Bab IV
Kebiasaan Seorang Muslim yang Efektif
“ Kita adalah Apa yang Kita lakukan Secara Konsisten.” (Aristoteles)
Tingkah laku kita adalah kebiasaan kita. Bahasa Inggris menyebutkan dengan habit, yaitu sesuatu yang dilakukan berkali – kali. Aristoteles mendefinisikan manusia berdasarkan kebiasaannya. Artinya kalau ia tidak mempunyai perilaku yang jelas maka ia tidak termasuk manusia. Barang kali zaman Aristoteles hidup orang yang mempunyai pendirian plin plan atau mencla – mencle belum banyak. Sementara zaman sekarang orang tidak sedikit, di mana pun mudah di temukan terutama para politisi. Dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Mutalawin. Artinya orang suka berubah kepribadiannya. Orang yang berkepribadiannya berganti – ganti. Orang yang seperti bunglon seperti itu tidak difenisikan sebagai manusia oleh Aristoteles.
Dr. Steven Covey, seseorang super trainer yang melejit lewat karyanya Seven Basic Habits of Highly Effective People menyebut ada tujuh kebiasaan yang dilakukan oleh orang – orang yang efektif. Aktifitas – aktifitas yang biasa di lakukan oleh orang efektif hidupnya.
A. Proactive
Kadang orang salah mengartikan proaktif dengan aktif. Aktif berbeda dengan proaktif. Proaktif adalah sutau sikap dimana setiap peristiwa (stimulus) yang datang kepada seseorang diolah terlebih dahulu sebelum di respons. Lawan dari proaktif adalah reaktif. Begitu ada kejadian langsung bereaksi tanpa di pikir atau di pertimbangkan terlebih dahulu. Sementara dari lawan aktif adalah pasif. Orang proaktif adalah orang yang selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Orang yang mengukur kain dahulu senbelum memotongnya. Bahkan mungkin ia mengukurnya dua kali untuk memotong sekali. Kadang pengolahan stimulus satu orang dengan orang lain berbeda. Ada yang cepat ada yang lambat. Ada yang tepat ada yang salah.
Orang yang memberikan respons dengan capat dan tepat setelah mengolah stimulus adalah mereka yang hebat. Tindakannya tersebut tidak seketika terjadi begitu saja tapi karena latihan yang berulang – ulang. Ia sudah terbiasakan melakukannya. Jadi, apabila ingin menjadi seorang proaktif, harus di biasakan untuk proaktif. Seseorang yang tidak pernah berpikir sebelum berbicara atau bertindak akan kesulitan tatkala ia mencoba melakukan hal itu. Proaktif merupakan suatu habit. Dan, habit karena merupakan suatu kebiasaan yang di lakukan berulang- ulang maka ia merupakan sebuah respon spontan. Spontanitas tanpa kebiasaan mustahil terjadi.
Orang yang proaktif adalah orang yang cerdas. Dia tak tergesa-gesa dalam berbuat, meskipun ukuran tergesa-gesa itu relatif. Seorang muslim dituntut menjadi orang yang proaktif. Nabi saw. Menjelaskan sifat – sifat proaktif dengan bahasanya,
“Seorang mukmin itu pandai, cerdik, waspada, hati – hati, teguh, pemberani, tidak tergesa – gesa, berilmu dan sederhana dalam hidupnya.” (Hr Dailami)
B. Think End in Mind
Bagi seorang yang efektif, memikirkan tujuan akhir adalah sebuah kebiasaan. Apabila ada sebuah persoalan ia akan melihat bagaimana akhir permasalahannya. Akhirnya dipegang, kemudian di tarik kebelakang. Dalam realitas kehidupan, Covey menanyakan pada diri kita, “Apakah yang kita lakukan apabila di beri umur oleh Tuhan sampai usia 70 tahun?” Kita kemudia merencanakan dengan usia 70 tahun tersebut kita akan melakukan apa saja. Kemudian waktunya dipersingkat, bagaimana 60 tahun? Bagaimana kalau 40 tahun? Bagaimana kalau lima tahun akan datang? Bagaimana kalau tahun depan? Dari waktu – waktu yang ditawarkan tentu akan berbeda perbuatan yang akan kita lakukan. Yang paling baik tentu yang merencanakan besok akan mati. Sedang Rasulullah saw. pernah bersabda,
“Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu akan hidup selamanya. Beribadalah untuk akhiratmu seolah – olah akan mati besok.”
Inti dari hadis di atas adalah “think end of mind”. Seseorang harus merencanakan sesuatu yang terbaik dengan membuat jadwal untuk menyelesaikannya.
C. Put First Things First
Apabila kebiasaan kedua adalah ciptaan mental (psikis) maka kebiasaan ketiga ini merupakan ciptaan fisik. Maksudnya adalah bagaimana cara melaksanakan kebiasaan kedua. Inti kebiasaan ketiga ini adalah prinsip prioritas. Seseorang apabila ingin efektif harus mempunyai prioritas dalam mengerjakan sesuatu, mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu mana yang bisa dilakukan belakangan. Fokus pentingnya adalah mengatakan “tidak” untuk hal yang tidak penting.
Seorang yang efektif dalam bertindak akan membiasakan dirinya dengan hal-hal yang penting saja dan bukan hal-hal yang genting. Ada empat kuadran dalam kategori kebiasaan seseorang berkaitan dengan manajemen waktu.
- Kuadran perama atau kiri atas adalah orang yang selalu mengerjakan pekerjaan yang penting tapi genting (important and urgent). Maka orang seperti itu akan stress, sering mengalami keletihan dan selalu melakukan manajemen krisis.
- Kuadran kedua atau kiri bawah adalah orang yang selalu melakukan pekerjaan yang tidak penting tapi genting (not important but urgent). Orang seperti ini tipe-tipe orang yang fokusnya jangka pendek, manajemen krisis, menganggap tujuan dan rencana tidak berharga serta mempunyai karakte bunglon.
- Kuadran ketiga atau kanan bawah adalah orang yang melakukan hal-hal yang tidak penting dan tidak genting (not important, not urgent). Orang seperti ini parah karena sama sekali tidak bertanggung jawab, bergantung pada orang lain untuk hal-hal sepele dan pasti kontraproduktif. Orang seperti ini adalah orang yang dipecat dari pekerjaan karena tidak perform (tidak cakap kerja).
- Kuadran keempat atau kanan atas adalah orang yang punya kebiasaan selalu mengerjakan pekerjaan penting tapi tidak genting (important but not urgent). Berbahagialah orang yang selalu melaksanakan pekerjaan seperti di kuadran ini. Orang tersebut pasti mempunyai visi dan perspektif, keseimbangan hidup, disiplin, tidak alergi terhadap krisis dan dapat mengontrol diri.
Menurut Covey, orang yang tidak mempunyai tujuh sifat orang yang efektif tersebut pasti akan tergantung kepada orang lain (dependent). Sementara, kalau sudah memiliki tiga sifat pertama, maka ketergantungan tersebut akan hilang. Ia menjadi seseorang yang mandiri (independent) atau bebas menentukan “nasibnya” sendiri. Tiga kebiasaan awal tersebut merupakan kebiasaan yang berkaitan dengan diri pribadi. Apabila berhasil mengamalkan tiga kepribadian tersebut maka ia telah mendapatkan kemenangan pribadi.
Ketiga kebiasaan yang berikutnya adalah kebiasaan yang berkaitan dengan publik atau orang lain. Yang keempat adalah win win (selalu berpikir sama-sama menang). Artinya selalu mengutamakan orang lain tanpa menyengsarakan diri sendiri. Apabila ada permasalahan selalu diambil penyelesaian yang adil sehingga tidak ada yang kalah, tapi semua menang karena prinsip keadilan.
Kebiasaan kelima adalah berusaha memahami sebelumnya minta dipahami (understand to be understood). Kebiasaan seperti ini yang sekarang jarang kita temukan. Banyak orang ingin dipahami oleh orang lain tapi ia tidak berusaha memahami orang lain. Orang berbicara demokrasi dan kebebasan, tapi perbuatannya merusak kebebasan orang lain. Ia ingin diistimewakan sementara orang lain tidak boleh istimewa. Prinsip understand to be understood ini penting diterapkan agar dunia menjadi damai.
Kebiasaan keenam adalah mewujudkan sinergi. Yaitu menjalin kerja sama saling menguntungkan dengan manusia yang lain. Ia berusaha menciptakan kekuatan yang dsayat dengan merapatkan barisan bersama orang lain. Sebab, dengan sendiri ia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Setelah melakukan sinergi maka kekuatan yang besar akan terwujud. Kebiasaan atau sifat seperti itulah yang dipuji Allah dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur
seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.” (ash-Shaff:4)
Ayat diatas mengindikasikan kita harus bersinergi agar tujuan kita tercapai. Sebab dengan rapinya barisan, dengan kukuhnya persatuan maka setiap persoalan akan mudah dihadapi. Seseorang yang sudah mempunyai tiga kebiasaan terakhir ini tidak saja menjadi orang yang mandiri (independent) tapi juga memiliki ketergantungan dengan sesame (interdependent). Kebiasaan inilah yang akan membuat seseorang tersebut efektif, baik yang menyangkut pribadinya maupun hibungannya dengan orang lain.
Kebiasaan ketujuh adalah kebiasaan membiasakan keenam kebiasaan di atas. Ibaratnya adalah mengasah gergaji (sharpening the saw). Enam kebiasaan di atas bukan sekadar pisau dapur, tapi sebuah pedang atau kapak yang sangat kokoh. Senjata tersebut tidak akan berarti kalau tumpul. Kebiasaan mengasah gergaji adalah menjadikan stamina senantiasa kuat. Seumpama pedang tidak pernah tumpul. Jadi, kebiasaan-kebiasaan itu harus selalu diasah dengan melakukan latihan-latihan untuk memberikan efek spontanitas.
Seorang muslim harus membangun kebiasaan-kebiasaan yang baik. Dalam Islam kebiasaan bisa disebut dengan akhlak. Sebagaimana habit, akhlak merupakan respons spontan. Seseorang yang sudan terbiasa bersifat jujur akan ketahuan apabila ia berbohong sekali. Demikian pula, dengan orang yang tukang bohong akan susah sekali apabila ia berkata jujur.
Seperti kita ketahui akhlak ada yang baik (akhlakul karimah), ada pula yang buruk (akhlakul madmumah). Seorang muslim tentu harus sering mengasah kebiasaan-kebiasaan yang baik, sebab akhlakul karimah tidak akan terjadi begitu saja.
Sebagai contoh, kebiasaan baik yang merupakan respons spontan ini tercermin dalam penuturan seorang eksekutif dari sebuah perusahaan multinasional di dalam negeri. Suatu ketika ia harus melakukan deal bisnis dengan perusahaan raksasa dari Amerika Serikat. Pimpinan perusahaan untuk wilayah Asia Pasifik tersebut belum merasa yakin proyeknya akan sukses dikerjakan oleh seorang pribumi. Maka diaturlah pertemuan disebuah lobi hotel berbintang di Jakarta. Saat waktu yang ditentukan tiba, kawan eksekutif ini dengan ramah menyalami tamunya dan duduk di sebuah kursi. Tatkala jari tangannya menyentuh ujung gagang kursi yang ia duduki secara tidak sengaja tangannya menyentuh permen karet bekas yang diletakkan oknum tak bertanggung jawab di bawah pegangan kursi tersebut. Kawan kita ini langsung tersentak dan spontan ia mengerat-ngerat permen karet untuk melepaskannya dari kursi tersebut.
Meskipun peristiwa tersebut berlangsung tidak lama namun membuat ia sadar bahwa ia telah membiarkan tamunya tanpa dialog selama beberapa waktu. Ia pun kemudian memohon maaf. Sang tamu juga agak heran mengapa kawan kita seperti agak sedikit linglung. Akhirnya berterusteranglah dia bahwa ada permen karet di kursi yang diletakkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
“Saya tidak mau orang lain mengalami nasib buruk seperti saya sehingga saya langsung bersihkan kursi ini dari permen karet tersebut. Izinkan saya membuang permen karet ini dan pergi ke toilet untuk mencuci tangan? “ jelas kawan itu.
“Silakan,” kata tamunya.
Segera setelah selesai kawan kita itu kembali menemui tamunya. Secara tak disangka-sangka tamunya berkata,
“Sungguh luar biasa. Saya tidak pernah melihat orang seperti Anda. Anda mau berkorban untuk keselamatan diri orang lain, meskipun untuk hal-hal yang kecil. Apakah itu biasa Anda lakukan?”
Kawan kita menjawab dengan datar, “Saya seorang muslim dan agama yang memerintahkan yang demikian. Dan, saya melakukannya spontan saja. Jadi mohon maaf kalau mengganggu jalannya pertemuan ini.”
“Tentu tidak. Justru saya ingin mengatakan bahwa saya berharap Anda mau mengerjakan proyek ini,” kata tamu teresebut sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Saya merasa aman dan yakin proyek ini dikerjakan oleh orang seperti Anda hasilnya akan baik,” lanjutnya sambil mengakhiri pertemuan.
Bayangkan, hanya sebagian kecil akhlak Islam yang terpancar dari kawan kita tadi mampu menghasilkan proyek jutaan dollar dengan transaksi yang cepat dan mudah. Kuncinya tentu tidak sekadar akhlak mulia tersebut tapi spontanitas perbuatan tersebut. Sebab sekali lagi, akhlak adalah respons spontan yang tidak bisa diatur terlebih dahulu. Seseorang yang tidak punya akhlak, tidak seperti kawan kita tadi, andaikan menskenario dan mendramatisasi adanya permen karet di kursi, kemudian membersihkannya dan menyampaikan hal tersebut kepada sang tamu, kemungkinan besar tidak akan berhasil meyakinkan rekan bisnisnya. Sebab pada respons spontan terkandung sebuah keikhlasan dalam melaksanakannya.
Dalam membangun suatu kebiasaan (akhlak) yang baik ada empat sifat yang harus dimiliki seseorang. Bagi seorang muslim sifat-sifat inilah menjadikannya seprang yang efektif baik dari kacamata manusia maupun Tuhan. Artinya, di samping secara pergailan ia menyandang predikat muslim yang berakhlak mulia, di mata Allah ia mendapatkan pahala yang tiada terkira dengan akhlaknya itu.
D. Ikhlas
Sifat yang pertama adalah ikhlas. Artinya segala sesuatu yang ia kerjakan hanya ditujukan untuk mendapatan ridha-Nya dan ia pun ridha terhadap apa yang terjadi terhadap-Nya. Hanya kepada-Nya ia bergantung. Dampak sifat ini adalah, ketika ia mengerjakan sesuatu maka perasaannya nothing to loose, tidak ada pretense apa-apa kecuali untuk kebaikan. Ia rela mengerjakan sesuatu meskipun berat tanpa ada upah apa-apa kecuali mengharapkan upah hanya dari Allah. Aspek lain dari ikhlas adalah ia selalu siap dengan amal baiknya. Seseorang kadang harus mengerjakan sesuatu pekerjaan secara mendadak atau berencana. Menghadapi setiap peristiwa yang muncil di hadapannya harus siap.
Sedangkan akhlak merupakan aktivitas yang spontan. Ibaratnya, karena selalu biasa dilakukan maka orang tidak lagi berpikir sebelum mengerjakannya. Kebanyakan peristiwa yang dihadapi adalah peristiwa yang terjadi mendadak. Meskipun kadang kita sudah merencanakan sesuatu, ternyata perkiraannya berubah maka kita harus siap dengan perubahan itu.
Ada lagi seseorang eksekutif yang mempunyai akhlak baik yaitu dermawan. Suatu ketika ia beserta istri menghadiri suatu undangan perkawinan. Dari rumah ia sudah menyiapkan amplop berisi uang untuk disumbangkan kepada mempelai. Saat selesai mamarkir mobilnya dan berjalan menuju gedung resepsi, dijumpainya beberapa pengemis yang sungguh mengenaskan, datang untuk meminta sedekah. Kehadiran pengemis yang mendadak di luar perkiraan itu secara spontan menyulut rasa kedermawanannya. Dengan bismillah maka uang yang rencana untuk sang pengantin diberikan kepada sang pengemis. Kawan eksekutif ini merasa toh sang mempelai sudah banyak yang menyumbang, lagi pula mereka dari keluarga kaya. Pengemis ini jauh lebih membutuhkan uang itu daripada sang mempelai. Ia pun tidak malu ketika menulis namanya di buku tamu tidak memasukkan amplop di meja penerima tamu. Peristiwa seperti ini spontan saja terjadi. Ia tidak mendramatisasi karena memang tidak ada orang lain yang berada di sana kecuali istrinya dan sang pengemis tadi. Ia tidak mengharapkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Di sinilah pentingnya ikhlas sehingga kebiasaan dermawan ini bisa menjadi respons spontan.
E. Qalbun Salim
Sifat kedua yang harus dimiliki agar akhlak yang baik menjadi kebiasaan adalah qalbun salim atau hati yang selamat. Pengeritan hati yang selamat tentu luas sekali. Tapi intinya adalah sama dengan apa yang disebut Rasullah dengan ciri-ciri orang yang beruntung. Sebagaimana yang pernah beliau sampaikan dalam haditsnya cirri-ciri orang yang beruntung ada empat. Pertama, selalu melupakan amal kebaikannya agar tidak menjadikannya sombong. Kedua, selalu mengingat dosa-dosa yang telah dilakukannya agar terhindar dari melakukan dosa lagi. Ketiga, selalu melihat ke bawah untuk urusan duniawi agar ia selalu bersyukur masih ada orang yang lebih sengsara daripada dia. Keempat, selalu melihat keatas dalam urusan akhirat agar terpacu untuk giat melakukan ibadah.
Seseorang yang memiliki qalbun salim juga selalu ingat kebaikan yang dikerjakan orang, baik kepadanya maupun kepada orang lain. Sifat ini akan menjadikan ia selalu khusnuzhan (positive thinking) terhadap sesama. Ia juga sering mengingat kekurangan diri sendiri agar menjadi rendah hati dan selalu mengembangkan diri (improvement). Setiap peristiwa yang menimpa dirinya menjadi lading ilmu. Artinya ia akan menjadikan setiap peristiwa merupakan pengalaman yang berhargabaginya. Ia akan mengevaluasi setiap kejadian sehingga di waktu yang akan datang bisa menjadi lebih baik. Selain itu, peristiwa yang menimpa dirinya, ia akan selalu beramal kebaikan semampunya. Apabila ada kecelakaan maka ia akan segera bergegas memberikan bantuan meskipun ia bukan seorang dokter. Ia akan berjuang keras membantu orang yang tertimpa musibah tersebut. Dengan sifat qalbun salim ini maka akan terlahir sifat empati pada diri seseorang. Apabila berinteraksi dengan orang lain ia akan dapat meraba isi hati, keinginan atau maksud kawannya. Ia akan pandai membuat senang hati siapa saja yang berinteraksi dengannya.
F. Cerdas
Sifat ketiga adalah cerdas. Sifat cerdas tidak semata diartikan mempunyai otak yang encer atau pandai. Tidak sekadar pandai ilmu matematika, kimia, fisika, computer atau bidang eksakta lainnya. Bahasa yang sering kita kenal adalah cerdas intelektual atau Intellectual Quotient (IQ). Dulu kita menyangka kecerdasan otak inilah yang menjadi kesuksesan sifat seseorang. Ternyata tidak demikia. Diperlukan kemampuan atau sifat untuk memahami apa-apa yang terjadi dihadapannya, baik berupa peristiwa maupun orang yang sedang dihadapi. Sifat bisa memahami sesame ini sangat penting bagi terciptanya kebiasaan yang baik. Dia berupa rasa empati dan simpati kepada orang lain, yang dalam bahasa sekarang disebut dengan Emotional Quotient (EQ) alias kecerdasan emosi. Isitilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Daniel Goleman paa tahun 1995.
Kecerdasan emosi pun rasanya belum cukup untuk menjadi muslim yang ideal. Perlu satu kecerdasan satu lagi yang oleh Danah Zohar dan Ian Marshall pada tahun 2000 disebut dengan kecerdasan spiritual atau Spritual Quotient (SQ). Dalam Islam disebut dengan kecerdasan kalbu alias kebersihan hati. Kita sudah tahu dari kebersihan hati akan melahirkan sifat-sifat mulia, baik di untuk diri sendiri, di hadapan manusia dan di hadapan Tuhan. Sifat mulia tersebut termasuk diantaranya adalah berpengharapan (raja’) ingin selalu maju (willingness to learn) dan tidak kalah penting seseorang yang cerdas juga harus pemalu. Malu (haya’) untuk berbuat maksiat atau keburukan di hadapan orang atau sendirian.
G. Komunikatif
Sifat terakhir yang harus dimiliki seseorang agar mempunyai akhlak yang baik adalah komunikatif. Seseorang bisa saja mempunyai seven habits ala Steven Covey. Ditambah lagi ia mempunyai hati yang ikhlas, qalbun salim dan cerdas. Namun apabila semua itu tidak dikomunikasikan dengan baik maka hubungan interaksi dengan manusia lain barangkalo akan macet. Bahkan tidak mustahil terjadi kesalahpahaman (misunderstanding). Oleh karena itu, seseorang perlu melakukan komunikasi dan mempunyai sifat yang komunikatif.
H. 5 S
Sifat komunikatif ini bisa dijalin, sebagaimana pernah disampaikan dai kondang Aa’ Gym, dengan mengkombinasikan lima sifat yang disingkat dengan 5S, yaitu senyum, salam, sapa, sopan dan santun.
Pada diri Rasulullah saw. kelima sifat tersebut jelas terpancar. Beliau sering mencontohkan akhlak yang baik dengan komunikasi yang baik. Misalnya pada saat beliau menganjurkan untuk selalu tersenyum, beliau memberikan dorongan kepada umatnya dengan menyatakan senyum adalah sedekah.
“Senyum seorang muslim terhadap saudarnya adalah sedekah.”
Di tengan udara kota yang kotor, pengap dan penuh amarah ini maka senyum kadang-kadang menjadi barang yang mahal. Seorang muslim yang komunikatif akan selalu tersenyum ketika bertemu orang, baik dikenalnya maupun tidak. Senyum dalam beberapa hal menjadi pencair suasana (ice braker) ketika dua orang bertemu.
Rasulullah saw. juga menyarankan untuk selalu menyampaikan salam. Baik ketika bertemu atau ketika tidak bertemu dengan menitipkannya kepada orang lain. Meskupun barangkali sepele, sekadar berkata “Assalamu’alaikum” ternyata mempunyai dampak yang hebat. Manusia akan melihat karakteristik yang kuat pada diri orang tersebut. Juga akan mencairkan suasana yang sedang menegang yang tidak bisa cair hanya dengan senyum semata.
Seorang karyawan di kantor memberikan nasihat kepada temannya yang akan menikah. Ia menularkan pengalaman pribadinya kepada sang calon mempelai. Katanay, “Nanti kalu rumah tanggamu sudah berjalan beberapa lama, bentrokan antara suami dan istri, sebagai bumbu kehidupan berumah tangga biasanya ada saja terjadi. Itu hal yang biasa, lumrah. Kalau engkau bertengkar dengan istrimu sehingga menyebabkan ia mendiamkanmu maka ada cara terbaik untuk membuat ia mau berbicara kembali kepadamu. Ucapkan, “Assalamu’alaikum” kepadanya. Pasti ia akan menjawab. Baru mulailah engkau membujukknya untuk berkomunikasi kembali.”
Ternyata memang setelah kawan tadi menikan beberapa lama pertengkaran pun terjadi. Dan, sang istri mendiamkannya. Seketika ia ingat nasihat kawannya dan langsung ia mengucapkan salam kepada istrinya. Akhirnya, sang istri menjawab salam sambil tersenyum dan pertengkaran pun berakhir. Itulah kehebatan salam.
Rasulullah juga menyebutkan bahwa salam bisa menumbuhkan rasa cinta diantaran sesama. Sabda beliau,
“Demi Zat yang diriku dalam tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang membuat kalian saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian.” (HR Tirmidzi)
Demikianlah, salam merupakan refleksi cinta. Memberikan salam kepada suatu majelis sama dengan kita mencintai orang-orang yang hadir dalam majelis itu. Oleh karena itu, jangan anggap enteng salam dan ucapkanlah sesering mungkin dengan perasaan ikhlas.
Sapa dalam bahasa sehari-hari adalah mengur saudaranya dengan menanyakan kabar diri atau keluarganya. Aktivitas sapa ini juga kelihatannya sepele. Seseorang bertemu dengan kenalannya, ia pertama kali tersenyum dan begitu dekat ia mengucapkan salam. Setelah berjabat tangan ia menanyakan kabar kawannya seputar kesehatan atau aktivitasnya selama ini. Tak lupa ditanyakan pula keluarga atau kawan-kawan yang dikenalnya. Sapaan yang spontan dan tidak basa-basi ini akan menjalin persaudaraan atau bersahabatan yang lebih erat. Semua sifat yang dimiliki orang tersebut akan terepresentasi pada sapaan tersebut. Dilanjutkan dengan hubungan selanjutnya sesuai dengan urusannya masing-masing.
Terakhir, sopan dan santun. Biasanya pengertian keduanya disamakan. Ada pula yang membedakannya antara lain kalau sopan berkaitan dengan tingkah laku sedang santun berkaitan dengan bahasa atau tutur kata yang diucapkan. Sopan santun adalah sifat pada saat komunikasi itu sendiri berlangsung. Setelah senyum, salam dan sapa, interaksi dilanjutkan dengan komunikasi baik perkataan maupun bahasa tubuh. Tingkah laku dan perilaku saat komunikasi juga sangat berpengaruh terhadap akhlak seseorang. Bila aspek 3S sudak dilaksanakan, tapi gagal di 2S terakhir maka predikat akhlakul karimah tidak bisa disandang. Misalnya seorang pemuda bertemu dengan orang yang jauh lebih tua. Meskipun tutur katanya bagus (santun) tapi apabila tingkah laku dan lagaknya tidak sopan maka lawan bicara akan mempunyai kesan yang kurang baik. Misalnya terlintas di benak orang tua tersebut, “Ini anak kok nggak sopan banget sih, ngadepin orang tua kok berkacak pinggang. Memang dia siapa?” Sekali lagi, komunikasi 5S ini penting untuk membangun sifat-sifat baik yang sudah kita punyai.
Diharapkan, seorang muslim mempunyai kebiasaaan atau akhlak yang islami, efektif di mata manusia maupun Tuahnnya. Akhlak Islam adalah akhlak yang baik menurut ajaran agama, dimiliki, dipraktikkan dan dikomunikasikan dengan baik. Aspek terakhir (komunikasi), meskipum kadang sepele sangat besar pengaruhnya bagi hubungan pergaulan antarmanusia. Kadang orang tidak berakhlak baik tapi ia seorang komunikator yang baik, orang lain bisa terkecoh dengan menganggap orang tersebut berakhlak baik.
Demikian pula, kelemahan para aktivis Islam, mereka mempunyai perangai yang baik karena taat melaksanakan ajaran agama. Namun payah dalam soal komunikasi. Jadi, mereka terkesan menjadi orang yang asing di tengah-tengah masyarakat. Padahal akhlak mereka baik.
Abdullah al-Khathir mengungkap fenomena itu dalam bukunya Fannut Ta’amul Ma’an Naas yang menyatakan bahwa sebagian aktivis Islam sering dikenal sebagai orang yang asing dimasyarakatnnya. Namun ironisnya, kadang hal itu justru menjadi kebangaan tersendiri bagi mereka. Mereka mendasarkan perbuatannya tersebyt dengan sebuah hadits Rasul yang berbunyi,
“Islam itu datang dengan dikucilkan dan akan kembali terkucil. Berbahagialah orang-orang yang terkucil.” (HR Muttafaq alaih)
Itulah dalil yang sering dikemukakan. Tapi apakah memang seperti itu. Menurut analisis al-Khathir ternyata banyaknya kasus terkucilnya para aktivis ini muncul akibat minimnya pengetahuan mereka tentang masalah komunikasi tadi. Bahasa al-Khathir adalah mereka tidak memahami ‘seni bergaul’ di masyarakat sehingga kaku dalam bergaul. Akibatnya akhlak yang sudah baik tersebut tidak terkomunikasikan dengan baik pula. Aspek 5S yang sebenarnya sungguh sederhana tersebut ternyata menjadi faktor penting dalam pergaulan.
Seorang muslim yang merupakan umat terbaik menurut Al-Qur’an harus mempunyai kebiasaan yang efektif, baik versi Barat (Steven Covey) maupun versi Islam. Sebab keduanya akan bermanfaat untuk pergaulan dan catatan amal. Kebesaran Islam tergambar dalam akhlak yang mulia dalam diri seorang muslim. Apa pun isu yang tengah merebak, apakah soal terorisme, fanatisme, atau ekstrimisme, semua akan pudar apabila berhadapan lansung dengan seorang muslim yang berakhlakul karimah. Sehingga tatkala seseorang berinteraksi dengan seorang muslim akan terlontar ucapan, “Ternyata Islam adalah agama yang mulia.”
* * *
|