Bab XI
Menghadapi Rasa Takut

 

“Siapa takut?” Begitu kira-kira bunyi ungkapan yang sering dicetuskan anak muda kepada temannya saat menerima tantangan. Kepopuleran ungkapan tersebut akhirnya diambil oleh sebuah produk shampoo sebagai idiom khasnya. Ya, siapa yang takut menerima tantangan?

Manusia pada hakiakatnya di dalam dirinya diberikan rasa takut oleh Allah. Takut adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa khawatir dan cemas dalam menghadapi sesuatu. Kita masih ingat bagaimana ketika kecil kita tidak berani memasuki ruangan yang gelap karena takut setan. Tatkala malam hari melewati pekuburan, kita selalu mempercepat langkah atau bahkan lari karena akut ada setan pocong, genderuwo, atau kuntilanak. Juga saat menonton film yang menegangkan kadang kita berpegang erat pada sandaran tangan kursi tempat kita duduk atau sesekali menutup wajah dengan telapak tangan. Perasaan takut itu kadang terbayang hingga kini.

Takut memang manusiawi. Tidak perlu sombong, semua manusia pernah merasakan rasa takut. Seberani apapun orang tersebut pada satu masa ia pasti akan merasakan kondisi di mana takut menyelimuti dirinya. Namun pada kesempatan kali ini, kita tidak akan membahas rasa takut terhadap benda atau makhluk, kali ini kita membahas rasa takut yang dialami manusia dalam menghadapi sesuatu.

Rasa takut manusian memang dapat berarti positif, dapat pula negative. Secara bahasa dan kebiasaan masyarakat, seseorang yang dijuluki penakut memang berkonotasi jelek. Seseorang dikatakan penakut berari, dia tidak berani menghadapi sesuatu, kalau dihadapkan pada sesuatu itu ia akan cemas, khawatir atau bahkan akan melarikan diri. Kalau ditilik secara mendalam memang tidak semua rasa takut itu jelek. Takut tidak bisa mengerjakan soal ujian sehingga seorang mahasiswa giat belajar tentu positif. Takut untuk mengerjakan kemaksiatan karena agama melarangnya atau takut kalau Allah murka, adalah hal yang justru dianjurkan oleh agama. Perasaan takut seperti ini harus selalau ditanamkan dan dipupuk pada setiap insan sejak dini. Sebaliknya, berani dalam hal seperti tadi sangatlah dilarang. Berani mengerjakan zina, berani korupsi, berani melanggar aturan lalu lintas, berani menjalani ujian tanpa belajar dan sebagainya seharusnya tidak pernah ada di diri seorang muslim.

Sementara, perasaan takut yang tidak baik seperti takut menerima tantangan menjadi ketua pembangunan masjid atau takut orang yang galak dan sebagainya, selayaknya dihindari. Orang Islam adalah orang yang dinamis. Tidak sepantasnya mereka mempunyai rasa takut semacam itu. Semua tantangan, terutama untuk mengerjakan sesuatu yang baik, harus dijalani dengan penuh ketegaran.

Dalam kehidupan yang dialami manusia, ada tiga rasa takut yang sering menjangkti manusia. Ketiga perasaan takut ini bisa memengaruhi perilaku seseorang dalam hidupnya sehingga dia akan menjauh dari tuntunan agama maupun kehidupan masyarakat. Ketiga rasa takut tersebut adalah takut miskin, takut tidak terhormat, dan takut mati. Apabila seseorang memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap ketiganya, ia akan terjangkit suatu penyakit yang disebut dengan narsisme (drai kata narcissism), yaitu keadaan mencintai diri sendiri secara berlebih-lebihan. Mereka tidak mempedulikan orang lain dan sebaliknya sangat memedulikan dirinya sendiri secara berlebihan. Itulah penyakit yang oleh Rasulullah saw. disebut dengan wahn. Yaitu, hubbud dunya wa karahiyatul maut, ‘cinta dunia dan takut mati'. Mari kita bedah rasa takut tersebut satu per satu.

 

A. Takut Miskin

Banyak manusia di dunia ini yang mengidap penyakit takut miskin. Tiap hari ia membanting tulang untuk mencari harta sebanyak-banyaknya. Bagi orang kantoran, pagi ia sudah berangkat ke kantor pulang jam lima sore, dilanjutkan dengan mengerjakan bisnis lain seperti multi level marketing (MLM). Kadang mengajar atau menjadi kasir di sebuah took dan sebagainya.

Seseorang yang mempunyai paradigma takut miskin biasanya kecintaan kepada materi berlebihan. Orang yang cinta materi berlebihan, takut hartanya terambil oleh orang lain. Jadilah ia orang yang pelit. Jangankan menyumbang atau sedekah, untuk keperluan diri sendiri dan keluarga pun ia malas mengeluarkan uang. Ia akan merasa betapa susah payahnya mencari harta, sementara orang lain gampang saja meminta.

Ada seorang teman di kantor yang suatu ketika mendapatkan proposal pembangunan pesantren di suatu tempat. Maklum saat itu bulan Ramadhan jadi tawaran-tawaran serupa banyak masuk ke atas mejanya. Melihat orang pada mengirimkan permintaan sumbangan ke dirinya langsung tercetus, “Enak aja orang-orang ini. Kita capek-capek kerja, eh mereka tinggal minta.” Temannya satu ruangan rupanya mendengar umpatannya langsung menyahut, “Ya, kalau tidak mau nyumbang sebaiknya tidak perlu berkomentar. Kan kalau yang bersangkutan mendengar tidak enak.”

Seorang yang pelit biasanya amat mencintai hartanya. Orang yang mencintai hartanya biasanya pelit. Jadi, takut miskin, pelit, dan cinta harta benda merupakan lingkaran setan yang merusak tatanan hidup seseorang. Kadang ketamakan seseorang seringkali membuat kita mengelus dada. A. Musthafa Bisri dalam bukunya Canda Nabi dan Tawa Sufi berkisah ada seseorang bernama Abu Aswad. Ia salah seorang tokoh kikir yang juga dikenal sebagai ilmuwan. Suatu hari ketika dia sedang makan, datanglah seorang lelaki dan memberi salam. Abu Aswad menjawab salam tanpa menawari orang tersebut. Ia terus makan sendiri. Lelaki itu pun mendekat dan membuka percakapan, mengambil hati Aswad. “Aku tadi lewat rumahmu,” katanya.

Abu Aswad menjawab,”Memang itu jalanmu kan ?”

Lelaki itu berkata lagi,”Keluargamu baik-baik saja.”

Abu Aswad menjawab,”Memang demikian ketika kutinggalkan tadi.”

Lelaki itu berkata lagi,”Istrimu hamil ya?”

Abu Aswad menjawab,”Dia memang selalu hamil.”

Lelaki itu berkata lagi,”Malah sudah melahirkan.”

Abu Aswad menjawab,”Ya, sudah waktunya sih.”

Lelaki itu berkata lagi,”Anaknya kembar dua.”

Abu Aswad menjawab,”Menuruni ibunya. Ibunya dulu juga begitu.”

Lelaki itu berkata lagi,”Anaknya yang satu meninggal.”

Abu Aswad menjawab, “Mungkin ibunya tak kuat menyusui kedua-duanya.”

Lelaki itu berkata lagi,”Tak lama kemudian saudara kembarnya menyusul mati.”

Abu Aswad menjawab,”Mungkin tak tahan ditinggal saudaranya.”

Lelaki itu berkata lagi, “Ah, enak sekali makananmu, tampaknya.”

Abu Aswad menjawab,”Ya, ini merupakan keberuntunganku.”

Lelaki itu mulai naik pitam, “Keterlaluan kamu Aswad. Caci kawannya.”

Demikianlah, pantas kita mengelus dada menghadapi orang sperti Abu Aswad itu. Rasanya walaupun keterlaluan ada saja orang seperti itu dari zaman ke zaman.

Pelit, medit, kikir, atau bakhil adalah penyakit hati. Ia harus diberantas karena akan menjerumuskan manusia ke jurang ketakutan, yaitu takut miskin. Ketakutan akan menghantui dirinya sehingga akan membuat dirinya makin sengsara. Kita mengenal kisah Qarun (yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan Karun , dan menjadi ungkapan harta karun), yang kunci gudang tempat hartanya disimpan saja berkarung-karung. Unta yang mengangkut karung-karung itu pun berjejer-jejer. Qarun adalah sosok orang kaya yang sombong dan kikir sehingga dibinasakan Allah karena sifatnya itu.

Agar seorang muslim tidak terjebak kepada perasaan takut miskin dan sifat kikir, maka ia mesti membangun dan membiasakan sifat dermawan dalam dirinya. Sifat atau kebiasaan berderma secara ikhlas ini akan membunuh rasa takut, yaitu takut miskin dan menghapus sifat kikir. Ajaran Islam bahkan memberikan insentif yang tinggi bagi seorang muslim yang gemar berderma. Islam menciptakan iklim yang kondusif dengan cara memberikan banyak pahala yang berlipat ganda bagi seorang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Ayat Al-Qur'an yang menyatakan hal itu adalah,

“Perumpamaan seorang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah:261)

Dalam sebuah hadits dikatakan,

“Sifat dermawan dan murah hati seumpama pohon yang akarnya di surga dan cabang-cabangnya bergelantungan di dunia. Barangsiapa berpegang salah satu cabang itu maka akan dibawanya ke surga.”

Nabi Muhammad dan para pendahulu Islam adalah orang-orang yang gemar bersedekah tanpa takut menjadi miskin. Nabi Muhammad saw. bahkan tidak pernah mengatakan “tidak” apabila ada seseorang yang meminta sesuatu darinya. Dan saat memberikannya pun tidak perhitungan. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa seorang Arab Badui yang belum masuk Isam datnag kepada beliau dan meminta diberikan sedekah. Tidak kira-kira, Rasulullah memberikan sedekah kambing kepada orang tersebut yang jumlahnya, dikisahkan, sebanyak kambing yang ada di antara dua bukit. Tentulah orang tersebut sangat bersuka cita dan berlari ke kaumnya seraya berteriak, “Wahai kaumku, masuklah Islam. Karena sesungguhnya Muhammad memberikan hartanya dengan pemberian seperti orang yang tidak akut miskin.” Bayangkan, hanya karena satu saja sifat yang sederhana dalam Islam mampu membawa satu kaum memeluk ajaran Islam karena pengamalan umatnya.

Agama Islam sangat mencela sifat kikir dan memuji sifat dermawan. Seorang muslim yang dapat mengalahkan sifat kikir dalam dirinya dan menggantikannya dengan sifat dermawan tidak akan terkena penyakit takut miskin. Sifat dermawan, di samping anjuran agama dan sifat terpuji, berfungsi sebagai penghalang rasa takut, takut miskin. Jadi, kalau seseorang takut miskin, solusinya perbanyak berderma dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih kecuali ingin mendapatkan ridha Allah semata. Insya Allah, perasaan takut miskin tersebut akan hilang dengan sendirinya.

 

B. Takut Tidak Terhormat

Pada diri manusia ada suatu naluri yang dalam bahasa Arab disebut dengan gharizal baqa'. Terjemahan bebasnya kira-kira ‘naluri untuk mempertahankan diri'. Pada awalnya, naluri ini adalah bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungan. Secara primitive adaptasi ini adalah penyesuaian diri agar dirinya tidak punah. Proses seleksi alam akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang harus bertahan hidup. Prinsip survival of the fittest (yang terkuatlah yang dapat bertahan) merupakan cerminan dari naluri ini.

Dalam bentuk lain, naluri ini menjelma menjadi naluri untuk eksis di tengah-tengah lingkungannya. Kalau naluri bertahan hidup, manusia berkompetisi dengan makhluk lain sedangkan naluri untuk eksis atau keinginan untuk diakui eksistensinya, manusia berkompetisi dengan manusia lain. Dalam hidup, manusia memang butuh pengakuan dari sesamanya. Salah satu bentuk pengakuan adalah bahwa manusia ingin dihormati.

Setiap manusia ingin dihormati, maka ia akan mengembangkan potensi dirinya agar selalu dihormati manusia lainnya. Namun apabila naluri ini berlebihan dalam diri manusia, maka akan timbul berbagai sikap negative sebagai akibat menguatnya naluri tersebut. Di sisi lain, ketakutan akan menjalari dirinya apabila naluri tersebut tidak terpuaskan. Naluri ini memang manusiawi, namun sesuatu yang berlebihan biasanya berakibat tidak baik. Ciri-cirinya adalah timbulnya kecemasan akan segala sesuatu. Setiap kali akan berbuat ia cemas kalau-kalau gagal. Kegagalan adalah rasa malu.

Seorang petenis putrid sedang bertanding di kejuaran dunia yang menentukan peringkat negaranya akan naik atau justru terpuruk. Allah menakdirkan kekalahan di pihak petenis satu ini. Selesai pertandingan, ia terlihat menangis sedih. Padahal dalam olahraga, kalah dan menang itu biasa. Ia merasakan beban yang sangat berat bahwa martabat bangsanya ada di pundaknya, Kalau ia kalah pasti orang-orang senegaranya akan mencacinya atau minimal menunjukkan kekecewaan terhadapnya.

Pada zaman sekarang ini, banyak manusia menutupi kekurangannya agar menjadi orang yang terhormat atau minimal tidak dianggap hina dina. Kadang dengan berbagai cara seseorang yang berlumuran dosa menutupi kesalahan agar tidak tercium oleh publik. Padahal, ikan busuk meskipun dibungkus rapat, baunya akan mengalir keluar tercium oleh siapa saja yang ada di dekatnya. Kegigihan seseorang untuk menutupi kekurangan dikarenakan ia takut kehilangan kehormatannya. Setiap tingkah lakunya selalu berusaha agar tidak tampak kelemahannya.

Penyakit yang ditimbulkan oleh adanya perasaan takut tidak terhormat ini adalah cemas akan segala sesuatu. Kalau ada suatu kejadian, ia akan merasa cemas, jangan-jangan dirinya akan kehilangan kehormatan, jangan-jangan kasus ini akan menghancurkan dirinya. Kecemasan yang terjadi akan membawa dampak psikologis yang berujung pada stress. Orang stress biasanya potensial terkena penyakit stroke yang sering mematikan.

Di dunia ini tidak sedikit bangsa yang menyakini bahwa kehormatan adalah segalanya. Bangsa Jepang misalnya, mereka rela bunuh diri apabila gagal melaksanakan tugas. Kegagalan tersebut dianggap merenggut kehormatannya sehingga daripada hidup menanggung malu dan selalu dalam kecemasan, maka lebih baik mati. Di negeri Sakura memang tercatat angka bunuh diri terbesar di dunia, terutama disebabkan kalah bersaing. Yang membuat miris adalah banyaknya kasus anak-anak maupun remaja, melakukan bunuh diri hanya karena gagal atau tidak masuk rangking di sekolahnya.

Bagaimana seorang muslim menghadapi situasi seperti ini? Akankah ia frustasi dan kemudian bunuh diri? Islam mengajarkan dalam menghadapi seseuatu seorang muslim harus selalu ridha. Ia ikhlas menerima segala sesuatu sebagai takdir baginya atau balasan yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, dalam Islam seseorang yang terkena musibah, jika ridha ia akan berkurang dosa-dosanya tanpa minta ampun secara khusus.

Dalam menghadapi sesuatu, seorang muslim harus juga tawakal. Ia hanya menggantungkan dirinya kepada Allah semata, sehingga apa yang terjadi pada dirinya adalah yang terbaik buat dirinya. Ia akan menyadari bahwa skenario Allah adalah sesuatu hal yang terbaik baginya. Ketawakalan dalam dirinya tidak lupa diimbangi usaha keras tanpa pamrih. Pada saat hasilnya sesuai dengan keinginannya, ia akan bersyukur. Alhamdulillah. Namun jika tidak sesuai, atau malah bertolakbelakangan maka ia cukup beristigfar dan mencari hikmah di balik peristiwa yang terjadi. Ia tidak takut kehormatan dirinya akan hilang karena bagi dirinya ia hanya perlu kehormatan di mata Allah.

Jadi, seseorang yang dihinggapi penyakit takut tidak terhormat karena kejadian-kejadian yang menimpa dirinya, maka ridha dan tawakal atau semua yang menimpa dirinya. Keridhaan akan menghapus rasa takut itu dan bahkan menimbulkan semangat baru untuk tetap berjuang.

 

C. Takut Mati

Hampir setip orang merasakan takut akan mati. Buat orang biasa, takut mati biasanya dipicu karena merasa belum siap bertemu dengan Tuhan. Amal-amalnya masih sedikit dosa-dosanya masih bejibun, belum terhapus. Ada pula yang takut, karena cerita-cerita klenik nan sadis yang akan dihadapi saat berada di alam kubur kelak. Pula takut meninggalkan keluarga, bisnis, atau hartanya. Orang yang tidak jelas arah hidupnya pun takut akan mati, meskipun ia tidak mempercayai adanya kehidupan setelah mati.

Mati adalah hal yang sering ditakuti sebagian besar manusia. Ketakutan akan mati membuat seseorang sering menjadi panik tatkala menderita sakit. Apalagi sakit berat yang biasanya mengarah pada kematian. Ia menjadi panik, hatinya gelisah. Bayangnnya langsung kepada dunia yang gelap, sendirian pula. Padahal, sakit yang dideritannya biasa saja. Sering terjadi, seorang pasien mendegar obrolan dokter yang sebetulnya mengenai kondisi orang lain yang tengah sekarat dan diperkirakan umurnya pendek, langsung panik dan bertingkah yang aneh-aneh. Tingkah polah akibat takut maut mendekati ini justru memperparah kondisinya.

Bagi masyarakat perkotaan, kadang manusia terlalu berlebihan dalam menyikapi kematian. Ada seorang kawan yang bekerja pada sebuah perusahaan asing di Jakarta . Pada saat dulu di kampus, ia termasuk orang yang sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Sampai-sampai ia mempunyai desa binaan yang diberdayakan dan membentuk kader-kader penyuluh dari adik-adik kelasnya. Setelah sekian lama tidak berjumpa, ternyata ia sudah menjadi manajer pada sebuah perusahaan asing. Dan sayangnya, sikapnya sudah berubah. Ia bekerja dari pagi sampai petang dan hal itu dijalaninya sebagai sebut rutinitas. Saat ditanya kegiatan apa yang dia ikuti, ia mengatakan tidak punya sama sekali. Katanya,”Saya hanya bekerja keras, menghidupi anak dan istri. Mereka saya asuransikan semuanya, mulai pendidikan, kesehatan, sampai kematian. Saya tidak ingin sepeninggal saya mereka hidupnya terlunta-lunta. Saya ingin mereka ada pegangan kalau saya mati.”

Sikap seperti ini sebetulnya merupakan cerminan rasa takut akan mati. Ia mengikuti beberapa program asuransi kematian. Seakan-akan yang memberi makan anak dan istri adalah dirinya, sehingga ketika kelak ia tidak ada terbetik dalam pikirannya,”Siapa yang akan memberi makan anak istriku?” Pola piker seperti itu akan mendekatkan seseorang pada rasa takut akan mati. Ketakutan itu akan membuat cemas dirinya, sehingga setiap saat yang dipikirkan adalah menghindari kematian. Padahal kematian adalah sesuatu hal yang pasti. Ia dating kapan saja dan di mana saja manusia itu berada. Ia tidak memandang umur, jenis kelamin, atau status sosial. Kalau waktunya sudah tiba, maka maut tak dapat ditentang. Allah berfirman,

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila dating waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (al-Munafiqun:11)

Jangankan memajukan atau memundurkan waktu datanya maut, menghindar darinya saja manusia tidak akan bisa. Meskipun ia bersembunyi di sebuah bangunan yang kuat lagi kukuh sebagaimana firman Allah,

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kukuh" (an-Nisaa:78)

Lalu, kapan seseorang tidak kuasa menolak maut dan bisa datang kapan saja, untuk apa takut menghadapinya. Perasaan takut memang bersumber di dalam hati. Andaikata, kita mengetahui bahwa besok pagi kita akan menjumpai sang kekasih idaman maka kita sangat berharap datangnya besok pagi, tentu kita tidak bias sabar menunggu akhir dari malam. Seseorang tidak bias mendapatkan sesuatu yang indah di pagi hari tanpa melewati malam. Proses malam yang harus dilalui agar hari menjadi pagi adalah perumpamaan bagi datangna kematian.

Bagi seorang muslim kematian adalah gerbang untuk berjumpa dengan kekasihnya. Kematian adalah syarat ia menemukan hal-hal yang serba indah dan nikmat. Allah adalah Tuhan yang kita kasihi. Ia adalah Zat Yang Mahaindah. Sudah selayaknya kita menyambut-Nya dengan rasa gembira. Memang kematian kadang menakutkan. Namun bagi seseorang yang ingin berjumpa dengan kekasihnya ketakutan itu tidak ada artinya.

Bagi orang yang mengerti arti perjumpaan tersebut, maka seyogianya amal ibadahnya diperbanyak. Kehidupannya diperbaiki. Maka kita dianjurkan sering ingat akan kematian sehingga hidupnya benar. Ingat mati membuat kita meningkatkan amal. Sehingga, bagi seorang muslim “ketakutan” menghadapi mati justru berakibat positif yaitu meningkatkan amal kebaikan. Siapapun, ketika menemui sang kekasih ingin dalam kondisi yang sempurna. Seorang pria ingin menemui kekasihnnya yang sudah lama tidak bertemu. Pada saat hari H, ia pasti sudah mempersiapkan dirinya dengan penampilan yang bersih dan rapi, di depan kaca mematut-matut diri dan muka tersirat perasaan gembira. Di tangannya tak lupa tergenggam setangkai bunga mawar dan cenderamat tanda kasih saying. Tujuannya menjadikan suasana saat pertemuan tersebut, pertemuan yang terindah. Begitu pun pertemuan kita dengan Allah. Kita ingin dalam bertemu dengan-Nya kondisi kita bersih. Bersih dari dosa dan juga kita membawa “cenderamata” berupa amal perbuatan baik yang banyak. Dengan kondisi seperti itu, Allah akan senang menerima kita-demikian pun kita-dan pasti akan memasukkan kita ke dalam surganya.

Rasa takut merupakan salah satu penghalang seseroang dalam menemui siapa yang dicintainya. Persaan seperti itu harus diminimalisasi dalam kehidupan manusia, sehingga tidak mengganggu dalam beramal. Rasa takut yang berlebihan akan menyengsarakan manusia dan menjauhkan dirinya dari Tuhan. Bahkan Rasulullah saw. Sampai menyebut rasa takut itu sebagai penyakit yang berbahaya. Dalam sebuah hadits dikatakan penyakit itu al-wahnu, yaitu cinta dunia (takut miskin, takut tak terhormat) dan takut akan mati.

 

* * *

 

 

 
Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul