Bab II
Anugerah Penuh Berkah

 

Kehadiran manusia di muka bumi bukan tanpa maksud apa-apa. Allah telah memberikan peran penting yang harus dimainkan spesies manusia di dunia ini. Seperti layaknya sandiwara, manusia mendapatkan peran utama. Dibantu oleh peran pembantu yang lain, seperti malaikat, jin, hewan, tumbuhan, alam semesta, dan lain sebagainya. Peran utama manusia adalah sebagai khalifatullah 'pengganti kekuasaan Tuhan' di muka numi. Peran tersebut tidak saja sulit, tapi menuntut tanggung jawab yang luar biasa besar. Tidak sembarangan makhluk bisa memegang amanah tersebut.

Untuk itu sebagai Sang Pencipta,Allah telah memberikan garis-garis besar pandangan hidup untuk menjadi panutan manusia mengelola dunia. Pedoman hidup yang berupa kitab suci yang disampaikan melalui utusan-utusan-Nya ini menjadi acuan utama manusia dalam mengarungi belantara hidup. Tidak hanya itu,manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sempurna. Al-Qur'an menyatakan hal itu dalam sebuah surah,


"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (at-Tiin:4)

Termasuk kesempuranaan ciptaan Allah, pada diri manusia ia juga dibekali berbagai potensi yang melekat pada makhluk istimewa ini. Potensi-potensi inilah yang membedakan manusia dari makhluk yang lain, apakah itu hewan, jin, atau bahkan malaikat. Potensi ini tidak selalu disadari oleh manusia itu sendiri, meskipun keberadaannya nyata di depatn matanya. Anugerah Illahi yang diberikan kepada manusia sesuai dengan potensinya adalah sebagai berikut.

 

A. Pancaindra

Potensi pertama, yang diberikan hampir pada semua makhluk hidup adalah indra. Pada diri manusia ada lima, yang biasa dikenal dengan istilah pancaindra. Indra penglihatan atau mata, indra pendengaran atau telinga, indra penciuman atau hidung, indra pengecap atau lidah dan indra perasa atau kulit. Indra yang dianugerahkan Allah kepada manusia mempunyai fungsi untuk mendapat data mengenai fakta yang ada dihadapannya. Apabila ada makanan di meja, mata akan melihat dan hidung akan menciumnya. Kemudian tangan mengambil makanan tersebut dan kemudian lidah merasakannya. Manusia tersebut akan mendapatkan data ataupun informasi mengenai apa yang baru saja diindranya. Jadilah sebiah fakta, fakta tentang sebuah makanan, baik bentuk, bau dan rasanya.

Dalam agama Islam, indra yang dianugerahkan Allah kepada manusia tidak sekadar sebagai alat untuk mendapatkan data maupun informasi. Namun semia aktivitas yang dilakukan oleh pancaindra tersebut atau segala kegiatan yang dilakukannya akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak sekedar itu, pancaindra tersebut akan menjadi saksi bagi perbuatan seorang manusia. Allah berfirman,


"Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendegaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." (Fushshilat:22)


"Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan." (Fushshilat: 20)


"...Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (al-Isra:36)

Indra yang hampir pada semua makhluk Tuhan ada baik pada manusia maupun pada binatang mempunyai fungsi untuk menghasilkan data maupun informasi. Pada binatang, data yang didapatkan dari indra hanya bisa ditelan mentah-mentah. Apa bila ada stimulus yang diterima oleh indranya maka ia akan langsung memberikan reaksi. Ia tidak diberikan alat untuk mengolah stimulus tersebut sehingga saat memberikan respons bisa saja salah. Sebagai contoh, seekor tikus disodori sebuah keju di pojok rumah. Keju adalah makanan kesukaan tikus, sehingga ketika ada keju dihadapannya langsung diambilnya keju tersebut. Padahal keju yang ada adalah umpan supaya ia masuk ke dalam perangkap. Tikus tersebut reaktif terhadap fakta yang ada dihadapnnya. seketika. Perilaku binatang seperti ini tidak sedikit dicontoh oleh manusia sehingga mereka berada dalam kebinasaan.

 

B. Akal Budi

Salah satu karuania Allah yang sangat istimewa yang diterima manusia adalah akal. Selain manusia, makhluk yang kasat mata tidak ada yang mempunyai akal. Untuk itulah manusia dipilih menjadi pengganti (wakil) Tuhan di muka bumi. Menurut Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya at-Tafkir 'berpikir', akal adalah proses berpikir. Sedang berpikir adalah proses pengolahan fakta yang diindra (al-Waqi' al-Mahsusah) dengan informasi yang sebelumnya telah dipunyai (al-Maklumat as-Saabiqah). Tanpa ada fakta dan informasi, maka proses berpikir tidak akan jalan. Akalnya mentok, bahasa sehari-hari. Sebagai contoh, seorang siswa mendapatkan informasi baru yang lengkap tentang sebuah benda. Katakanlah sebuah termometer. Tanpa ditunjukkan bendanya atau bahan-bahan yang menyusunya, baik secara langsung diperlihatkan ataupun dengan alat peraga, maka siswa tersebut tidak bisa melakukan proses berpikir mengenai termometer tersebut. Baginya termometer hanyalah sekumpulan informasi yang masih mengawang-awang.

Demikian pula apabila ada faktanya, tapi tidak ada informasi sebelumnya mengenai fakta tersebut maka proses berpikir juga tidak akan terjadi. Misalnya ada sebuah benda ruang angkasa jatuh dan ditemukan oleh petani di desa. Sang petani tidak akan tahu benda tersebut apa dan fungsinya untuk apa karena tidak ada informasi sebelumnya tentang benda tersebut. Terhadap benda itu pak petani tidak bisa melakukan proses berpikir. Jadi untuk berpikir mengenai sesuatu maka dibutuhkan fakta mengenai sesuatu itu dan informasi sebelumnya mengenai sesuatu itu.

Akal adalah proses atau kemampuan untuk berpikir. Istilah yang lain yang agak-agak mirip adalah intelektualitas. Kemampuan ini hanyalah ada pada makhluk yang bernama manusia. Kemampuan ini pulalah yang menjadi keunggulan manusia dibandingkan makhluk yang lain. Al-Qur'an banyak sekali menyuruh manusia untuk selalu berpikir. Tidak sedikit ayat yang diakhiri dengan perkataan afala ta'qilun, afala tatafakkarun, afala tatadzabbarun. Tidak sedikit pula kata akal (al'Aql) disebut-sebut dalam Al-Qur'an.

Seorang ustadz pernah berceramah dihadapan mahasiswa sebuah universitas negeri. Ustadz tersebut menekankan pentingnya berpikir dan menggunakan akal terutama bagi mahasiswa penerus bangsa. Seorang peserta yang mungkin kurang berkenan karena mengharapkan aspek-aspek rohani yang dibahas mengkritik sang ustadz secara halus. "Saya perhatikan dalam satu setengah jam ustadz ceramah, ustadz sudah menyebut kata-kata akan sebanyak 31 kali," katanya memulai pembicaraannya. Sang ustadz menjawab,"Rupanya saya kurang banyak menyebut kata akal. Sebab dibandingkan dengan A-Qur'an ucapan saya tadi belum seberapa. Al-Qur'an bahkan menyebut kata-kata akal sebanyak 49 kali." Memang di tahun 1990-an di kalangan kampus ada dua liran aktivis mahasiswa muslim, yaitu aliran fikrah yang banyak melakukan kajian pemikiran Islam dan aliran bashirah yang banyak mengkaji masalah-masalah nafsiah termasuk tasawuf.

Aa’ Gym dai kondang yang banyak menyoroti masalah akhlak juga tidak henti-hentinya menempa dan melatih potensi akal atau potensi berpikir para santrinya di Darut Tauhid dengan lima hal. Pertama, seorang santri dilatih untuk berpikir keras mengenal diri dan potensinya. Dari sini ia akan mampu mengenal diri dan potensinya. Dari sini ia akan mampu mengenali kekurangan diri lalu memperbaikinya dan menempatkan dirinya secara optimal. Jangan sampai kita tidak tahu siapa diri kita. Kedua, santri dilatih berpikir untuk mengenal situasi lingkungannya sehingga bias mendapatkan manfaat lingkungan secara optimal dan proposional. Di sini seorang santri diharapkan menjadi seorang visioner dan memperhitungkan masa depan. Ketiga, santri dilatih berpikir dengan selalu membuat perencanaa. Plan your work and work your plan ‘Rencanakanlah pekerjaanmu dan wujudkanlah rencanamu’. Jargon yang selalu dipakai adalah ‘gagal dalam merencanakan berarti merencanakan gagal’. Keempat, santri dilatih berpikir dengan selalu mengevaluasi diri. Apakah setiap kegiatan yang dilakukan adalah baik dan dengan niat yang baik pula. Evaluasi diri selalu dikaitkan kepada pertanggungjawaban, bahwa setiap tingkah laku kita akan dimintai pertanggungjawaban. Terakhir, santri dilatih menjadi seorang yang unggul berikhtiar. Dalam hal ini diajarkan pula latihan-latihan fisik seperti naik turun tebing, bukan untuk membentuk seorang jago tempur, tapi untuk melatih berpikir untuk menghadapi situasi yang sulit, cepat bertindak dan mempunyai daya tahan kerja.

Kembali ke masalah akal atau proses berpikir, manusia mempunyai keunggulan dibandingkan makhluk lainnya. Dalam berpikir manusia mengolah informasi dan fakta untuk dijadikan suatu pengetahuan (ilmu). Dari data yang ditangkap pancaindra, manusia mendapatkan informasi. Informasi yang diolah, disusun, dan dikembangkan dengan rapi akan menghasilkan suatu ilmu. Jadi, hasil dari berpikir yang benar adalah ilmu. Sebab, tidak asal berpikir akan menghasilkan ilmu. Ilmu inilah yang akan membedakan manusia dengan makhluk lain, membedakan manusia satu dengan manusia yang lain. Manusia yang mempunyai ilmu tinggi biasanya akan lebih unggul dibandingkan dengan yang ilmunya rendah. Salah satu kesempuranaan manusia adalah mempunyai pancaindra yang tajam dan ilmu pengetahuan yang luas (fathonah).

 

C. Rasa

Rasa atau emosi adalah anugerah Allah. Dari rasa inilah manusia akan melahirkan rasa pengertian. Sosok seseorang yang mempunyai indra tajam dan intelektualitas yang cemerlang akan terasa kaku apabila emosinya rendah. Mohon emosi tidak dipersepsikan dengan kemarahan. Emosi adalah makna netral, namun dalam bahasa sehari-hari sering dipahami sebagai sikap seseorang dengan temperamental tinggi.

Emosi pada diri manusia adalah anugerah Allah yang luar biasa. Bahkan dalam dunia modern sekarang ini ukuran emosional justru menjadi factor penting keberhasilan seseorang bila dibandingkan ukuran intelektualitas. Tidak sedikit buku-buku saat ini yang membahas mengenai kecerdasan emosi, yang harus mulai dikembangkan sejak masa kanak-kanak. Rupanya kerasnya kehidupan, merosotnya moral dan kepedualian sesama membuat manusia mulai menengok kembali masalah emosi ini. Sementara kecerdasan intelektual yang selama ini dibangga-banggakan sedikir demi sedikit mulai ditinggalkan meskipun dalam beberapa hal masih dipakai.

Seorang manusia pada dasarnya mempunyai potensi untuk menaruh empati terhadap sesamanya. Empati atau rasa pengertian inilah yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia dalam menjalani kehidupannya. Ketinggian rasa empati pada manusia akan melahirkan sikap berpikir positif dan bertindak santun. Dalam agama rasa termasuk bagian dari akhlak.

Allah melalui Rasul-Nya telah memberikan contoh yang baik mengenai akhlak ini. Bahkan keberadaan beliau di muka bumi adalah untuk membuat akhlak manusia menjadi sempurna, tidak seperti perilaku hewan. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Bukhari)

Banyak anjuran-anjuran dari berbagai macam ajaran termasuk agama, kepercayaan maupun adapt menganjurkan manusia untuk memiliki akhlak atau arasa pengertian yang tinggi. Dalam Islam pun anjuran untuk memiliki akhlak yang terpuji (akhlakul karimah) sangat banyak. Salah satu ayat yang memerintahkan hal itu,



“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kamum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an-Nahl:90)

Seseorang muslim diharapkan memiliki jiwa tenggang rasa terhadap sesama, suka memberi, berbuat jujur, adil, suka menolong, tidak sombong, dan sebagainya. Nilai-nilai kebaikan yang bersifat universal inilah yang membedakan manusia yang baik, satu dengan lainnya. Kadang nilai ini menjadi etika dan hukum di suatu tempat baik disepakati (tertulis) maupun tidak.

Namun dengan akhlak inilah manusia satu dibedakan dengan manusia yang lain berdasarkan kemuliannya secara umum. Seseorang dianggap masyarakat umum baik kalu perilaku atau akhlaknya baik. Barangkali ada satu dua kasus manusia yang mempunyai akhlak saking bejatnya melebihi kerendahan perilaku binatang. Namun demikian secara umum, kebaikan seseprang ditunjukkan dengan akhlak, rasa, atau emosinya. Orang seperti ini disamping mempunyai perilaku yang baik, hubungan kemanusiannya pun bagus. Ketinggain emosi menunjukkan ketinggian kedudukan seseorang di masyarakat.

 

D. Kalbu

Indahnya perilaku di mata orang kadang tidak membuat seseorang menjadi terbaik diantara sesama manusia. Ada seorang karyawati di kantor sangat disukai oleh kawan-kawannya. Meskipun sudah manajer, orangnya tetap rendah hati, baik budi, dan suka menolong. Parasnya lumayan cantik dan otaknya cerdas. Kebiasaannya adalah membawakan makanan bagi rekan-rekannya di kantor. Kalaupun ia tidak hadir karena sakit atau cuti, supirnya tetap ke kantor untuk mengantarkan makanan ringan buat kawan-kawannya. Dalam kesempatan ngobrol dengannya secara mendalam, di balik “kesempurnaan” perilakunya ternyata dia seorang penganut seks bebas. Selama empat tahun terakhir ini ia samen lamen (hidup bersama) dengan pacarnya dan telah empat kali pula menggugurkan kandungannya. Ia menceritakan perjalan hidupnya dengan lancer diselingi tertawa-tertawa kecil tanpa perasaan berdosa sama sekali.

Belakangan ia mulai sering terlihat gelisah, tidak ceria, dan agak murung. Jiwanya agak labil dan sering menyendiri, meskipun jika bertemu orang lain ia tetap berlaku baik. Namun apabila diamati aktivitas dia sehari-hari, ada perubahan psikis pada dirinya, Setelah ditanyakan secara pribadi, ia menjawab bahwa meskipun dia bergelimpangan dengan kesenangan dunia, ada rasa kehampaan dalam hidupnya. Seperti menghadapi tiupan angin, tapi ia tidak punya pengangan atau pijakan yang kuat menghadapi terpaan angina tersebut. Htaninya kosong dari keimanan.

Karyawati tersebut meskipun mempunyai kalbu, tapi hatinya tertutup. Ibarat cermin, ia sudah kusam sehingga tidak dapat menatulkan cahaya. Manusia oleh Allah sudah diberikan potensi kalbu. Kalbu atau hati yang jernih pada manusia akan menghasilkan suatu keyakinan. Keyakinan yang kuat inilah yang disebut dengan iman. Dalam bahasa agama, iman disebut juga akidah, yaitu keyakinan yang kuat atas kebenaran. Secara bahasa akidah adalah apa-apa yang diikat oleh hati (maa ‘aqada ‘alaih al qalbu). Kalbu yang jernih juga akan menghasilkan kebijaksanaan (wisdom) pada seseorang yang memilikinya. Ketinggian derajat seseorang ditentukan apakah ia bijak atau tidak. Biasanya tokoh-tokoh agama memiliki juga kebijaksanaan seperti ini, selain intelektualitas dan emosional yang baik.

Ketiadaan aspek keimanan pada diri seseorang akan menjerumuskannya ke jurang kenistaan. Sebagaimana karyawati tadi, secara pandangan masyarakat ia adalah wanita yang baik. Namun di mata Allah, dia tidak berarti apa-apa karena kebaikan dia hanya aspek social semata. Sama sekali tidak didasarkan pada suatu keyakinan atau keimanan. Islam selalu mengaikan antara aspek akhlak dengan iman. Rasullah sering menyambung suatu perbuatan baik dengan keimanan kepada Allah dan Hari Akhir. Sebagai contoh,

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau (kalau tidak bias) diam.” (HR Bukhari)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamunya.” (HR Bukhari Muslim)

“Tidak beriman seseorang apabila ia tidur nyenyak sementara tetangganya kelaparan.” (al-Hadits)

Yang membedakan Islam dengan ajaran yang lain adalah, semua perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang harus dilandaskan kepada keimanan. Dalam hubungan social, akhlak tidak sekadar perbuatan baik semata. Tentu, jujurnya orang Islam dengan jujurnya orang yang semata-mata hanya berbuat jujur itu berbeda. Mengapa? Karena sebagai seorang muslim, disamping mempunyai emosi (rasa) ia mempunyai keimanan akan kebenaran ajaran agamanya.

Orang yang jujur karena sikap social semata bias saja akan berbeda ketika di depan orang banyak dengan sendirian. Kalaupun dia berkeyakinan jujur adalah perbuatan yang baik, maka selamanya ia pun akan konsisten jujur. Sementara seorang muslim, yang mempunyai kalbu yang jernih, menganggap jujur adalah perintah Allah. Di depan orang banyak atau sendirian dia tidak akan membedakan. Dia jujur karena diperintah Allah jujur. Demikian pula berbohong. Islam justru membolehkan berbohong untuk beberapa hal. Misalnya berbohong untuk mendamaikan dua saudara yang bertikai diperbolehkan. Berbohong untuk mendamaikan saudara justru mendapatkan pahala dari Allah karena melaksanakan perintah-Nya.

Demikian pula sifat akhlak yang lain. Salah satu sifat akhlak yang baik adalah tidak pemarah. Namun, seorang muslim yang melihat ketidakadilan atau kezaliman harus marah. Itulah yang dianjurkan Rasulullah dalam sabdanya,

“Barangsiapa melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya (kekuasaannya). Kalau tidak dapat, maka dengan lisannya. Kalau tidak dapat, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muttafaq alaih)

Sekali lagi perbuatan baik seperti diatas selalu dikaitkan dengan iman. Seseorang yang melihat kemungkaran harus marah. Bukan marah karena tersulut emosinya, tapi marah karena kalbu. Bukan karena hawa nafsu, tapi karena Allah. Seperti ada karyawan yang tidak mengindahkan peraturan perusahaan, seorang pemimpin harus marah bukan karena karyawan tersebut menyepelekan dirinya, tapi karena ia menyepelekan aturan perusahaan yang sudah disepakatinya bersama.

Penggunaan kalbu yang benar akan menghasilkan keimanan yang benar. Sama seperti berpikir, tidak semua proses berpikir menghasilkan ilmu yang bermanfaat. Tidak semua perenungan kalbu menghasilkan keimanan yang benar. Oleh karena itu, diperlukan kalbu yang jernih laksana cermin bersih yang dapat dipakai untuk berkaca diri. Diperlukan suatu perenungan yang mendalam agar keimanan yang dihasilkan adalah keimanan yang benar.

 

E. Kehidupan

Semua potensi yang diberikan Allah swt. kepada manuasia tidak akan berfungsi apabila tidak ada air kehidupan pada diri manusia tersebut. Itu tentu sudah jelas. Manusia diberikan kehidupan oleh Allah swt. terkandung suatu maksud. Keberadaan manusia di muka bumi dalam kerangka beribadah kepada Tuhannya adalah mengejawantahkan amal saleh. Manusia diberi hidup untuk beramal saleh. Oleh karena itu, Nabi mengukur kebaikan seorang muslim dengan manfaat yang diberikan orang tersebut kepada manusia. Sabda beliau,

“Yang terbaik diantara manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia.”

Fungsi dan peran manusia diukur dari fungsi sosialnya. Pada taraf ini manusia menjadi reprenstasi Allah yang mewarisi sifat-sifat-Nya. Manusia menjadi makhluk yang omnipotent ‘Maha Kuasa’. Manusia memerankan fungsi khalifatullah fil ardhi ‘pengganti Allah di muka bumi’. Manusia harus mampu menularkan kasih sayangnya kepada sesame manusia dan sesama makhluk. Manusia harus mempunyai keadilan yang mencerminkan keadilan Allah swt. dengan melaksanakan hokum-hukum-Nya. Manusia menjadi pengelola alam dan seisinya dengan memanfaatkan serta memelihara alam. Semua itu adalah sifat Allah yang mengejawantah ke dalam diri manusia.

Manusia yang telah mewarisi dan mengamalkan sifat-sifat Allah akan memberikan manfaat yang luar biasa besar kepada lingkungannya. Manusia tersebut laksana matahari, yang sinarnya terpancar tiada habis-habisnya. Nabi Muhammad adalah manusia yang telah melaksanakan fungsi tersebut. Akhlak yang mulia dan keimanan yang kuat terpancar pada dirinya. Meskipun dirinya ummi ‘tidak bisa baca dan tulis’ tidak berarti beliau bodoh. Manfaat yang didapatkan dari dirinya tidak saja dinikmati oleh orang-orang Arab, tapi juga orang-orang di luar Arab. Tidak saja dinikmati masyarakat pada waktu hidupnya, tapi juga umat manusia setelah wafatnya hingga akhir Zaman.

Itulah contoh anugerah Ilahi yang tercermin di diri Nabi. Umat manusia, terutama bagi seorang muslim harus mensyukurinya dengan memanfaatkan anugerah itu sebaik-baiknya. Renungkanlah, ketinggian manusia adalah karena keluhurannya. Keluhuran dalam menerima berkas-berkas sinar Keluhuran-Nya. Seorang sufi terkenal, Nashir I-Khusran menulis sebuah puisi yang sangat indah maknanya. Demikian puisinya berbunyi,

Pandanglah dirimu sendiri
Kau sesungguhnya luhur
Renungkanlah, coba pikirkan dari mana datangmu
Dan mengapa engkau dalam penjara ini sekarang
Jadilah penentang berhala bagai Ibrahim yang berani
Ada maksud engkau dicipta berupa itu
Sungguh malu andai kautelantarkan maksud penciptaanmu….

 

* * *

 

 
Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul