Bab XIII
Sosok Muslim ideal

 

Seorang muslim sudah barang tentu seharusnya ideal, dibandingkan manusia nonmuslim. Ia seharusnya, yang diserahi Allah untuk memimpin dunia, membawanya kearah perbaikan. Sebab risalah yang diyakininya adalah sempurna. Seorang muslim mempunyai tuntunan hidup yang dapat dijadikan pegangan dunia akhirat. Ia memiliki sebuah kitab suci yang tidak lekang oleh zaman. Dengan panduan Al-Qur'an dan sunnah Nabi saw., sudah seyogianya seorang muslim mrnjadi sosok yang semourna. Seorang muslim menjadi maju karena ia memegang prinsip ajarannya. Sementara umat lain maju justru kerena meninggalkan kitab sucinya.

Artinya, kalau seorang muslim sosoknua masih tidak ideal di maa orang lain, maka ia belum mengamalkan ajarannya, Padahal misi dari Nabi Muhammad saw. diturunkan ke dunia ini adalah untuk menampilkan sosok yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Ia menyempurnakan akhlak dari ajaran – ajaran nabi terdahulu. Beliau bersabda,

“Tidaklah aku diutus ke dunia ini, melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Dengan demikian, mestilah lahir dari seorang muslim itu akhlak yang baik, tentu dengan akidah yang kuat dan ketaatannya pada ajaran agama. Sosok atau performance seorang muslim yang baik setidaknya memenuhi lima criteria berikut ini.

 

A. Kasih sayang (Compassionate)

Seorang muslim yang ideal adalah orang yang penuh kasih sayang. Ia memberikan kehangatan bagi orang lain, terutama bagi saudara dan kawan – kawannya. Apabila dirinya ada, maka lingkungannya merasakan imbas kasih sayangnya. Semuanya suka dia ada. Kehadiran dan kasih sayangnya ditunggu semua orang.

Dengan kasih sayang yang dimikinya, ia akan selalu mengerjakan kebajikan. Seseorang yang kehilangan kasih saying ia cenderung bersikap apriori. Orang lain pun tak menyampaikan kasih sayangnya kepadanya. Kita bisa melihat contoh kecil dalam sebuah rumah tangga. Ayanh dan ibu yang sejak kebil hingga dewasa merawat sang anak dengan penuh kasih saying, akan menghasilkan seorang anak yang saleh dan pandai membalas budi. Dalam Al-Quran Allah sudah menegaskan,


“Dan tendahkanlah dirimu terhadap mereka berdia dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah,
‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
(al-Israa':24)

Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya senantiasa berkasih sayang terhadap sesamanya. Mereka swlalu mengutamakan kepentingan sahabat atau orang lain. Sering kita mendengar riwayat bahwa dalam sebuah peperangan terdapat beberapa sahabat yang kehausan. Seorang sahabat yang membawakan segelas air minum berusaha menolong mereka yang tergeletak kehausan. Ketika air akan diminumkan, terdengar sahabat yang lain merintih kehausan. Maka ia enggan meminumnya dan meminta orang tersebut untuk memberikannya pada sahabat yang sekarat itu. Namun demikian, ketika akan diminum, ada sahabat lain yang merintih dan ia pun mengutamakan sehabatnya yang lain itu. Akhirnya, karena harus bolak – balik membawa minuman dari saru sahabat ke sahabat yang lain, maka mereka tidak tertolong. Mereka meninggal karena mengutamak sahabarnya yang menderita meskipun ia juga menderita. Mengenai mereka yang penuh kasih sayang tersebut Allah sudah menyebutkannya dalam Al-Qur'an.


“Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang – orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang kafir tetapi berkasih sayang terhadap sasama mereka…”
(al-fat-h: 29)

Dalam banyak ayat, Allah memang memerinyahkan kaum muslim untuk menebarkan kasih sayangnya kepada sesama.


“…Sesungguhnya rahmat Allah sangay dekat kepada orang – orang yang berbuat baik.” (al-A'raaf: 56)

Sifat kasih sayang sangat dianjurkan. Sifat ini sebagai rafleksi sifat Allah Yang Rahmaan dan Rahiim. Dan barangsiapa mengamalkannya maka Allah akan menambah kasih sayang kepada orang tersebut. Nabi saw bersabda,

“Barangsiapa idak mempunyai kasih sayang terhadap sesama manusia, maka tidak akan pernah dikasihsayangi Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah hadits Qudsi Rasulullah pernah menyampaikan bahwa Allah berfirman,

“Kasih sayang-Ku telah mendahului kemurkaan-Ku” (HR Muslim)

Artinya, karena kasih sayangnya yang luas maka kalau ada seorang hamba yang sesat dan ingin bertobat maka Allah pasti menerimanya kembali.

Kadang orang – orang yang kehidupannya keras jauh dari kasih sayang. Padahal Nabi dan para sahabar yang tinggal di iklim yang lebih panas, keras dan cadas berkasih sayang terhadap keluarga dan sesame. Babi saw, nahkan gemar mencium cucunya untuk membuktikan kasih sayangnya. Dalam sebuah hadits,

“Sekelompok orang Arab datang menghadap Rasul seraya berkata, ‘Adakah kalian selalu mencium anak – anakmu?' Jawab Rasulullah saw, ‘Ya, menciumnya.'Lalu mereka berkata,'Semi Allah, kami tidak pernah mencium mereka.'aha Nabi saw. bersabda,'Apakah aku mampu menguasai jika Allah mencabut kasih sayang dari hatimu?” (HR Bukhari dan Muslim)

Nabi saw. juga biasa mencium Hasan Bin Ali, cucunya. Ketika itu disebelahnya ada seorang sahabat bernama Aqra bin Habis. Lalu Aqra berkata,”Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak. Namun belum pernah ada satu orang pun di antara mereka yang aku cium .”Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa tidak memiliki kasih sayang maka dia tidak akan pernah disayangi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sifat kasih sayang yang terpencar dalam diri seorang muslim akan menjadikan dirinya bersinar di antara manusia yang lain. Kasih sayang pada dasarnya dibutuhkan oleh setiap insane. Tak salah jika Rasulullah saw. mengutamakan sifat satu ini agar menjadi perilaku sahabat – sahabatnya pula, termasuk kita sebagai umatnya.

 

B. Gagah Berani (Courageous)

Seorang muslim yang ideal adalah mereka yang berani dan gagah perkasa. Bukan lembek serta penakut. Tentu keberaniannya adalah dalam rangka membela dan memperjuangkan kebenaran. Karena seorang muslim mempunyai misi mulia maka mau tidak mau ia harus memperjuangkan misi itu dengan berani. Jangan sampai karena mentok dan dihadang orang maka ia kendur dan mengundurkan niatnya. Kalau demikian, bagaimana misi Islam sebagai rahmatan lil alamin bisa menyebar ke seluruh sunia?

Allah telah menggambarkan sifat orang – orang yang berani dalam Al-Qur'an sebagai berikut,


“Yakni orang – orang yang menaati Allah dan Rasul-Nya yang kepada mereka ada orang – orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepasa mereka, ‘ maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘ Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik – baik Pelinsung.”
(Ali Imran : 173)

 
“…Berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela….”
(al-Maa'idah: 54)


“Yakni orang – orang yang menyampaikan risalah – risalah Allah, mereka tidak takut kepanya dan
tidak merasa takut kepada seorangpun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan.”
(al-Ahzab: 39)

Untuk menyampaikan kebenaran membutuhkan keberanian. Para LSM Green Peace yang berdemonstrasi menentang penggunaan senjata yang diarahkan kepada mereka. Seorang muslim seharusnya lebih berani dari itu sebab misi yang diembannya tidak saja mencegah kerusakan lingkungan tapi juga kerusakan moral dan material yang lain. Nabi saw. memberikan bekal bagi umatnya dengan sabdanya,

“Janganlah kewibawaan manusia menghalangi salah seorang di antara kamu untuk berkata benar, apabila dia melihat atau menyaksikan atau mendengarnya.” (HR Ahmad)

Kadang manusia merasa takut kepada akibat yang akan menimpanya. Mereka takut hirupnya susah. Mereka takut dipukul, takut diusir, dan takut disiksa. Takut jatuh menjadi miskin. Padahal Allah sedah menjamin kebutuhannya jika kita berani menyampaikan kebenaran.

“Allahlah yang mencukupi segala kebutuhan kita dan Dialah sebaik – baik Zat tempat kita berserah diri.”

Kalimat diatas diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika dilempar ke dalam api oleh Raja Namrudz. Juga diucapkan oleh Nabi Muhammad ketika ditakut – takuti dengan ucapan.

“Sesungguhnya sekelompok manusia telah berkumpul kepadamu maka takutlah kepada mereka.” Rasulullah menjawab, “Yang mencukupi kami adalah Allah dan Dialah sebaik – baik Zat untuk berserah diri.” (HR Bukhari)

Untuk menambah keberanian atau keteguhan saat menerima tentangan dan cobaan maka Rasulullah mengajarkan doa, “hasbiyallah wa ni'mal wakil ni' mal maula wa ni'man nashir.”

Maka jadilah berani untuk memperjuangkan kebenaran meskipun pahit. Nabi mengatakan, “Qulil haqqa wa lau kana murran. ‘Katakan kebenaran walaupun pahit'.”

 

C. Kreatif

Seorang muslim yang ideal tentu saja seorang yang kreatif. Ketika menghayati makna ‘iqra bismi rabbikaladzi khalaq' , maka ia akan mengaplikasikannya dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Ia pandai membaca informasi dan situasi agar misinya menjadi mudah. Seorang yang kreatif adalah mereka yang paham akan suatu kondisi dan mampu menyelesaikan problematika yang ada.

Kehadiran seorang muslim yang mempunyai sosok ideal akan ditunggu – tunggu oleh lingkungannya. Mereka butuh kreativitasnya untuk mneyelesaian problemnya secara islami. Maka orang seperti ini sangat didambakan masyarakat. Sehingga wajiblah bagi seorang muslimuntuk hadir di tengah masyarakat dalam sosok yang kreatif. Tanpa hal itu masyarakat akan meninggalkannya. Kalau demikian, bagaimana bisa misi Islam tercapai?

Seorang muslim yang kreatif bisa di gelari dengan ulul albab, yaitu orang yang selalu mencermati ciptaan Allah. Ia mengambil pelajaran dari setiap sesuatu yang Allah ciptakan. Dengan demikian kreativitasnya akan selalu terasah. Mereka itulah yang disebut Allah dalam Al-Qur'an sebagai ulil albab

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda – tanda bagi orang – orang yang berakal. Yaitu orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia – sia, Mahasucu Engkau, maka perliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran : 190 – 191)

Saat kaum muslimin mengalami zaman keemasan, berbagai perkembangan terutama di bidang ilmu pengetahuan terjadi sangat pesat. Mereka menerjemahkan karya – karya klasik Yunani, menggali dan menemukan kaidah – kaidah dalam bidang kedokteran, kimia, fisika, biologi, matematika dan sebagainya. Dengan kecerdasan dan kreativitas mereka, dunia menjadi terang. Dunia menjadi sejahtera dan dinamis.

 

D. Integritas Tinggi

Integritas adalah kemampuan profesional yang tinggi diimbangi oleh sikap moral yang baik dari orang tersebut. Setiap pekerjaan yang diserahkan kepada dirinya dikerjakan dengan baik. Ia mempunyai kemampuan yang tinggi untuk pekerjaan itu.

Al Qur'an menyuruh kita untuk bekerja dengan baik. Hasil kerja kita akan dinilai dan diambil manfaatnya oleh orang lain. Oleh karena, orang lain menggantungkan suatu pekerjaan kepada kita, maka sudah semestinya pekerjaan tersebut dilakukan dengan sebaik mungkin. Dalam Al-Qur'an dikatakan,

“… Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (at-Taubah:105)

Bagi mereka yang profesional tentu akan dilirik oleh orang lain untuk diberikan apresiasi. Misalnya, ada seorang pegawai yang ahli mengerjakan sesuatu maka apabila perusahaan tempat dia bekerja tidak memberikan apresiasi maka perusahaan lain akan berebut merekrutnya.

Integritas adalah kemampuan disertai akhlak. Tidak sedikit para profesional yang mempunyai kemampuan tinggi, tapi tidak dibarengi oleh akhlakdan sikap moral yang baik. Jadilah mereka koruptor atau penggerogot uang perusahaan. Orang semacam ini tidak saja tidak ideal, tapi justru dijauhi dan menjadi musuh masyarakat.

 

E. Menjadi Teladan

Contoh atau teladan biasanya yang baik-baik. Seorang salesman mobil mempersilahkan customer-nya untuk test drive dengan mobil yang kondisinya paling bagus. Seorang SPG (Sales Promotion Girl) yang menawarkan produk makanan baru di supermarket, mempersilahkan pengunjung mencicipi makan tersebut yang sudah dipilih dengan baik. Pendeknya, kalau sesuatu itu bagus pasti dijadikan contoh.

Agak berbeda antara contoh dengan teladan. Biasanya teladan adalah untuk yang baik-baik saja, sementara contoh bias baik bias jelek. Seorang ibu yang jengkel karena anaknya tidak mau makan, akan mengambil contoh orang yang kurus dan sakit-sakitan agar sang anak mau makan. Karena itulah, sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor dalam semua diktat kuliahnya menggunakan kata teladan untuk contoh soal.

Seorang muslim, idealnya menjadi teladan bagi masyarakat umum. Sebab, ia adalah umat yang terbaik. Umat yang terbaik tentu menjadi teladan. Firman Allah dalam Al-Qur'an,


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang makruf, dan
mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka,
di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(Ali Imran:110)

Rasulullah saw. Dengan sosoknya yang mulia itu pun menjadi teladan tidak saja bagi umatnya tapi juga umat yang lain. Ketinggian akhlaknya membuat orang hormat dan ingin menirunya. Sudah seharusnya umatnya yang sekarang menjadi penerus perjuangan beliau menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya.

Seorang muslim yang menjadi teladan kebaikan buat orang lain tidak saja memberikan manfaat baik untuk sesamanya. Tetapi lebih dari itu, Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda baginya. Pahala orang yang mengikuti dirinya akan dilimpahkan kepadanya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengikutinya itu. Subhanallah. Sungguh berbahagialah orang Islam itu.

Teladan

Al-Hadits
Siapa memberi teladan
Berbuat kebaikan
Ia mendapat pahala
Dan pahala siapa saja
Yang menirunya
Hingga berakhir masa

Siapa orang contohkan
Berbuat kejahatan
Ia mendapat dosa
Pula dosa siapa saja
Yang mengikutinya
Sampai akhir masa

 

 

* * *

 

 

 
Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul