Bab III
Segitiga Sukses Kehidupan
Dalam sebuah seminar yang membahas potensi bangsa, seorang eksekutif yang menjadi pembicara ditanya. Apakah kiat yang dimilikinya sehingga eksis sampai sekarang ? Potensi diri apa yang harus digali untuk mempertahankan eksistensinya yang prima ?
Eksekutif ini saat berada di puncak melewati berbagai kejadian yang tidak gampang dilalui setiap orang. Mulanya ia seorang direktur di sebuah perusahaan multinasional ternama di negeri ini. Dengan jabatannya itu ia juga dipercaya menjadi direktur di beberapa anak perusahaan. Karier maupun kedudukannya terhormat meskipun bukan pemimpin puncak. Namun nasib bicara lain. Saat itu melalui jalur kekuasaan ada pemegang saham baru yang mengendalikan perusahaan tersebut. Sang eksekutif ternyata tidak begitu disukai oleh pemilik baru. Maka perubahan pun terjadi. Dalam waktu satu hari seluruh jabatannya “dipreteli” tak tersisa. Hanya dalam satu hari ia Cuma karyawan biasa tanpa posisi di perusahaan tersebut. Jabatan dan posisinya dialihkan kepada beberapa rekan maupun orang baru yang masuk ke perusahaan tersebut.
Kawan eksekutif kita ini, seperti yang dituturkannya dalam seminar sama sekali tidak merasa kejadian tersebut bagaikan kiamat telah dating. Baginya nothing to loose. Ia tidak masalah dengan dilepaskannya semua jabatan dari dirinya. Sebab tujuan bekerja buat dia adalah semata-mata untuk ibadah. Jabatan dan posisi hanya efek dari keseriusan kita menjalankan ibadah tersebut. Toh lagi pula gajinya tidak berkurang. Dalam benaknya, malah enak, tidak banyak pikiran. Akhirnya, hikmah sedikit terkuak. Waktu itu krisi ekonomi menjangkiti republic ini. Semua sector terkena imbasnya tak terkecuali perusahaan tempat eksekutif ini bekerja. Buat dia dalam posisinya waktu itu yang tanpa jabatan, masalah krisi perusahaan tentu tidak lagi menjadi tanggung jawabnya.
Mungkin karena kasihan, pemilik baru ini akhirnya memberikan jabatan buatnya. Yaitu bidang yang berkaitan dengan manajemen lingkungan seperti kesehatan dan keselamatan kerja (safety). Mungkin terkesan sebuah jabatan yang diada-adakan untuk seorang eksekutif setinggi kawan kita ini. Bidang itu sering dianggap sebelah mata, apalagi jika diandingkan dengan bidang operasional. Tapi eksekutif ini menerimanya dengan senang hati dan menjalankan bidang ini dengan sebaik-baiknya. Kebetulan, tahub-tahun itu ada kasus pencemaran lingkungan seperti pembakaran hutan yang menyebabkan Indonesia mendapatkan kecaman luar biasa. Akhirnya, eksekutif ini jadi orang penting yang sering keluar negeri untuk menjelaskan kasus-kasus terebut kepada investor di luar.
Ternyata tindakan seseorang untuk menenggelamkan dirinya justru berakibat memunculkan dirinya di taraf yang lebih tinggi. Akhirnya, karena satu dan lain hal eksekutif ini harus keluar dari perusahaan tersebut. Hal ini justru disyukurinya mengingat kondisi di dalam perusahaan sudah tidak kondusif, dan secara materi golden shake hand yang ditawarkan perusahaan untuk pensiun dipercepat sangat menarik. Tentu saja tawaran terebut langsung diterimanya. Meskipun dengan demikian jadilah ia seorang pengangguran.
Ternyata, jabatan yang dulu kurang penting dipeganya sebagai penanggung jawab safety membawa berkah. Sebuah perusahaan safety international di Amerika Serikat mulai mengontaknya. Sang presiden direktur sendiri dari Negeri Paman Sam khusus terbang ke Jakarta untuk “melamar” dirinya bergabung. Akhirnya kesepakatan kerja terjadi. Eksekutif kawan kita ini diangkat menjadi pemimpin perusahaan terebut wilayah Asia Pasifik. Hanya saja ketika bicara masalah imbalan, ternyata gaji kawan kita ini di perusahaan yang lama memang sudah demikian tinggi. Sehingga perusahaan tersebut tidak mampu membayarnya setinggi itu. Namun baginya itu bukan masalah. “That’s OK. No problem,” ujarnya.
“Berapa Anda bisa membayar saya?”
“Yah, barangkali sekitar seperempat dari gaji Anda sekarang.”
“Oke. Tidak masalah. Saya hanya perlu cost of living saja. Saya sudah punya rumah, mobil, dan anak-anak saya sudah lulus kuliah.”
Akhirnya mereka deal. Gaji dalam dolar (karena perusahaan asing), hanya dalam pelaksanaannya di-transfer dalam bentuk mata uang rupiah. Perubahan gaji menjadi seperempat lebih kecil dari sebelumnya tidak membuat kawan kita merasa resah karena materi memang bukan tujuan dari segalanya. Sekali lagi baginya kerja adalah ibadah. Ia hanya berharap aktivitasnya membawa manfaat, minimal buat keluarnya, syukur-syukur bisa bermanfaat pula untuk orang lain.
Rezeki dan nasib memang tidak bisa diterka. Krisis yang tengah berjalan ternuata membuat mata uang dolar yang sebelumnya hanya 2.500-an rupiah melonjak menjadi 15.000-an rupiah. Padahal gaji eksekutif tadi menggunakan rate dolar dan dibayarkan dalam bentuk rupiah. Sehingga hanya dalam selang kurang dari satu tahun, gajinya berlipat-lipat atau menjadi satu setengah kali dari gaji pada saat ia menjabat eksekutif di perusahaan multinasional sebelumbya. Alhamdulillah.
True story yang kemudian dibahas dalam seminar terebut membuahkan suat kesimpulan. Ternyata dalam menjalani kehidupan, ada tiga kunci yng membuat seseorang selalu berhasil. Tiga kunci ini diibaratkan masing-masing sebagai sebuah sudut dalam segitiga sama sisi. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita sebut dengan “Segititiga Sukses Kehidupan”.
Segitiga ini berbentuk sama sisi. Dalam beberapa kondisi ia akan menjulur menuju salah satu sisinya, tapi kemudian akan segera kembali sama sisi dengan tindakan sisi atau sudut lain sebagai penyeimbang. Jadi, dalam kondisi normal segituga tersebut sama sisi. Pada saat terjadi suatu peristiwa, apakah peristiwa tersebut positif atau negative, bentuk segitiga akan berubah tak beraturan. Namun tak beberapa lama akan kembali normal karena ada satu titik tumpuan yang mengontorl. Lebih jelasnya kita akan uraikan satu per satu ketiga sudut tersebut.
A. Kunci Pertama: Khusnudzan
Menurut sang eksekutif, kunci pertama sukses adalah khusnudzan ‘berprasangka baik’ terhadap Allah. Apa pun yang menumpa diri kita, apakah baik atu buruk maka itulah yang terbaik bagi kita menurut-Nya. Bahkan ia tidak peduli lagi apakah yang menimpa dirinya sesuatu yang baik atau buruk. Yang ada dalam benaknya adalah bekerja sebaik mungkin dan ia hanya berharap pahal adari Allah semata. Dengan demikian, pasti yang diberikan Allah padanya adalah hal-hal yang baik, meskipun kadang menurut ukuran manusia belum tentu. Memang tidak mudah untuk menerima segala sesuatu yang terjadi adalah terbaik buat kita karean terbatasnya kemampuan manusia. Semua itu karena manusia tidak tahu dibalik semua peristiwa yang menimpa dirinya. Al-Qur’an sendiri menyatakan,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu
padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah : 216)
Apabila kita sudah menetapkan diri kita di garis-Nya, dan tujuan kita beraktivitas adalah sebagai ibadah semata, maka apapun yang diberikan Allah kepada kita adalah yang terbaik buat kita. Kadang manusia menganggap yang terbaik buat dia adalah segala sesuatu yang menguntungkan baginya saja. Sementara yang berupa musibah adalah hal yang buruk baginya. Hal tersebut memang manusiawi. Namun, seorang muslim tidak seyogianya berprasangka buruk bahwa Allah memberikan seseuatu yang kurang baik bagi hamba-Nya yang taat. Kalau kita sudah di dalam rel-Nya maka ‘baik atau buruk’ adalah baik. Allah Mahatahu dan kita sama sekali tidak tahu hakikat di luar suatu peristiwa.
Sebagaimana kasus yang menimpa sang eksekutif tadi, dicopot dari berbagai jabatan di beberapa perusahaan bukanlah hal yang buruk baginya. Sementara beberapa rekannya memberikan komentar, “Habislah riwayat Bapak itu,” dengan nada yang sungguh menyedihkan. Bahkan tidak sedikit yang menyatakan rasa sedihnya kepada beliau dengan peristiwa itu. Padahal yang bersangkutan sendiri tidak merasakan ada masalah. Dengan lepasnya jabatan-jabatan tersebut ia tidak kemudian menyalahkan Allah atas nasib yang menimpa dirinya. Akhirnya memang terbukti, Allah memberikan yang terbaik baginya. Allah telah menyelamatkan dirinya dari krisis ekonomi yang juga menimpa perusahaan tempat ia bekerja. Subhanallah, Allah memang Mahatahu dan manusia sungguh tidak tahu apa-apa tentang takdirnya.
Ada seorang kawan mengumpat karena mobilnya sering masuk bengkel. Maklum mobil second selalu ada saja persoalannya. Kawan tersebut akhirnya intropeksi. Apakah dirinya tidak pernah infak atau sedekah sehingga uangnya banyak terbuang ke urusan mobil. Ternyata tidak juga. Ia rajin berzakat, menjadi donator masjid dan sering membantu keuangan office boy di kantor. Atau dia kurang telaten dalam mengemudikan atau mengurus mobilnya. Tidak juga. Akhirnya, pertanyaan itu terjawab setelah beberapa lama. Yaitu ketika kawan kita ini membeli mobil baru. Ternyata selama satu tahun ia memiliki mobil baru, ia tidak pernah merasakan mobil barunya mogok atau tusak. Disinilah ia mulai berpikir bahwa pada saat mobil sering rusak, Allah sebetulnya sedang memberikan pembelajaran kepada dirinya. Seperti diketahuinya, kawan ini bukan tipe orang yang suka bidang otomotif. Dengan satu bagian rusak, musalnya karburator, akhirnya ia tahu prinsip kerja karburator dan cara-cara mengatasinya kalau ada masalah. Demikianlah, tanpa disadari selama tiga tahun mempunyai mobil second dengan berbagai persoalannya akhirnya dia mengetahui seluk-beluk mobil, minimal untuk merek dan jenis ia punyai. Di situlah letak khusnudzan kita kepada Allah bahwa bencana yang menurut kita menjengkelkan ternyata baik buat kita.
Sekali lagi, kunci utama adalah berprasangka baik kepada Allah. Yakni apa pun kondisi yang diberikan kepada kita, pada hakikatnya adalah untuk kebaikan kita sendiri. Dalam konteks akidah, kunci yang satu ini dalah keimanan terhadap ketetapan-Nya. Seseorang yang selalu berprasangka baik kepada Allah bukti imannya kuat.
B. Kunci Kedua : Syukur
Apabila seseuatu yang menimpa diri kita sesuai atau klop dengan keinginan kita, maka kunci kedua adalah syukur. Setelah seseorang berprinsip bahwa apa yang menimpa dirinya adalah yang terbaik dalam pandangan Allah buatnya maka jika ia mendapatkan kenikmatan ia harus mensyukurinya karena memang itu adalah anugerah dari Allah. Sebab ada juga kenikmatan yang bukan anugerah dari Allah. Dalam agama diistilahkan dengan istijraj (bahasa Jawa : nglulu). Artinya kenikmatan yang diterima seseorang merupakan azab dari Allah karena ia mendapatkannya dengan jalan yang salah dan ia tidak pandai mensyukurinya. Dalan Al-Qur’an Allah berfirman,

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa),
Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (al-Mua’minuun:55-56)
Allah hanya ingin menunjukkan kepada sekalian manusia bahwa orang seperti tidak ada arti di hadapan-Nya meskipun kelihatannya “sukses”.
Masih menurut sang eksekutif, pada saat kondisi membuat gajinya berlipat-lipat ia bersyukur bahwa ini adalah anugerah dari Allah. Karena memang dia mendapatkannya dari usaha yang halal. Sejak awal juga ia tidak pernah merasa risau dengan masalah gaji sehingga ketika melonjak pun, ia tidak kemudian latah. Ia langsung bersyukur dengan mengucapkan alhamdulilah dan memperbanyak sedekah yang memang sebelumnya sudah ia lakukan secara rutin.
Syukur yang beliau lakukan pada kali pertama lonjakan gajinya. Oleh karena itu, tepatlah firman Allah,

“Jika engkau bersyukur kepada-Ku niscaya Aku tambah nikmat-Ku. Namun jika engkau mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)
Di akhir tahun, nilai kurs dolar mendekati lima ribu rupiah per satu dolar gajinya melonjak dua kali lipat. Itu pun sudah disyukurinya. Ternyata tahun berikutnya rupiah menjadi enam belas ribu per satu dolar gajinya berlipat enam kali. Allah memang menambah nikmat-Nya tatkala kita pandai bersyukur kepada-Nya.
Dengan selalu bersyukur, hidup akan terasa lebih nikmat. Hidup dengan bersyukur tidak meninggalkan beban. Lho, mengapa demikian ? Apakah mendapatkan kenikmatan itu suatu beban ? Tentu bukan kenikmatan itu yang menjadi beban tapi ketidakbersyukuran atas nikmat itulah beban itu sendiri. Seseorang yang mendapatkan bantuan dari orang lain tentu minimal akan mengucapkan terima kasih. Ada seseorang membutuhkan biaya cukup besar untuk pengobatan istrinya. Tiba-tiba ada kawannya yang memberikan uang atau meminjamkannya. Pada saat menerima uang tersebut kalimat yang akan diucapkan pertama kali adalah “terima kasih”. Apa jadinya kalau ia tidak mengucapkan terima kasih? Normalkah orang ini? Bahkan kalau ia tidak bertemu langsung dengan yang memberikan uang ia akan berusaha meneleponnya. Pada saat terlupa pasti ia mengatakan, “Oh iya, saya lupa belum menelpon si fulan untuk mengucapkan terima kasih.”
Kesimpulannya, kehidupan ini harus balance, seimbang. Seseorang dikirimi buah-buahan oleh kawannya, ia mengucapkan terima kasih atau balas mengirimkan hadiah yang lain. Rasa atau ucapan terima kasih itu adalah ungkapan ‘syukur’ darinya. Allah pun ketika manusia mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, maka Ia bersyukur dengan menganugerahkan kenikmatan pada hamba-Nya itu. Manusia yang menerima anugerah pun mensyukurinya dengan mengucapkan alhamdulillah dan menyalurkan rezekinya kepada yang lain.
Jadi, bentuk syukur manusia adalah dengan mengucapkan terima kasih atau alhamdulillah. Kemudian memanfaatkan rezeki atau anugerah yang telah diterima itu ke jalan yang diridhai-Nya. Ia juga tidak kunjung berhenti melaksanakan perbuatan baiknya sebagai ungkapan rasa syukur. Dengan demikian, semuanya akan seimbang. Itulah kenikmatan berikutnya yang diterima oleh seseorang yang pandai bersyukur. Kehidupan dunia terasa indah baginya. Tidak salah apabila kunci sukses hidup yang kedua adalah syukur. “Tidak akan kuterima rasa syukurmu apabila engkau tidak berterima kasih pada sesama.”
C. Kunci Ketiga: Sabar
Jika ketetapan yang diberikan Allah kepada kita tidak sesuai dengan keinginan kita, atau menurut pandangan manusia umumnya tidak baik, maka kunci berikutnya yang dipakai adalah sabar. Pada saat musibah menimpa kita dengan bertubi-tubi, maka seseorang harus sabar dan menerima hal tersebut sebagai hal yang terbaik buatnya. Seorang wanita yang sangat mencintai suaminya merasa sangat sedih dan stress berat ketika Allah memanggil sang suami dalam usia muda. Awalnya ia berontak dengan “menuduh” Allah tidak saying padanya. Namun setelah intropeksi diri, ia merasakan mungkin kecintaan terhadap suaminya selama ini terlalu berlebihan sehingga mengalahkan cintanya kepada Allah. Allah ingin mengingatkan dia bahwa janganlah mencintai sesuatu terlalu berlebihan atau membenci sesuatu berlebihan pula. Meskipun, kesedihannya belum hilang sama sekali tapi ia sudah lega menemukan sebuah jawaban bahwa ternyata Allah masih saying kepadanya. Kehilangan suaminya adalah hal yang baik pula bagi dirinya.
Kesabaran akan mudah dilaksanakan apabila dikaitkan dengan kunci pertama yaitu khusnuzhan kepada Allah. Apalagi tidak sedikit pujian Allah terhadap orang-orang yang sabar dalam Al-Qur’an. Bahkan Allah sendiri mendampingi orang-orang yang senantiasa sabar menghadapi cobaan sebagaimana sering kita jumpai dalam penghabisan ayat pada Al-Qur’an,
“Innallaha ma’ash shabirin. (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar).”
Ketika sang eksekutif tadi dipereteli jabatan-jabatannya, memang ada rasa miris di dalam hatinya. Namun ia bersabar dan terus berprasangka baik. Sambil mencari-cari hikmah apa di balik semua peristiwa ini. Karena ia yakin bahwa ini adalah yang terbaik buat dirinya, maka sabar itu dengan mudah dapat dilakukannya.
Apalagi beliau tahu bahwa agama sendiri menerangkan bahwa musibah yang diterima dengan sabar dan ikhlas akan menggugurkan dosa-dosanya. Diingatnya sabda Rasulullah saw.,
“Tiadalah bagi seorang yang bertakwa tertimpa suatu bencana, meskipun kejadiannya telah lama lalu ingat kembali, dan mengucap lagi ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ melainkan Allah beri pahala baru sebagaimana dahulu ia terima tatkala mendapat musibah itu.”
Juga dalam beberapa perkataan beliau yang lain,
“Siapa bersabar dalam menjalani musibah penderitaan, Allah angkat baginya menjadi tiga ratus derajatnya. Siapa yang sabar dalam mengerjakan ketaatan, Allah angkat baginya menjai enam ratus derajatnya. Siapa yang sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, Allah angkat baginya menjadi sembilan ratus derajatnya.”
Bahkan ketika dia diberikan jabatan “kecil” yang menyangkut bidang yang tidak “dianggap”, ia berusaha tidak mengeluh.
Kesabarannya bertambah ketika teringat nasihat salah seorang sufi bersama. Abdullah bin Mubarak yang berkata, “Musibah itu hanya satu penderitaan. Tapi jika mengeluh maka menjadi dua. Satu penderitaan karena musibah, satu penderitaan hilangnya pahala dari musibah yang semestinya ia terima.”
Akhirnya terbukti, apa yang menurut orang-orang tidak baik dan merupakan musibah ternyata kelak Allah tunjukkan hikmahnya. Begitulah, kalau orang bersabar insya Allah hikmah datanya musibah akan dipampangkan di hadapan kita. Dan akhirnya, kita akan tersenyum sambil bergumam, “Allah memang Mahatahu apa yang terbaik buat saya.”
D. Keseimbangan Segitiga
Jadi, agar sukses mengarungi lautan kehidupan tanpa beban maka ketiga kunci tersebut harus selalu mendampingi kita. Ketiga kunci tersebut membentuk segitiga dengan masing-masing kunci sebagai sudut atau ujungnya. Kunci pertama, khusnuzhan ada pada ujung bagian atas, sementara syukur dan sabar ada pada dua sudut lain di bagian dasar. Di depan sudah dijelaskan bahwa posisi segitiga harus sama sisi beraturan. Artinya jika salah satu sudut mengecil atau melebar, yang lain akan menyesuaiakan agar bentuknya tetap segitiga sama sisi. Mengapa bisa demikian?
Ternyata di dalam syukur terdapat sabar dan dalam sabar terdapat syukur. Seseorang yang mendapatkan anugerah dri Allah maka ia harus mensyukurinya. Misalkan seseorang dianugerahi jabatan presiden direktur dalam sebuah perusahaan. Ia mendpatkan pendapatan yang besar ditambah kekuasaan yang berada pada puncaknya. Dengan anugerah tersebut ia menyatakan rasa syukurnya, alhamdulillah. Setelah ia bersyukur maka ia juga harus bersabar. Sebab dengan anugerah tersebut sebenarnya jabatan itu adalah amanah. Uang yang diterimanya adalah amanah yang harus dimanfaatkan dengan baik. Ia harus bersabar agar tidak terkena penyakit ‘riya’. Ia harus bersabar dengan berhati-hati menggunakan jabatannya sesuai dengan amanah. Ia harus bersabar untuk tidak memanfaatkan hartanya dengan percuma dan sia-sia. Maka dalam melakukan syukur, seseorang juga harus bersabar.
Pada saat sang eksekutif tadi mendapatkan penghasilan yang berlipat ganda atas anugerah Tuhan, maka setelah bersyukur ia harus merasa harus bersabar. “Saya tidak boleh sombong. Saya harus memanfattkan anugerah ini dengan sebaik-baiknya.” Ternyata menahan diri untuk tidak sombong dan memanfaatkan kekayaan di jalan yang benar membutuhkan kesabaran yang cukup tinggi. Untuk hal itu membutuhkan kesabaran yang cukup tinggi. Untuk hal itu membutuhkan kesabaran sebesar kita mensyukurinya. Dengan demikian, segituga akan tetap berada dalam posisi sama sisi.
Demikian pula dengan sabar. Dalam bersabar ternyata kita harus pula bersyukur. Misalnya seseorang mendapatkan musibah orang tuanya meninggal. Dalam kesedihan itu ia bersabar. Dengan bersabar ia akan menemukan hikmah yang besar. Pada saat kawan-kawannya datang berkunjung dan mengucapkan bela sungkawa, ia merasa bahwa ternyata teman-teman itu baik terhadap dirinya. Di situlah akhirnya ia bersyukur. Setiap musibah yang diterima dengan penuh kesabaran pasti akan membawa dampak anugerah yang lain yang membuat kita akhirnya bersyukur. Jadi dalam sabar juga akan teriring rasa syukur.
Pada saat jabatan direktur dicopot oleh pemilik saham yang baru, sang eksekutif kita tadi cukup sabar untuk tidak melakukan protes atau move-move politik untuk mengacau. Atau mutung terus cari kerja di tempat lain. Ia sabar dengan menerima jabatan apa saja yang diberikan kepadanya termasuk tidak ada jabatan sama sekali. Ternyata setelah bersabar ia bersyukur karena ia dilepaskan dari beban berat. Apalagi kondisi perusahaan akhirnya memburuk, ia tambah bersyukur. Bukan karena perusahaan yang memburuk (ia juga cukup bersedih dengan kondisi ini), tapi bersyukur Allah menyelamatkan dirinya dari beban yang berat. Rasa syukurnya pun sedalam kesabarannya pada saat ia menerima musibah awal. Begitulah, sebenarnya Allah mengatur kehidupan hamba-hamba-Nya sebagaimana tercermin dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah:6)
Jadi, sabar akan mengiringi syukur, syukur akan mengiringi sabar. Kejadian iring-iring itu akan membuat keseimbangan segitiga sukses. Hanya saja kalau tidak ada sudut penumpu maka keseimbangan tersebut akan susah tercapai. Sudut penumpu tersebut adalah kunci pertama yaitu khusnuzhan. Setiap kejadian selalu kita kembalikan kepada Kebaikan Allah kepada diri kita. Semuanya adalah yang terbaik. Musibah maupun anugerah semua datangnya dari Allah untuk kebaikan kita. Kalau kunci pertama ini sudah kuat tumpuannya maka semua hal menjadi biasa. Ada musibah bersabar, setelah bersyukur harus bersabar. Begitulah menjalani kehidupan yang sebenarnya. Insya Allah hidup akan terasa indah.
E. Amal Saleh
Dalam seseorang bersabar maupun bersyukur, pasti kaitannya dengan amal yang sedang ia kerjakan. Atau, akibat dari amal yang dia lakukan. Memang, bisa jadi ada kejadian yang begitu saja menimpa manusia tanpa sebelumnya ia berbuat sesuatu. Namun demikian reaksinya pun pasti berupa sebuah perbuatan.
Segitiga sukses kehidupan di atas baru berfungsi benar kalau amal yang dikerjakan adalah amal saleh. Yaitu amal yang digariskan oleh Allah dan Rasulnya. Amal yang mengikuti peraturan. Artinya segitiga resebut berlaku jika dia sudah dalam jalur yang benar. Seseorang yang berkendara sudah beradi di jalur yang benar, tiba-tiba ditilang polisi, barulah ia sabar. Kalau ia berkendara dengan ugal-ugalan, tidak pakai helm, melanggar rambu lalu lintas, kemudian ditilang polisi, itu memang akibat yang harus ia terima. Kalau ia sadar setelah ditilang, yang ia lakukan mestinya adalah intropeksi dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan seperti itu lagi.
Demikian pula apabila kita mendapatkan suatu anugerah tapi tidak dengan jalan yang benar, tidak patut kita bersyukur. Umpama ada seseorang diangkat menjadi pejabat. Tapi tenyata sebelumnya dia menyogok beberapa orang yang berwenang dan mengangkatnya. Atau sebelumnya dia menyingkirkan lawan-lawannya dengan cara memfitnah. Maka sesungguhnya anugerah yang diterimanya tersebut termasuk istijraj alias anugerah dengan kemarahan Allah. Tidak pantas untuk disyukuri karena hanya akan menambah marah Allah saja. Orang yang seperti itu seharusnya sadar dan bertobat. Meletakkan jabatan yang sudah dia terima dan meminta maaf apabila ada korban yang merasa dirugikan degan kelakuannya itu.
Jadi, segitiga di atas menuntut kita melakukan amal yang saleh. Seorang ibu hamil sudah berusaha mengikuti petunjuk dokter mengenai kehamilannya. Dia setiap bulan rajin memeriksakan kandungannya kepada dokter kandungan. Ia menjaga fisiknya agar selalu sehat sehingga janinnya pun sehat. Ia juga sudah mempersiapkan kondisi nonfisiknya dalam menghadapi kelahiran nanti. Namun ketika tiba waktu kelahiran, bayi yang keluar dalam keadaan tanpa nyawa, tidak tertolong. Ibu ini terkena musibah ujian sehingga ia patut bersabar. Kesabarannya akan membawa keseimbangan karena ia ber-khusnuzhan kepada Allah bahwa apa yang menimpa dirinya (dan bayinya) adalah yang terbaik menurut Allah. Amal seperti inilah yang menjadikan syarat suksesnya segitiga kehidupan tersebut.
F. Setiap Detik Mencari Hikmah
Setelah segitiga sukses terbentuk dalam diri seseorang, segitiga tersebut perlu dibingkai dengan sebuah lingkaran. Lingkaran tersebut dinamai dengan hikmah. Artinya, dalam konteks khusnuzhan, syukur, sabar, dan amal saleh maka seseorang harus mencari hikmah apa yang terkandung di dalam suatu peristiwa. Karena peristiwa demi peristiwa selalu terjadi maka setiap detik seseorang harus mencari hikmah apa yang terkandung. Intinya, tidak pernah berhenti mencari hikmah setiap peristiwa.
Hikmah adalah makna hakiki yang terkandung dalam sebuah peristiwa. Hikmah selalu bernilai positif karena ua mencerminkan Sifat ar-Rahmaan dan ar-Rahiim dari Allah. Setiap peristiwa Allah berikan hikmahnya. Ada manusia yang berhasil menemukan ada yang tidak. Memang menemukan hikmah kadang mudah kadang sulit. Kebiasaan mencari hikmah dalam setiap peristiwa juga mempengaruhi mudah atau tidaknya seseorang mendapatkan hikmah. Bingkai hikmah ini akan menjaga diri seseorang agar selalu khusnuzhan, sabar, dan syukur. Kalau divisualisasikan, kira-kira bentuknya seperti gambar di bawah ini.

Demikianlah gambar sukses kehidupan. Kalau sudah demikian di mana pun dan kapan pun kita menghadapi suatu peristiwa yang menimpa diri kita atau saudara kita maka yang terlihat adalah kemahabesaran dan keagungan Tuhan. Kalau sudah demikian, mana bisa kita mendustakan nikmat-nikmat yang diberikan. Ada baiknya kita simak salah satu taushiyah Aa’ Gym soal hidup ini.
Siap Hadapi Hidup Ini, Apa Pun yang Terjadi
Hidup di dunia ini hanya satu kali, aku tak boleh gagal dan sia-sia tanpa guna. Tugasku adalah menyempurnakan niat dan ikhtiar, perkara apa pun yang terjadi kuserahkan kepada Allah Yang Mahatahu yang terbaik bagiku.
Aku harus selalu sadar sepenuhnya bahwa yang terbaik menuruku belum tentu yang terbaik menurut Allah swt. Bahkan sangat mungkin aku terkecoh oleh keinginan dan harapanku sendiri.
Pengetahuan tentang diriku atau tentang apa pun amat terbatas sedangkan pengetahuan Allah menyelimuti segalanya, Dia tahu awal, akhir dan segala-galanya.
Sekali lagi betapapun aku sangat menginginkan sesuatu, tetap hatiku harus kupersiapkan untuk menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapanku. Karena mungkin itulah yang terbaik bagiku.
* * *
|