. Terhadap wanita yang sakit diatas, sentuhan kasih sayng akan sangat membantu memulihkan kepercayaannya. Seorang karyawan yang ditegur atasannya yang penuh curiga tadi, apabila tidak memberikan pejelasan yang lebih mendalam belum tentu akan menyadarkan hobi curiga atasannya. Misalnya ia hanya berkata, “Saya tidak tidur semalam sehingga sekarang mengantuk.” Tidak banyak atasan atau orang yang mau menghabiskan waktu untuk mengorek lebih dalam, seperti “Mengapa kamu tidak tidur semalam” dan seterusnya. Oleh karena itu, pemberian penjelasan yang menyeluruh sebagai bentuk perhatian kita terhadap orang akan membantu memulihkan kecurigaan tersebut.
Allah juga memerintahkan manusia untuk menghindari curiga dan berprasangka. Allah swt. berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah terlalu banyak berprasangka.
Sungguh sebagian prasangka adalah dosa…” (al-Hujuraat 12)
Memang curiga bisa berarti waspada. Namun curiga berlebihan atau berprasangka buruk justru akan membelenggu diri kita. Pikiran itu akan mengekang diri sehingga kita tidak mempunyai kebebasan untuk bertindak. Akibatnya, banyak peluang rezeki akan terlewatkan, meskipun sebenarnya sudah di depan mata.
C. Apatis
Sifat kurang baik yang lebih tinggi dari manusia tindisan adalah apatis. Apa yang dilakukan oleh orang lain sudah tidak dianggap olehnya. Ia sudah menutup jalan bagi dialog, sudah tidak mau bercampur tangan dengan yang lain. Ia orang yang apatis. Ia tidak saja cuek, tapi sama sekali tidak menghiraukan. Perasaannya tanpa emosi, lesu, dan impasif. Apa yang dikerjakan orang terhadapnya tidak membuatnya tertarik. Ia malah acuh tak acuh.
Biasanya orang yang seperti ini mempunyai pengalaman buruk yang sulit hilang dari kenangan. Ia begitu shock dengan pengalaman buruknya itu sehingga ia apatis tidak saja menghadapi pengalaman yang sama namun juga kejadian apa saja.
Ada seorang kawan di kantor selama lima tahun bekerja tidak mengalami kenaikan golongan sama sekali. Memang pada masa itu manajemen perusahaan tidak tertata baik, termasuk masalah karier. Pekerjaannya sebagai kepala cabang selama lima tahun merasa tidak dihargai oleh perusahaan. Jadilah, ia seorang yang apatis. Ketika manajemen perusahaan berganti ia ditarik ke kantor pusat. Perubahan pun terjadi. Sistem promosi yang baru pun diterapkan. Namun, ia sama sekali sudah tidak tertarik. Ketika diminta training sebagai syarat kenaikan golongan ia selalu berucap, “Saya toh sudah lima tahun bekerja, tapi tidak pernah naik golongan.” Akhirnya, training dia tinggalkan. People review sebagai forum yang akan menilai kinerjanya juga tidak ia hadiri. Pokoknya ia tidak peduli dengan apa yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan kompetensinya. Ia hanya bekerja, seperti biasa mengerjakan pekerjaan sehari-hari.
Orang apatis semacam ini agak susah diobati. Bagaimana akan mengobati kalu mendekat saja ia sudah tidak mau menerimanya. Ketika kita menyampaikan penjelasan, kita memberikan perhatian. Jauh-jauh pintu sudah ditutup olehnya, sebelum kita menemuinya. Padahal kita bermaksud baik. Terhadap orang seperti ini kita hanya bisa tawakal (acceptance) atau menerima keadaannya. Kita tidak bisa berinteraksi dengannya. Namun, bila sesekali ada kesempatan untuk memberikan perhatian atau penjelasan, harus segera diambil. Mana tahu dengan kesempatan itu dapat mengubah wataknya.
Tawakal, sebagaimana pernah dijelaskan Nabi, adalah pasrah setelah berusaha. Seorang sahabat yang meninggalkan untanya begitu saja ketika bertamu ke tempat Rasulullah mengatakan bahwa ia tawakal kepada Allah. Ia membiarkan untanya tak tertambat. Nabi bersabda,
“Ikatlah dulu untamu, lalu bertawakallah!”
Jadi, bertawakal adalah menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah setelah sebelumnya kita berusaha terlebih dahulu. Kepada orang yang apatis, tidak ada salahnya kita memberi penjelasan dan nasihat. Keapatisan dia memang akan menolaknya ketika itu. Tapi siapa mengira kalau kata-kata yang kita ucapkan dicamkannya pada malam hari ketika ia sendiri. Barangkali dengan merenung, ia bisa mengubah tingkah lakunya. Namun perantaranya memang mesti ada.
Kawan yang enggan dipromosikan karena apatis tadi bisa jadi tidak bisa kita nasihati. Namun, dengan menunjukkan kepadanya bahwa sistem promosi sekarang sudah berubah, tidak lagi like and dislike. Ia diharapkan akan menyaksikan bagaiman bagusnya system yang baru diterapkan. Bahkan, kemungkinan ia akan menyesal apabila menyaksikan banyak kawan-kawan seangkatannya yang lebih maju. Dari jauh ia akan menyaksikan dan membawa pulang sebagai bahan renungan.
Itulah yang ditunjukkan Islam ketika orang tidak mau menerima kebenaran. Rasulullah dan para sahabat memberikan contoh akhlak yang terpuji sehingga dari jauh orang dapat menyaksikannya. Memang kita terpaksa harus tawakal menghadapi orang apatis. Namu, dengan kita berusaha memperlihatkan dan memberikan perhatian kepada yang lain, pesan itu mudah-mudahan akan sampai juga.
D. Permusuhan (Hostile)
Puncak dari sifat orang yang tindisan adalah melakukan permusuhan kepada siapa saja. Ketertekanan kehidupannya oleh situasi membuat ia mudah tersinggung dan melakukan perlawanan. Hanya karena sebab-sebab kecil, langsung emosinya meluap dan mengajak berantem. Bagi masyarakat kota, akan mudah dijumpai orang yang terkena penyakit ini. Terutama pada para sopir angkot. Tidak jarang mereka berkelahi hanya gara-gara rebutan penumpang. Seorang sopir dan kernet Metromini T 75 jurusan Blok M-Pasar Minggu ditemukan tergeletak tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan. Seorang saksi melihat sopir tersebut sebelumnya saling serobot dengan Metromini yang lain dan kemudian saling kejar. Pertengkaran diakhiri dengan pembunuhan.
Di Jakarta, kejadian seperti itu sangat mudah ditemukan. Koran-koran “kuning” menyajikan beritanya setiap hari. Dalam tingkat yang lebih rendah, sering seorang di antara kit memiliki jiwa hostile. Seorang eksekutif sedang makan malam bersama istrinya di sebuah restoran terkenal. Saat sang pelayan menyajikan makanan, tanpa sengaja telah menumpahkan kopi sehingga membasahi baju sang eksekutif. Sifat hostile-nya langsung mencuat. Sang pelayan hampir saja kena tampar kalau sang istri tidak segera melerai.
Kerasnya persaingan dan musibah yang selalu mendera tanpa dibarengi dengan kesabaran akan membuat seseorang berhati keras. Kekerasan hati akan menjadikan seseorang mudah tersinggung dan melakukan reaksi fisik yang spontan.
Pada zaman sekarang, seseorang melakukan permusuhan tidak hanya karena dilukai orang lain. Tapi diperlakukan baik pun ia tersinggung. Ketika seorang melakukan kesalahan, ada yang mengingatkan ia justru marah. Ada kawan yang umurnya masih muda suatu saat antre membeli bensin untuk motornya. Tiba-tiba ada pengendara lain yang umurnya sudah agak tua menyerobot masuk. Kawan kita tadi mengingatkan, “Antre dong Pak!” Orang itu langsung marah. “Ya, saya tahu kalau harus antre. Anak kecil tahu apa!” Tidak kalah galaknya meskipun akhirnya ia mundur juga. “Lho, Bapak dikasih tahu kok malah marah-marah,” sahut kawan tadi. “Memangnya kenapa. Kamu nantang, ya?” Sambil menyingsingkan lengan bajunya. Untuk saja ada yang melerai dan berkata pada kawan tadi, “Sudahlah Dik, mengalah saja. Toh dia sudah mau antre.” Begitulah, kehidupan di ibu kota. Orang mudah tersinggung.
Seseorang yang selalu melalukan perlawanan, harus diberikan rasa empati yang sangat tinggi. Harus ada seseorang yang legowo memberikan empati padanya sehingga ia sadar. Semakin tinggi hostility (permusuhan)-nya maka semakin besar effort (usaha) empati yang harus diberikan padanya. Namun, karena kepribadian orang tersebut rapuh, harus lebih hati-hati kalau ingin memberikan empati. Alih-alih sadar, ia bisa jadi tambah mengamuk dan rusaklah suasana.
Contoh yang paling ekstrem atas masyarakat yang hostile adalah masyarat tempat para nabi menyeru. Hampir semua nabi tidak diterima bahkan dimusuhi di negeri sendiri. Rasulullah saw. pun tidak kurang permusuhan dan ancaman yang beliau terima dari kaum Quraisy. Mereka tidak saja menolak Rasulullah, tetapi juga menyakiti, memboikot, mengancam, menyiksa, dan membunuh. Bahkan, ketika Rasulullah pergi ke Thaif minta pertolongan, mereka justru mengusir dan melemparinya. Juga ketika beliau berdakwah di Madinah. Meskipun beliau sebagai kepala negara, namun tidak berarti mudah menyebarkan Islam. Kalangan Yahudi dan Nasrani di Madinah memusuhinya dengan gencar.
Ada sebuah riwayat yang menarik. Kisah ini menunjukkan betapa hostile orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad saw. dan betapa bijak bestari Rasulullah mengatasinya. Kisah pertama sebagai berikut.
Di sudut pasar kota Madinah ada seorang pengemis Yahudi yang buta. Ia setiap hari selalu berkata, “Wahai Saudaraku, janganlah kalian mendekati Muhammad. Dia itu orang gila. Dia pembohong. Dia adalah tukang sihir. Jika kalian mendekatinya pasti kalian akan dipengaruhinya.”
Setiap pagi Rasulullah mendatanginya dengan membawa makanan dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah saw. melakukannya hingga menjelang beliau wafat. Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abu Bakar berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah istri Nabi. Beliau bertanya kepada anaknya, “Wahai anakku, adakah sunnah Rasulullah yang belum aku laksanakan? Aisyah menjawab, “Semua sudah engkau kerjakan, hanya ada satu sunnah.” Abu Bakar bertanya, “Apakah itu?” Aisyah menjawab, “Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.”
Keesokkan harinya Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa menyuapimu.” Pengemis itu berkata, “Bukan. Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tetapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan kepadaku dengan mulutnya sendiri.”
Abu Bakar tak dapat menahan air matanya. Ia mangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah.” Begitu mendengar penjelasan Abu Bakar tersebut pengemis itu pun langsung menangis. “Benarkah?” katanya. “Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi tanpa pamrih. Ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi tersebut akhirnya bersyahadat dan memeluk Islam di hadapan Abu Bakar.
Kisah kedua, masih dengan orang Yahudi di Madinah.
Setiap hari orang Yahudi satu ini selalu mengejek Rasul, kadang melemparinya dengan batu. Tapi Rasulullah tidak membalasnya. Suatu hari, Yahudi ini tidak kelihatan batang hidungnya. Rasulullah pun heran. Ia bertanya ke sana kemari menanyakan ihwal orang Yahudi yang selalu menganggunya itu. Akhirnya ia mendapat kabar bahwa anaknya sakit. Rasulullah kemudian datang ke rumah orang teresebut dan membawakan makanan bagi anaknya yang sakit itu.
Ketika datang, Yahudi tersebut demikian kaget. Ia tidak menyangka Rasulullah yang tiap hari di ejek dan lempari batu, ternyata menjenguk anaknya yang tengah sakit. Saudara dan kaumnya sendiri pun tidak ada yang menengoknya. Rasulullah datang menyampaikan makanan dan berdoa agar anak tersebut sembuh. Lalu Rasulullah bersabda kepada anak yang sakit itu. “Masuklah Islam!” Sang anak kemudian berpaling kepada Bapaknya, seakan-akan meminta izin. Akhirnya sang Bapak mengatakan, “Aathi’ Abal Qasim. Ikutlah apa yang dikatakan Muhammad!” Akhirnya anak tersebut sembuh dan masuk Islam.
Menyikapi orang-orang tindisan memang perlu mencontoh Rasul. Sebagai panduan, orang-orang tersebut harus diajarkan tiga hal. Pertama, memberikan maaf kepada orang yang menyakitinya. Orang-orang tindisan biasanya mendapatkan penyakitnya gara-gara dia disakiti fisik maupun hatinya. Ia menjadi patah arang, apalagi orang yang menyakitinya sama sekali tidak merasa bersalah. Jadilah ia orang tindisan. Maka, kita harus mengajarkan akhlak Islam yang pemaaf. Seperti Rasulullah ketika dilempari kotoran unta oleh penduduk Thaif dan malaikat Jibril menawarkan bantuan untuk menghancurkan mereka dengan mengangkat serta menimpakan Bukit Uhud, beliau berkata, “Jangan! Mereka menolakku karena belum tahu.” Rasulullah memberikan contoh bagaimana akhlak Islam yang pemaaf, seperti juga dalam riwayat di atas.
Kedua, memberikan sedekah bagi orang yang pelit kepadanya. Kadang seseorang menjadi apatis karena ketika seseorang dimintai bantuan, ia tidak memenuhinya. Padahal ia sangat membutuhkan dan ia tahu orang yang dimintai bantuan tidak kesulitan untuk mengeluarkannya. Orang tindisan seperti ini harus diajarkan akhlak Islam yang pemurah. Islam mengajarkan untuk bersedekah kepada siapa saja. Termasuk kepada orang yang pelit terhadap dirinya. Bukan untuk sombong dan membalas dendam, namun kita ingin memberikan contoh akhlak yang baik dalam Islam.
Ketiga, menyambung tali silaturahmi bagi orang yang memutuskan hubungan. Orang tindisan ada yang disakiti dengan diusir atau didiamkan oleh seseorang. Terhadap orang ini kita harus mengajarkan bagaimana Islam menganjurkan menjalin tali silaturahmi, terutama kepada orang yang pernah memutuskannya. Silaturahmi dalam ajaran Islam merupakan pokok akhlak yang penting karena bermuara ke akhlak-akhlak yang lain.
Ketiga sikap tersebut tidak gampang disarankan kepada orang tindisan. Namun, dengan beratnya perbuatan tersebut maka akan didapat ketinggian akhlak bagi orang tersebut. Ia tidak saja sembuh dari sakit emosional-spiritual, namun juga mengukuhkan dirinya sebagai orang yang mulia. Orang yang mempunyai akhlakul karimah.
* * * |