Pendahuluan
Indahnya kesederhanaan

 

Un arbre c’est vert
Tous les arbres sout verts
On a tellement vu d’arbres verts
Que l’on a oublie qu’il existe
Aussides arbres roses
Mais si tous les abres etaient roses
Je vous aimais parle d’un arbre vert
Le monde est beau

Pohon itu hijau
Pepohonan itu hijau
Kita terlalu sering melihat pohon hijau
Sehingga kita sering lupa bahwa
Ada pula pohon merah
Tetapi bila semua pohon berwarna merah
Aku akan senang berkisah padamu
Tentang pohon yang hijau
Betapa indahnya dunia

Kenzo Takada

 

Saat bangun pagi hari, apakah yang anda inginkan?

Ya, tentu anda ingin urusan hari itu lancar. Anda tidak ingin menemui masalah, apalagi masalah yang menjengkelkan di hari itu. Intinya, hari itu anda ingin bahagia, tidak ingin sedih. Ingin bersuka tak ingin berduka.

Pertanyaannya adalah, bagaimanakah caranya? Apakah bahagia dan sedih adalah sebuah pilihan. Atau suatu keadaan yang mau tidak mau senantiasa singgah di diri kita secara acak. Timbul tenggelam. Kalau rasa sedih sedang menghinggapi kita, bisakah kita bersuka? (inginnya sih, bisa)

Memang senang dan sedih, suka dan duka adalah dua perasaan yang berlawanan yang diberikan Allah kepada manusia. Jadi, setiap manusia pasti mengalami perasaan suka maupun duka. Suatu saat berduka, suatu saat berduka. Bahkan sekali – sekali kadang tercampur. Suka dan duka menjadi satu. Setiap manusia mengalami kesedihan dan kebahagiaan dalam porsi waktu yang sama. Mustahil seseorang, apalagi dalam seluruh hidupnya, mengalami rasa duka terus – menerus, atau bahagia senantisa. Orang kaya berlimpah harta dan berkendudukan yang kita menyangkanya selalu bahagia, pasti ada rasa duka yang hinggap sewaktu – waktu di dalam dirinya. Demikian pula, seseorang yang selalu hidup dalam kemiskinan tidak berarti kebahagiaan tidak pernah singgah dalam dirinya. Suka dan duka singgah di diri manusia dalam kurun waktu yang sama. Itu adalah sebuah keniscayaan.

Jadi, bisakah kita memilih selalu bahagia? Tentu saja bisa, Jawabanya sederhana. Kita bisa bahagia pada hari itu apabila kita menginginkan bahagia dan berusaha untuk menjadi gembira. Saya ingin hari ini bahagia dan saya insya Allah akan bahagia. Bagaimana bisa? Bukankah masalah tiap hari yang membuat hati kita gundah selalu saja ada? Betul. Jika kita menginginkan bahagia kemudian menemui hal – hal yang menyedihkan hati maka kita harus ingat bahwa kesedihan yang Allah berikan kepada kita pasti ada hikmah di dalamnya. Pikiran kita lalu mengkaji ada apa di balik kesedihan yang dia alami. Dengan pikiran yang jernih ia akan segera menemukan hikmah yang terkandung dalam kesedihannya. Selalu saja ditemukan hikmah yang bermanfaat buat dirinya. Apakah manfaatnya besar atau kecil, tapi selalu ada.

Dari situlah terbetik sedikit rasa lega, bahwa ternyata ada hikmah di dalam suatu kesedihan. Kita tidak lagi menjadi sedih Bahkan dengan besarnya hikmah yang diterima, seseorang justru bersyukur kesedihan itu dating. Akhirnya terucap, “Alhamdullilah. Allah masih saying kepada kita.” Cukup sederhana bukan?

Hidup ini memang sederhana. Untuk mendapatkan kebahagiaan dan keindahan dalam hidup juga sederhana. Seperti sajak di atas yang disampaikan Kenzo Takada, seorang disainer bertaraf internasional dari Jepang. Ia mengemukakan keindahan dunia. Keindahan yang ada ternyata adalah kesederhanaan itu sendiri. Dedaunan yang berwarna hijau yang ada di sekeliling kita ternyata menyemburatkan keindahan dan kerumitan yang kita buat sehari – hari telah memalingkan kita dari kesederhanaan yang indah itu.

Indah, bahagia dan sederhana. Bukan sesuatu yang rumit. Seseorang menginginkan kebahagiaan resepnya cukup sederhana. Anggaplah hidup sebagai karunia. Apa yang di karuniakan kepada kita sungguh patut kita syukuri. Apabila karunia-Nya sesuai dengan keinginan kita maka ucapkanlah, “Alhamdullilah.” Jika ternyata karunia-Nya tidak seperti ekspektasi kita, maka bersabarlah. Allah telah memberikan yang terbaik buat kita dengan karunia tersebut. Ia lebih tahu tentang kita daripada kita sendiri. Seperti firman-Nya.

“ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. “ (Al Baqarah: 216)

Lambat laun dengan pencarian hikmah yang terkandung, seseorang akan mengucapkan syukur. Hikmah yang terkandung dalam suatu musibah, bisa jadi melebihi manfaat dari sebuah karunia. Apalagi Allah sudah menjanjikan apabila ada kesedihan, bergembiralah karena setelah kesedihan ada kegembiraan. Setelah kesulitan ada kemudahan.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(Alam Nasyrah: 6)

Menjadikan hidup indah dan bahagia ternyata cukup sederhana. Bersyukurlah ketika mendapatkan anugerah, bersabarlah saat mendapatkan musibah. Dan jangan lupa, selalu berprangsaka baik kepada-Nya. Allah selalu memberikan yang terbaik pada kita, asal kita memenuhi hak-Nya. Asal kita merasa bahwa diberikan kepada kita adalah yang terbaik, insya Allah kebahagiaan selalu menyelimuti kita meskipun musibah sedang menimpa.

Dalam dunia sains pun, sesuatu yang besar kadang tercipta (ditemukan) hanya karena suatu proses sederhana. Sejarah sudah mencatat bagaimana seorang ilmuan terkenal dari Syracuse, Archimedes (287-212 M) yang pusing menentukan berat emas di mahkota Raja Hiero, tiba – tiba menemukan jawabannua ketika sedang berendam di bak mandi, seperti dikutip Yohanes Surya dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar tetap bidang fisika, ditemukannya hukum Achimendes itu secara tiba – tiba (emerge). Sederhana dan justru tidak rumit. Dalam makalahnya yang dimuat di Koran Tempo juga diceritakan bagaimana James Watson menemukan heliks ganda sebegai bentuk rangkaian DNA ketika ia naik tangga yang melingkar. Dengan ide sederhana itu Watson meraih hadiah Nobel bidang kedokteran.

Murray Gell-Mann menemukan kaidah interaksi strange partikel juga secara kebetulan (sederhana). Newton menemukan hukumnya ketika sedang duduk – duduk di bawah pohon apel. Demikian juga Benyamin Franklin yang memainkan layang – layang. Artinnya, banyak hal besar yang ditemukan sederhana. Demikian pula kebahagiaan dan keindahan. Kedua hal tersebut tidaklah rumit. Ia sederhana, simple. Namun kesederhanaan itu mampu menciptakan banyak hal secara kompleks. Kesederhanaan membuat kita menjadi besar. Tak salah Ian Stewart mengatakan, “Simple system can exhibit complex behavior, complex system can exhibit simple behavior.”

Oleh karena itu, sederhanalah dalam menjalani hidup. Sederhanalah dalam mendapatkan kebahagiaan. Maka keindahan akan kita jumpai di dalamnya. Sederhana itu indah. Kenzo Takada menggambarkan dedaunan yang sederhana itu sebagai sesuatu yang indah.

Daun – daun yang menua akan berguguran. Jatuh di atas tanah. Keindahan yang tadinya menyala tatkala berada di pohon berubah manfaatnya. Daun yang berserakan di tanah lama kelamaan akan berubah menjadi humus. Ia memberikan manfaat bagi tanah meskipun tidak lagi berupa keindahan, tapi berupa kesuburan.

Anda yang sedang dan akan membawa buku ini, diharapkan mendaparkan keindahan karena isinya cukup sederhana. Hanya sebuah perenungan yang sehari – hari muncul di benak kemudian tertuang dalam tulisan atau ceramah. Diharapkan pula, meski- pun barangkali tidak banyak, dedaunan tersebut terdapat menjadi humus bagi kehidupan Anda. Artinya, dengan seizin Allah diharapkan buku ini bisa memberikan manfaat bagi kehidupan Anda. Sekali lagi, insya Allah.

 
Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul