Pengantar Penulis
Hidup dari waktu ke waktu, detik ke detik, selalu mengandung hikmah. Alhasil, dalam kehidupan kita ini sebenarnya bertaburan hikmah di mana – mana. Belum lagi, apabila kita belajar dari hikmah orang lain, yang juga tak terkira banyaknya.
Namun tidak banyak kalangan yang mencoba menyarikan hikmah tersebut, minimal yang terjadi dalam dirinya. Serentetan panjang kehidupan yang dijalani penulis penuh dengan hikmah. Beberapa renungan peristiwa yang dijalani tersusun menghasilkan seuntaian hikmah. Tentu ada pasang surut. Suka dan duka, sedih dan gembira. Tapi dari semua, ada “benang merah” yang menunjukan kebesaran Ilahi. Semacam “wahyu” atau ilham yang kemudian bisa menjadi acuan dalam menjalani hidup selanjutnya, di samping tentu Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman. Atau setidaknya itu merupakan pembuktian empiris dari firman – firman-Nya, baik secara qauliyah maupun kauniyah..
Untaian hikmah tersebut sungguh sayang kalau tidak bisa “dinikmati” orang lain. Barangkali setiap orang memilikinya, namun karena keterbatasan waktu atau kemampuan mengungkapkan maka rangkaian hikmah tersebut tidak tersususn secara tulisan.
Dari perenungan ruhiyah atas kehidupan yang dijalani selama ini penulis mencoba mengkristalkannya. Menjadikannya untaian hikmah yang, berharap bisa bermanfaat. Menjadi kebahagiaan tersendiri bahwa apa yang telah dikristalkan tersebut memberikan manfaat bagi pembaca, walaupun sedikit.
Namun untaian hikmah ini tidak akan terjadi begitu aja. Ada rentetan peristiwa di jalani secara pribadi selama puluhan tahun yang melahirkan hikmah ini. Ada perenungan yang mendalam terus – menerus berlangsung. Ada beberapa pihak lain yang berkontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik pelaku langsung maupun sekedar teman diskusi maupun sebagainya.
Untuk itu patutlah ucapan terima kasih disampaikan kepada ayah bunda, istri, anak, cucu dan handai taulan. Mereka semua telah memeberi mutiara indah kehidupan. Dengan cara masing – masing mereka memberikan inspirasi dalam kontemplasi Bagaikan mutiara air yang menggantung di kelopak mata, mereka terungkap menjadi bahasa tulisan.
Sekali lagi, tiada lain maksud untaian mutiara hikmah sebagai hasil perenungan spiritual ini diangkat agar memberikan manfaat bagi yang membacanya dan juga merenungkannya. Semoga apa yang kita lakukan ini bisa menjadi amal saleh dan tabungan kita di dunia, maupun di akherat kelak. Amin
Jakarta, April 2004