Bab I
Berpikir dan Berzikir

 

Ada sebuah adagium yang mengatakan, “ Primum vivere deinde philosophari”. Artinya, hiduplah dulu baru berfilsafat. Dalam masyarakat umum memang budaya berpikir, terutama berpikir secara mendalam tidak terlalu banyak menarik perhatian. Persoalan hidup sehari-hari saja sudah mengimpit dirinya. Mana sempat ia berpikir apalagi berfilsafat?

Kehidupan pada zaman sekarang ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya. Apalagi pada saat masyarakat rusak sebagaimana pertama kalo Nabi Muhammad S.A.W. diutus, focus hidup sehari-hari adalah untuk memenuhi hajat dan mempertahankan hidup. Tidak sedikit dari mereka harus melacurkan diri agar dapat bertahan dan menang dalam percaturan hidup. Nilai-nilai moral dan agama kerap kali dilanggar. Kehidupan demikian keras dan kasar.

Namun, Nabi Muhammad dengan bijak mengajak umat yang tengah bergumul dengan kerasnya kehidupan dengan berpikir dan bertafakur. Beliau bahkan membuat statement yang saat itu agak aneh, yaitu “Bertafakur satu saat lebih baik daripada ibadah satu tahun.” Kalimat itu pun sekarang mungkin juga terasa aneh. Di tengah kerasnya kehidupan, teruatama bagi masyarakat miskin, berpikir dan bertafakur tentu merupakan “barang mahal”. Seperti maksud adagium di atas, hiduplah dulu. Penuhi kebutuhan sehari-hari dulu. Baru kamu berpikir, baru kamu bertafakur. Tafakur itu kan melangit, sementara masalah hidup sehari-hari itu persoalan yang membumi.

Tentu Nabi S.A.W. mempunyai maksud mulia dengan pekataanya itu. Ada hal penting yang terkandung di dalamnya. Bahkan kalau melihat banyaknya ayat Al-Qur’an yang menyuruh kita berpikir, hadist tersebut tentu tidaklah aneh. Banyak ayat-ayat yang diakhiri dengan kata-kata, afalaa ta’qilun, afalaa tatafakkarun, afalaa tatadabbarun. “Tidakkah kalian berpikir, tidakkah kalian bertafakur, tidakkah kalian bertadabut?” Itulah yang membedakan seorang muslim, yang menggunakan seluruh potensi intelektualnya untuk berpikir dan berzikir. Allah berfirman:


“…Katakanlah, apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Tidakkah mereka berpikir?” (al-An’aam: 50)

Mengapa berpikir menjadi penting? Ya, karena kebangkitan manusia dalam berpikir menentukan kemajuan bangsa tersebut. Seorang yang ahli berpikir adalah mereka yang mengetahui potensi besar dalam dirinya sehingga dapat memanfaatkan potensi tersebut secara optimal.

Bangsa Arab jahiliah yang awalnya tidak tercatat dalam peta dunia, tidak diperhitungkan, dan tidak diperhatikan. Tiba-tiba setelah memeluk Islam menjadi sebuah imperium kuat menandingi kekuatan adidaya saat itu. Hanya dalam waktu tiga puluh tahun umat Isalam sudah berhasil merambah tiga benua. Apa yang terjadi setelah memeluk Islam? Mereka berubah paradigmanya mengenai kehidupan. Itu terjadi karena mereka melakukan proses kebangkitan dalam berpikir. Bagaimana berpikir bias menjadi seseorang bangkit dari kegelapan ?

 

A. Konsep Berpikir

Tentu tidak semua berpikir menghasilkan kebangkitan. Hanya proses berpikir yang hakiki saja yang menghasilkan kebangkitan itu. Kadang seseorang tidak memperhatikan apakah yang dilakukannya dalam berpikir merupakan hal yang esensi, prinsip atau praktis. Ketiganya tentu berbeda. Mari kita lihat piramida sistem berpikir.

1. Esensi

Pada hakikatnya seseorang berpikir secara esensi (inti) terlebih dahulu. Tanpa berpikir hal yang esensi maka tidak akan berujung pada suatu kebenaran apalagi kebangkitan. Pemikiran yang esensi dalam kehidupan ini adalah untuk menjawab sebuah pertanyaan dasar, “Untuk apa kita berada di dunia ini?” Juga pertanyaan asasi, “Dari mana asal kita dan akan kemanakah kita setelah mati?” Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus dijawab. Dari awal pertanyaan tadi akan berkembang pemikiran esensial tersebut bahwa sesungguhnya keberadaan kita di bumi ini adalah untuk mengabdi kepada Tuhan alam semesta ini. Keberadaan kita di muka bumi sebagai khalifatullah.

Oleh karena itu, manusia sebelum berkiprah di dunia harus melakukan perenungan, tafakur dan berpikir mengenai hal yang esensi ini. Dalam ajaran Islam, hal yang esensi adalah aqidah. Keimanan terhadap Tuhan. Keyakinan inilah yang menjadi pendorong seseorang dalam berpikir dan berntidak selanjutnya. Keimanan juga menjadi dasar bagi setiap muslim dalam beraktivitas.

2. Prinsip

Setelah berpikir tentang hal yang esensi maka selanjutnya baru hal-hal yang prinsip. Hal yang prinsip berbeda dengan esensi. Prinsip adalah hal yang membatasi esensi. Sesuatu yang esensi adalah sebuah inti. Tanpa suatu pembatas maka ia bukan lagi inti. Pembatas dari inti adalah hal-hal yang prinsip. Kalau esensi itu satu (karena ia adalah inti), maka prinsip bisa beberapa. Namun tidaklah banyak.

Berpikir tentang hal-hal prinsip juga penting. Sebab hal itu menjadi penjabaran dari hal yang esensi. Seseorang yang berpikir dalam kerangka Islam, ia melihat masalah aqidah adalah hal yang esensi. Sedangkan rukun iman dan rukun Islam adalah prinsip yang harus dijalankan. Juga ilmu ushul fiqih (ilmu mengenai dasar agama islam) adalah hal-hal prinsip yang merupakan pokok dari ajaran Islam. Kaidah tersebut merupakan rumus dari penjabaran aqidah maupun ajaran Islam.

Seseorang kadang sudah memahami hal yang esensi tapi gagal dalam menerjemahkan kepada prinsip-prinsip. Kadang pula prinsip yang dijabarkan melenceng dari esensinya. Sebuah contoh konkret yang sekarang ini berkembang adanya asas pluralitas dalam beragama. Seorang berpikir sistematik akan menyadari bahwa puncak segitiga adalah satu, yaitu hal yang esensi. Oleh karena itu, hal yang esensi tersebut, sebagaaimana dijelaskan bahwa hal itu adalah ini, adalah satu pula. Sebuah kebenaran tentang hal esensial adalah tunggal yaitu keesaan Allah S.W.T..

Di atas sudah dijelaskan bahwa hal yang esensial adalah aqidah Islam. Aqidah Islam adalah keimanan bahwa Tuhan adalah satu, yaitu tauhiid. Namun demikian, ada pula kalangan yang menganut ajaran Islam yang berarti tauhiid, menganut pula prinsip pluralisme yang menyatakan semua agama adalah benar. Dia atas mengakui hanya satu, kemidian di bawah mengakui yang lainnya juga. Pluralisme memang baik, tapi bukan untuk masalah aqidah atau hal yang esensial, seperti keyakinan terhadap suatu agama. Orang yang berprinsip pluralisme dalam beragama gagal membuat prinsip yang menjabarkan esensi dalam sistem berpikirnya.

3. Praktis

Baru setelah berpikir masalah prinsip, seseorang bisa memikirkan masalah-masalah praktis, berdasarkan hal yang esensi dan prinsip tersebut. Hal yang praktis banyak sekali dan merupakan penjabaran dari esensi maupun prinsip. Jumlahnya bisa tidak terbatas, tapi tidak lepas dari koridor segitiga di atas. Dalam ajaran Islam, hal-hal praktis merupakan kajian fiqih mengenai perbuatan seseorang. Di sana akan dibahas perbuatan-perbuatan yang wajib, sunnah, mubah, haram dan juga makruh. Tak ketinggalan masalah akhlak atau perbuatan moral yang sesuai dengan kaidah islami.

Dengan menjalankan sistematika berpikir ini maka seseorang akan mudah dalam menjalankan kehidupannya. Tidak terombang-ambing oleh suasana kehidupan. Pemikirannya focus. Tidak ke sana kemari tanpa juntrungan. Juga akan mudah menyelesaikan problematika hidup. Yaitu dari hal-hal yang praktis ditarik kepada masalah prinsip dan kembali kepada esensinya. Seorang muslin yang tahu akan potensi ini sudah seyogianya mengacu pada sistem berpikir seperti ini. Demikianlah yang dilakukan Rasullah dan para sahabat serta generasi perama dulu sehingga mereka menjadi bangsa yang memimpin dunia.

Seseorang yang selalu hanya berpikir praktis akan susah mendapatkan kebenaran, meski bukannya tidak mungkin. Ia akan lelah karena tidak berhasil menemukan norma atau pattern yang berlaku. Ia menjadi bingung karena kasus satu dengan lainnya beda. Bagaimana cara menanganinya? Oleh karena itu, penting menarik garis lurus kepada hal yang prinsip serta esensi. Bagi mereka yang tidak memliki hal prinsip maupun esensi tentu akan kelimpungan. Itulah yang dialami oleh orang yang kosong hatinya. Mereka yang tidak bertuhan dan tidak peduli dengan hakikat hidup.

Dalam konteks kekinian, seseorang yang hanya bepikir praktis dan sulit menemukan kebenaran bisa dilihat pada contoh di bawah ini. Misalkan ada sebuah persamaan matematika katakanlah,

(9x + 2) + (5x – 9) = 8x + 23, berapakah x ?

Bagi orang awam yang hanya berpikir praktis maka ia akan memasukkan setiap nilai agar persaman tersebut menjadi benar. Ia akan coba dengan sebuah angka, misalnya 8.

(72 + 2) + (40-9) = 74 + 31 = 105, ternyata tidak sama dengan 64 + 23 atau 87. Jadi x = 8 salah.

Ia masukkan lagi 9. (81 + 2) + (45 – 9) = 83 + 36 = 119, ternyata juga tidak sama dengan 72 + 23 atau 95. Jadi, lagi-lagi salah. Ia coba angka yang lainnya. Mungkin saja suatu ketika ia akan menemukan angka yang tepat bagi x, tapi berapa peluangnya?

Seseorang yang mempunyai konsep berpikir yang sistemik akan mengerjakan soal ini dengan mengembalikan kepada prinsip dan esensi sebuah persamaa. Soal akan dikerjakan dahulu dengan mencari nilai x yang sebenarnya. Sebagaimana kita tahu, persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi,

(9x + 2) + (5x – 9) = 8x + 23
14x – 7 = 8x + 23
6x = 30
x = 30/6 atau x = 5.

Dengan hanya sedikit waktu ia menemukan jawabannya yaitu x = 5, tanpa repot-repot memasukkan setiap nilai x. Begitulah perumpamaan perbedaan seseorang yang berpikir hanya yang praktis-praktis dengan yang berpikir kembali ke prinsip serta esensinya.

Seseorang yang mampu berpikir secara sistematis dengan mulai dari esensi kemudian prinsip dan akhirnya praktis akan menjadi seseorang yang ahli piker. Seorang yang ahli piker pada dasarnya mereka yang dapat mengetahui dan menggali potensi dirinya agar bermanfaat dan optimal. Dengan potensinya maka ia akan merencanakan segala sesuatunya dengan benar. Setiap sesuatu masalah yang ia hadapi akan dikembalikan kepada prinsip dan esensinya.

Namun demikian, berpikir sehingga menjadi manusia yang potensial tidaklah cukup. Seseorang yang sudah dapat mengoptimalkan dirinya sehingga membawa manfaat bagi sesame, harus disertai dengan kemampuan zikir. Ia tidak saja kuat secara fisik maupun materi, tapi juga mental atau batinnya menjadi kokoh, penung semangat dan tak mengenal putus asa. Maka kemampuan berpikir dan berzikir harus disinergikan, harus digabungkan.

 

B. Konsep Kesadaran

Zikir artinya sadar atau ingat. Zikrullah maknanya zikir atau ingat kepada Allah dengan sadar serta mengucapkan kata-kata yang menuju kepada-Nya. Maka zikir dalam arti sempit seringkali diterjemahkan dengan subhanallah, alhamdulilah, la ilaahaillallah, allahu akbar, dan sebagainya.

Dalam arti luas, zikir adalah sebuah kesadaran akan peran seseorang di muka bumi. Zikir atau ingat kepada Allah diejawantahkan dalam kehidupan keseharian. Zikirnya tidak saja hablum minallah, tapi juga hablum minannas. Kesadaran diri inilah yang patut dimiliki oleh seseorang muslim yang ingin bangkit dari keterpurukan, terutama keterpurukan moral. Ia mesti sadar diri, sadar akan lingkungannya dan bisa menjalin hubungan dengan sesame melalui silaturahami.

1. Sadar Diri

Pertama seorang muslim pertama kali harus sadar atau mengenal dirinya terlebih dulu. Kenal atau sadar diri akan membuat kita selalu bersyukur. Bahwa diantara kita masih ada yang lebih sengsara. Kita memposisikan diri kita diantara nasib sekian ribu atau miliar orang. Ternyata tidak semua orang dapat menikmati kehidupan seindah kita. Apa yang kita dapat selama ini merupakan anugerah yang tiada taranya. Demikianlah, dengan mengenal diri seorang muslim akan selalu mudah bersyukur.

2. Sadar Fasilitas

Kedua adalah sadar atau kenal lingkungan. Lingkungan disekitar kita pada hakikatnya adalah fasilitas yang diberikan Allah kepada kita. Seperti kita mempunyai sebuah mobil, pasti kita akan tergerak untuk mempelajarinya. Ada stir, ada ban, ada mesin, ada dashboard dan sebagainya. Kita akan tergerak untuk mengetahui barang-barang apa saja yang ada di mobil itu. Kalau sewaktu-waktu bermasalah tentu dengan mudah kita dapat memperbaikinya. Sebab, mobil tersebut akan menyertai kemana saja kita pergi. Demikian pula dengan lingkungan kita. Pengenalan lingkungan adalah dengan cara belajar. Apa yang ada di sekelilingnya dipelajari. Seperti mempelajari bagian-bagian mobil, kita pelajari elemen-elemen di sekitar kita, termasuk manusiannya. Misalnya lingkungan di kantor, kita mempelajari satu per satu sifat, karakter, dan perilaku orang-orang yang di sekitar kita karena kita hidup bersama mereka. Atau suatu ketika ada masalah dengan salah satu di antara mereka kita sudah tahu harus bagaimana cara membetulkannya. Jadi, kelan lingkungan adalah mempelajari aspek detail dari lingkungan tersebut, baik fisik maupun nonfisik.

3. Sadar Peran Diri

Ketiga adalah sadar peran diri. Kalau pada tahap kedua kita hanya mengenal lingkungan saja, tahap ketiga ini mulai melakukan interaksi. Sebelum berinteraksi, kita hendaknya mengenal di manakah posisi kita di antara orang-orang di sekitar kita. Kenali peran diri kita, lakukan dengan cara berkawan dengan baik. Ibaratnya, dalam menggunakan mesin kita mulai dengan memencet-mencet tombol dan menguji keahlian kita menggunakan alat tersebut. Jadi, potensi yang ada dalam diri kita dipertemukan dengan potensi lingkungan. Apa yang bisa kita berikan buat saudar atau kawan kita, marilah kita berikan sebaik-baiknya. Keahlian, kemampuan, dan potensi diri sedapat mungkin dikontribusikan untuk lingkungan kita.

4. Sadar Peran Orang Lain

Keempat adalah kenal peran orang lain. Di sinilah kita dapat saling berperan. Berbeda dengan interaksi manusia dengan alat yang hanya satu arah, maka interaksi antarmanusia bersifat dua arah atau bahkan multiarah. Satu sama lain saling mengisi kekurangan yang ada. Sendirian seseorang tidak akan mampu mendorong menghidupkan mobil yang mogok. Masin-masing orang harus memahami, menyadari dan memainkan perannya masing-masing. Tuhan menciptakan segala sesuatunya sesuai dengan potensinya. Demikian pula manusia, pasti ada bakat khusus yang dimiliki masing-masing orang dalam menjalankan perannya.

5. Silaturahmi

Terakhir adalah bersilaturahmi. Yaitu merajut benang potensi satu sama lain dan memperkukuhnya. Kalau pada kenal peran orang lain kita hanya saling mengisi, fase silaturahmi sudah menjalin suatu kerja sama yang erat. Kerja sama inilah yang akan menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat bagi umat. Sekelompok orang yang sudah dapat menjalin interaksi social yang kuat satu sama lain akan menghasilkan masyarakat yang kuat. Bagi seorang muslim, inilah yang menjadi motivasi bagi dirinya dalam membangun masyarakatnya.

Dengan menjalani peran seperti ini maka seorang muslim akan terus termotivasi, bersemangat dan bergairah dalam hidup. Kemampuan berpikir dan berzikir ia padukan dan sinergikan. Bagaimana tidak, ia telah mengenal dan menggali potensi yang ada dalam dirinya. Ia akan terus berkarya sehingga memberikan manfaat bagi orang lain, sebagaimana lebah terus membuat madu agar dapat dimanfaatkan manusia. Baginya, dunia yang dihadapi bukanlah dunia yang keras dan cadas. Bukan dunia yang sakit dan penuh kegelapan. Dunia yang mereka hadapi adalah keindahan. Hidup ini adalah anugerah Tuhan yang indah. Maka akan tercetus suatu ungkapan tentang kehidupan dari mulutnya,

Life is a challenge, meet it.
Life is a song, sing it.
Life is a dream, realize it.
Life is a game, play it.
Life is love, enjoy it.

Hidup adalah tantangan, sambutlah.
Hidup adalah senandung, nyanyikanlah.
Hidup adalah impian, wujudkanlah.
Hidup adalah permainan, mainkanlah.
Hidup adalah cinta, nikmatilah.

 

* * *

 

 
Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul