Bab XII
Problematika Hidup dan Kiat Menghadapinya
Aa Gym, seorang dai kondang, pernah berkata bahwa suatu hal yang pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah yang disebut masalah atau persoalan hidup, dimana pun, kapan pun, apa pun, dan dengan siapa pun, semuanya adalah potensi masalah. Namun andaikata kita cermati dengan saksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap orang pun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyak, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya. Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu, siapa pun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik, benar, indah, dan bahagia adalah mutlak harus terus-menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka persoalan yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung jawab.
Kelalaian kita untuk menyadari pentingnya bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang cara menghadapi hidup kemudian kemalasan kita dalam melatih dan mengevaluasi ketrampilan dalam menghadapi persoalan hidup, berarti akan membuat hidup ini hanya perpindahan kesengsaraan, penderitaan, kepahitan, dan tentu saja kehinaan yang bertubi-tubi. Na’udzubillah.
A. Kenyataan Hidup yang Tidak Sesuai Harapan
Kenyataan hidup yang tidak sesuai harapan diatasi dengan hal berikut.
1. Siap
Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keinginan. Kita memang diharuskan memiliki keinginan, cita-cita, rencana yang benar, dan wajar dalam hidup ini. Bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apa pun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah swt. berikan kepada kita.
Namun bersamaan dengan itu, kita pun harus sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.
Dalam hidup ini, ternyata sering kali atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya. Andaikata kita, selalu terbenam dalam tindakan yang salah menyikapinya, maka betapa terbayangkan hari-hari akan berlalu penuh kekecewaan, penyesalan, keluh kesah, kedongkolan dengan hati yang galau. Sungguh rugi, padahal hidup ini hanya satu kali dan kejadian yang tak diduga pun pasti akan terjadi lagi.
Ketahuilah kita punya rencana, Allah swt. pun punya rencana. Dan, yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah swt.. Yang lebih lucu serta menarik, yaitu kita sering marah dan kecewa dengan suatu kejadian, namun setelah waktu berlalu ternyata “kejadian” tersebut begitu menguntungkan, membawa hikmah yang sangat besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang idharapkan sebelumnya.
Alkisah ada dua orang kaka beradik penjual tape yang berangkat dari rumahnya pagi hari seusai shalat subuh dari sebuah dusun, pada pagi hari seusai shalat subuh. Di tengah pematang sawah, tiba-tiba pikulan sang kakak berderak patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal, dan merasa sangat sial. Jualan belum, untung belum datang, malah modal pun habis terbenam. Dengan penuh kemurungan, mereka kembali ke rumah. Akan tetapi, dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan. Ternyata, kendaraan yang biasa ditumpangi para pedangan tape terkena musibah sehingga seluruh penumpannya cedera, bahkan diantaranya ada yang cedera berat, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang selamat hanyalah dirinya, yang tidak jadi berjualan karena pikulannya patah. Subhanallah, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap kesialan besar, dua jam kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.
Oleh karena itu, “fa idzaa azamta fa tawaqqal alallah,” bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar, namun hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah swt.. Siapkan mental kita untuk menerima apa pun yang terbaik menurut ilmu Allah swt.. Allah swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 216,
“Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi Allah swt. lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal buruk dalam pandangan Allah swt..”
Maka, jika dilamar seseorang, bersiaplah untuk menikah dan bersiap pula kalau tidak jadi nikah. Karena, yang melamar kita belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang senantiasa diminta oleh dirinya maupun orang tuanya. Kalau mau mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima di tempat yang dicita-citakan. Namun siapkan pula diri Anda, andai kata Allah Yang Mahatahu menetukan bahwa bakat, karakter dan kemampuan kita sebenarnya akan menempatkan di tempat yang lebih cocok, walaupun tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.
Melamar kerja, lamarlah dengan penuh kesungguhan namun hati harus siap andai kata Allah swt. tidak mengizinkan. Oleh karena Allah swt. Mahatahu tempat jalan rezeki yang lebih berkah.
Berbisnis ria, jadilah seorang professional yang andal, namun ingat bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita. Maka, bersiaplah menerima untung terbaik menurut perhitungan Allah swt.. Demikianlah dalam segala urusan apa pun yang kita hadapi.
2. Ridha
Siapa menghadapi apa pun yang akan terjadi. Apabila terjadi, satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar ridha / rela akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian ? Karena walaupun dongkol, uring-uringan, dan kecewa berat tetap saja kenyataan itu sudah terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka, lebih baik hati kita ridha saja menerimanya.
Misalnya, kita memasak nasi, tetapi gagal dan malah menjadi bubur. Andai kata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur. Maka, daripada marah menzalimi orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati mendidih, lebih baik pikirkan dan tubuh kita disibukkan pada hal yag lain, seperti mencari bawang goreng, ayam, cakwe, seledri, keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita tidak jadi sengsara, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.
Kalau kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu kecil nyasar entah dari mana dan mendarat tepat di kening kita, hati kita harus ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol. Tentu saja, ridha atau rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total sehingga tidak bertindak apa pun. Itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridha hanya amalan, hati kita menerima kenyataan yang ada, tetapi pikiran dan tubuh wajib iktiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah swt.. Kondisi hati yang tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal, dan bermutu.
Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, sibuk menyesali dan mengandai-andai sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak mungkin terjadi. Sungguh suatu kesengsaraan yang dibuat sendiri.
Misalkan tanah warisan telah dijual tahun yang lalu dan saat ini ternyata harga tanah tersebut melonjak berlipat ganda. Orang-orang yang malang selalu saja menyesali, mengapa dahulu tergesa-gesa menjual tanah. Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan lebih beruntung. Biasanya, hal ini dilanjutkan dengan bertengkar saling menyalahkan sehingga semakin lengkap saja penderitaan dan kerugian karena memikirkan tanah yang nyata-nyata telah menjadi milik orang lain.
Yang berbadan pendek, sibuk menyesali diri mengapa tidak jangkung. Setiap melihat tubuhnya ia kecewa, apalagi melihat yang lebih tinggi dari dirinya. Sayangnya, penyesalan ini tidak menambah satu sentimeter pun. Yang memiliki orang tua kurang mampu atau telah bercerai, atau sudah meninggal, sibuk menyalahkan dan menyesali keadaan. Sungguh banyak sekali kita temukan kesalahan berpikir, yang tidak menambah apa pun selain menyengsarakan diri.
Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan hidup, kenanglah perjalanan hidup kita yang telah lalu dan kita harus benar-benar arif menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan keluh kesah karena semua itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi memperparah masalah.
B. Hidup Terasa Sulit
Jika hidup terasa sulit atasi dengan dua hal berikut.
Jangan mempersulit diri. Andai kata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan yang aslinya. Tentu pada akhirnya kita akan merasa jauh lebih nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.
Orang yang menghadapi masa pensiun, terkadang jauh sebelumnya sudah merasa sengsara. Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil, yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerja pun gajinya sudah pas-pasan. Di tambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah yang belum lunas dan utang yang belum terbayar. Belum lagi sakit, tidak ada anggaran untuk pengobatan, sementara umur makin tua, fisik kian lemah, semakin panjang derita kita buat, semakin panic menghadapi pensiun. Tentu saja boleh jadi kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi, namun seharusnya terkendali dengan baik. Jangan samapai perkiraan itu membuat kita putus asa dan sengsara sebelum waktunya.
Begitu banyak orang yang sudah pensiun ternyata tidak segawat yang diperkirakan, bahkan jauh lebih tercukupi dan berbahagia daripada sebelumnya. Apakah Allah swt. Yang Mahakaya akan menjadi kikir terhadap para pensiunan atau terhadap kakek-kakek dan nenek-nenek? Padahal, pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani, yang tidak memengaruhi janji dan kasih sayang Allah.
Maka, di dalam menghadapi persoalan apa pun jangan hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan pertolongan Allah swt.. Bukankah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa lolos?
Yakinlah bahwa Allah Yang Mahatahu segalanya pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.” (Alam Nasyrah:5-6)
Sampai dua kali Allah swt. menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus-menerus mendapatkan kesulitan karena dunia bukanlah neraka. Demikian juga tidak mungkin dalam hidup ini terus-menerus memperoleh kelapangan dan kemudahan karena dunia bukanlah surga. Segalanya pasti akan ada akhirnya dan dipergilirkan dengan keadilan Allah swt..
Evaluasi diri. Ketahuilah, hidup ini bagaikan gaung di pegunungan. Apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita. Artinya, segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”(az-Zalzalah: 7-8)
Allah swt. Mahapeka terhadap apa pun yang kita lakukan. Dengan keadilan-Nya, tidak akan ada yang meleset. Siapa pun yang berbuat, sekecil dan setersembunyi apa pun kebaikan, niscaya Allah swt., akan membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik menurut-Nya. Sebaliknya, kezaliman sehalus apa pun yang kita lakukan sperti menzalimi orang lain, akan mengundang bencana balasan dari Allah swt., yang pasti lebih getir dan gawat. Naudzubillah.
Andai kata ada batu yang menghantam kening kit, selain hati harus ridha, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu ini tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala ini begitu kecil? Bisa jadi semua ini adalah peringatan bahwa kita sangat sering lalai bersujud atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, pasti segalanya ada hikmahnya.
Dompet hilang? Mengapa dari satu bus hanya kita yang ditakdirkan kehilangan dompet? Jangan sibuk menyalahkan pencopet karena memang sudah jelas ia salah dan memang begitu pekerjaannya. Renungkanlah, boleh jadi kita ini termasuk si kikir, si pelit, dan Allah Mahatahu jumlah zakat dan sedekah yang dikeluarkan. Tidak ada kesulitan bagi-Nya untuk mengambil apa pun yang dititipkan kepada hamba-hamba-Nya.
Anak nakal, suami kurang betah di rumah dan kurang mesra, rezeki seret dan sulit, bibir sariawan terus-menerus, atau apa saja kejadian yang menimpa dan dalam bentuk apa pun adalah sarana yang paling tepat untuk mengevaluasi segala yang terjadi. Pasti ada hikmah tersendiri yang sangat bermanfaat, andai kata kita mau bersungguh-sungguh merenunginya dengan benar.
Jangan terjebak pada sikap yang hanya menyalahkan orang lain karena tindakan emosional seperti ini hanya sedikit sekali memberi nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan, apabila tidak tepat dan berlebihan, akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.
Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, dengan mengubah diri, berarti pula kita mengubah orang lain. Camkan bahwa orang lain tidak hanya punya telinga, tetapi mereka pun memiliki mata, perasaan, pikiran yang dapat menilai siapa diri kita yang sebenarnya.
Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri karena hal itulah yang menjadi keuntungan bagi diri dan dapat mengundang pertolongan Allah swt..
C. Bimbang, Tidak Ada Pegangan
Bimbang, tidak ada pegangan, atasi dengan hal berikut.
Hanya Allahlah Satu-satunya Penolong. Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan izin Allah swt., baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung jin dan manusia seluruhnya untuk mecelakakan kita, demi Allah, tidak akan jatu satu helai rambut pun tanpa izin-Nya. Begitu pula sebaliknya, walaupun bergabung jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu tidak pernah akan datang satu sen pun tanpa izin-Nya.
Mati-matian kita ikhtiar dan meminta bantuan siapa pu, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi yang kita harapkan. Maka sebodoh-bodohnya manusia adalah orang yang paling berharap dan takut kepada selaian Allah swt.. Ituliah biang kesengsaraan dan biang menjauhnya pertolongan Allah swt..
Ketahuilah, makhluk itu, “La haula wala quwata illa billahil’aliyyil ‘azhim,” ‘tiada daya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah Yang Mahagung’. Asal kita hanyalah dari setetes sperma, ujungnya jadi bangkai, kemana-mana membawa kotoran.
Allah menjanjikan dalam surah ath-Thalaaq ayat 2 dan 3,
“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertakwa), niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal hanya kepada Allah, niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya.”
Jika kita menyadari dan menyakininya, kita memiliki bekal yang sangat kukuh untuk mengarungi hidup ini, tidak pernah gentar menghadapi persoalan apa pun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita yang sebenarnya berikut segala jalan keluar terbaik hanyalah Allah swt. Yang Mahasempurna. Allah sendiri berjanji akan memberi jalan keluar dari segala masalah, sepelik dan seberat apa pun, karena bagi-Nya tidak ada yang rumit dpelik, semuanya serbamudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah, tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongan-Nya, kita akan terus berkelanan dalam kesusahan, dari satu persoalan ke persoalan lain, tanpa nilai tambah bagi dunia dan akhirat,… benar-benar suatu kerugian yang nyata.
Terimalah ucapan selamat berbagia, bagi saudara-saudaraku yang taat kepada Allah dan semakin taat lagi ketika diberi kesusahan dan kesenangan, shalatnya terjaga, akhlaknya mulia, dermawan, hati bersih, dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah.
Insya Allah, masalah yang ada akan menjadi jalan pendidikan dari Allah yang akan semakin mematangkan diri, mendewasakan, menambah ilmu, meluaskan pengalaman, melipatgandakan ganjaran, dan menjadikan hidup ini jauh lebih bermutu, mulia, dan terhormat di dunia akhirat.
* * *
|