Bab X
Konsep 5C : Refleksi Rukun Islam

 

Anda orang bekerja di bidang ekonomi, khususnya perbankan? Tentu anda menganal konsep 5C, yaitu Character (karakter), Capacity (kemampuan mengembalikan utang), Collateral (jaminan), Capital (modal), dan Condition (situasi dan kondisi). Bagi orang bank, nasabah yang memenuhi criteria 5C adalah orang yang sempurna untuk mendapatkan kredit. Bank melihat orang yang mempunyai karakter kuat, kemampuan mengembalikan uang, jaminan yang berharga, modal yang kuat, dan kondisi perekonomian yang aman bagaikan melihat sebuah mutiara. Orang seperti ini adalah nasabah potensial untuk diajak bekerja sama atau orang yang layak mendapatkan penyaluran kredit. Pendeknya orang yang mempunyai 5C yang baik adalah manusia yang ideal, menurut criteria orang bank.

Islam juga mengenal konsep 5C. Konsep ini adalah merupakan refleksi atau penjabaran dari rukun islam. Sekedar mengeingatkan rukun islam terdiri dari syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Kelima pokok ajaran islam ini memenag merupakan sendi – sendi agama. Nabi saw. bersabda :

“Islam di bangung atas lima perkara. Mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat 5 waktu, zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan ibadah haji di tanah suci.” (HR Bukhari Muslim)

Ibarat sebuah bangunan, rukun islam yang lima adalah bagian – bagian penting dari bangunan tersebut. Syahadat adalah landasan utama sehingga merupakan fondasi dari sebuah bangunan. Tanpa adanya fondasi bangunan tidak bisa tegak berdiri. Dalam waktu beberapa lama bangunan akan roboh bila tanpa fondasi. Sementara shalat adalah dinding yang tegak berdiri barserta tiang – tiangnya. Sebagaimana di sabdakan Nabi sa.,

“Shalat adalah tiang agama.”

Seandainya agama adalah bangunan, maka shalat adalah tiang penyangga gedung sehingga kuat dan kokoh. Dan, puasa adalah atap bangunan yang melindungi penghuninya dari panas dan hujan. Dalam sebuah hadits dikatakan,

“Puasa adalah junnah (benteng penghalang)”

Ia melindungi manusia bersama – sama dengan shalat. Sedangkan ibadah zakat dan haji merupakan perkakas rumah. Keduanya tidak harus ada pada setiap rumah. Rumah orang yang mampu maka perkakas ini harus ada. Sebagaimana kita ketahui, ibadah zakat dan haji menjadi wajib.

Lalu apa hubungan dengan 5C. Refleksi dari rukun islam tersebut sedikit berbeda adalah concept, commitment, consistency, competency, dan connectivity. Kalau perumpamaan bangunan di atas adalah skala individu, refleksi 5C ini adalah dalam konteks filosofi keberagamaan manusia secara umum. Konsep 5C ini membawa orang yang mengamalkan menjadi manusia yang seutuhnya dengan kondisi ideal. Sama dengan 5C perbankan, 5C hasil refleksi rukun islam ini akan menjadikan manusia ideal di mata manusia maupun Tuhan.

 

A. Concept

Setiap orang hidup harus mempunyai konsep dasar. Dalam Islam konsep dasar tersebut adalah syahadat, yaitu persaksian atas keesaan Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya. Pada hakikatnya semua mnusia pernah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an,


“..Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’
Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi…” (al-A’raaf:172)

Kejadian diatas terjadi di alam ruh, di mana manusia belum ditiupkan ruh ke dalam jasadnya. Itulah sebenarnya konsep syahadat yang pertama kali diucapkan manusia. Karena itu pulalah naluri kebertuhanan seseorang tetap ada, meskipun dalam hidupnya ia tersesat jauh. Memang tidak sedikit manusia yang lupa dengan syahadat pertamanya itu sehingga di dunia jauh dari agama. Lalu Allah mengingatkan kembali dalam Al-Qur’an,


“Maka ketahuilah, sesungguhnya itada tuhan melainkan Allah…” (Muhammad:19)

Itulah yang disebut dengan konsep tauhid. Yaitu melenyapkan semua bentuh sesembahan kecuali Allah semata. Tiada yang patutu disembah kecuali Allah. Tiada tuhan selain Allah. Inilah konsep dasar dalam Islam. Mengimani hal ini merupakan syarat mutlak diterimanya amal ibadah seseorang. Ibaratnya, gunung demikian tinggi hanya akan menjadi debu yang diterbangankan angina. Itulah amal orang yang tidak menerima konsep tauhid. Dalam Al-Qur’an mereka digambarkan,


“Dan Kami diserahi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu
(bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqaan:23)

Menurut tafsir Departemen Agama yang dimaksud amal mereka di sini adalah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia. Amal-amal itu tidak dibalas oleh Allah di akhirat karena mereka tidak beriman. Tidak beriman artinya tidak menerima konsep tauhid, La ilaaha illallah Muhammadar Rasulullah.

Konsep dasar ini sangat penting karena menentukan posisi manusia di akhirat kelak. Penerimaan atas konsep ini laksana seseoranga memutuskan untuk bekerja pada sebuah perusahaan. Segawat apa pun ia bekerja, sebagus apa pun kinerja (performance)-nya maka perusahaan tidak akan memberikan imbalan berupa gaji atau fasilitas lainnya kalau ia tidak terdaftar menjadi karyawan perusahaan tersebut. Perusahaan akan menggaji dan memberikan fasilitas, bagi karyawan yang terdaftar dalam data karyawan di bagian personalia. Kalau bukan karyawan perusahaan itu, jangan harap kita akan mendapatkan segala sesuataunya darinya.

Alam semesta ini adalah milik Allah. Alam semesta ini adalah kerajaannya. Alam semesta ini adalah “perusahaannya”. Adakah kerjaan lain selain kerjaan Allah? Andaikan hanya ada satu perusahaan dalam dunia bisnis, dan kita tidak terdaftar sebagai karyawannya, lalu kita mau bekerja kepada siapa? Kalau alam semesta ini hanya milik Allah, kita akan tinggal di mana? Disinilah pentingnya konsep tauhid, pengakuan adanya serta keesaan Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Dalam teologi Islam, konsep tauhid ini ada dua macam, yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyyah. Konsep uluhiyah artinya mengakui bahwa Tuhan itu satu (seperti sila pertama pancasila:Ketuhanan Yang Maha Esa). Tauhid semacam ini belum cukup karena Tuhan yang satu itu belum menunjuk kepada Allah. Tauhid rububiyyah adalah pengakuan bahwa Tuhan yang satu adalah Allah, Yang Maha Pemelihara (Rubibiyyah dari kata Rabb arting ‘Sang Pemelihara’). Pada tauhid rububiyyah ini tercermin selain pengakuan adalah ketundukan kepada-Nya. Tauhid inilah yang membawa konsekuensi pada perilaku sehari-hari. Tauhid inilah yang akan memancarkan cahaya keimanan pada diri seseorang

Syahadat yang kedua, yang menjadi satu kesatuan dengan yang pertama adalah syahadat kerasulan. Yaitu pengakuan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Pengakuan atas Muhammad ini tidak boleh ditinggalkan atau dipisahkan dai syahadat tauhid. Kesaksian atas Muhammad ini diperintahkan Allah dalam Al-Qur’an,


“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘ Hai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini
adalah uutusan Allah bagi kamu sekalian …” (al-A’raaf:158)

Dua kalimat syahadat adalah persaksian tunggal. Tidak bisa dihilangkan atau dipisahkan salah satunya karena hal tersebut menjadi syarat satu sama lainnya. Konsep tauhid adalah dasar. Sementara kenabian merupakan petunuk pelaksanaan tauhid itu sendiri. Kenabian merupakan perilaku yang akan dicontoh dan dijadikan pedoman kehidupan agar sesuai dalam rel-Nya.

Itulah pentingnya konsep. Dalam hidup manusia harus punya konsep. Dalam Islam konsep tersebut adalah syahadat. Syahadat adalah kerangka hidup, syahadat adalah fondasi, syahadat adalah akar, syahadat adalah pokok. Konsep ini harus dimiliki dengan penuh kesadaran oleh seorang muslim.

 

B. Commitment

Setelah seseorang menganut konsep tauhid dan kenabian, maka ia harus mempunyai komitmen terhadap konsep tersebut. Komitment tersebut di buktikandengan suatu ibadah yang dinamakan dengan shalat. Jadi shalat adalah bukti bahwa seorang muslim komitmen terhadap tauhid.

Shalat dalam bahasa Arab berarti doa. Secara hukum artinya seuatu perbuatan khusus yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat hakikatnya adalah bukti ketundukan seorang hamba. Ia merasa lemah dan tak berdaya di hadapannya. Untuk itulah ia menggantungkan dirinya kepada Allah. Ia melakukan shalat.

Persis seperti seseorang bekerja. Setelah ia direkrut dan dicatat dalam daftar karyawan ia mulai bekerja. Ia harus datang jam 08.00 pagi dan pulang pukul 05.00 sore. Selama di kantor ia harus melaksanakan apa yang ditugaskan perusahaan atau atasannya sesuai dengan perjanjuan kerjanya. Seorang muslim wajib menhalankan shalat sehari lima kali dengan waktu yang sudah ditentukan. Dalam shalat ia harus khusyu’ menyembah Tuhannya.

Seorang bijak menggambarkan sebuah perumpamaan tentang shalat dengan baik sekali. Menurutnya, dunia ini bagaikan hutan belantara. Seseorang yang masuk ke dalam akan tersesat kecuali yang mempunyai perunjuk bagaimana cara keluar atau mengarungi hutan tersebut. Bagi yang tidak punya petunjuk pasti tidak karuan perjalanannya sehingga tersesat dan bisa – bisa dimakan binatang buas. Pertunhuk yang dimaksud adalah kontak hubungan antara sang pengembara dengan dunia luar hutan. Seseorang penjaga hutan di pos luar yang mengenal hutan, akan memberikan petunjuk atau bimbingan melalui HT agar sang pengembara bisa keluar dengan selamat dari hutan. Sehari lima kali ia bisa menghubungi pos untuk mendapatkan tambahan keterangan dan semangat agar mencapau jalan keluar.

Kontak itulah shalat. Setiap kita shalat, kita meletakkan kepercayaan kita kepada-Nya. Itulah bukti komitmen seseorang atas keimanannya. Dengan kata lain, seseorang pengembara yang memercayai keterangan penjaga pos hutan pasti akan melakukan kontak kepadanya. Kalau petugas pos tersebut tidak mempercayainya, mengapa ia harus tepot – repot melakukan kontak?

Jadi shalat lima waktu adalah komitmen yang dibangun seseorang atas pengakuan konsep tauhid. Seorang yang menjalankan shalat adalah bukti bahwa ia mengakui keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad dengan sebenar - benarnya, hanya tidak sekadar di bibir saja, Shalat adalah bukti kepatuhan diri kepada Sang Penguasa. Sebaliknya, seseorang yang tidak melakukan shalat berarti tidak komit dengan konsep yang dianutnya. Sia memang anggota keluarga tapi pembangkang. Bisa jadi ia setengah – setengah mengakui konsep itu atau barang kali malas. Kemalasan itu akan dipertanyakan mengingat ia sudah mengakui konsep tauhid tersebut. Allah akan menanyakan leserusan atas konsep yang dianutnya tersebut. Bagi seorang yang malas masuk kantor, bagaimana perusahaan mau memberikan gaji dan fasilitas yang layak kepadanya?

 

C. Consistency

Seorang muslim yang mengakui konsep tauhid dan mempunyai komitmen yang tinggi atasnya maka ia harus konsisten. Konsistensi tersebut ia buktikan dengan membayar zakat. Kita tahu bahwa dalam ayat Al-Qur’an perintah shalat selalu digandengkan dengan perintah zakat. Salah satu firman Allah swt.,

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat…” (al-Baqarah:43)

Seseorang yang menunaikan zakat merupakan bukti ia konsisten terhadap perintah Allah. Disinilah ia mempunyai peran sebagai seorang manusia yang menolong manusia lain dengan hartanya. Ibadah zakat memang tidak terasa langsung ritualnya. Namun efek sosialnya membuat nilai ibadah ini tidak kalah penting dengan ibadah yang lainnya. Oleh karena itu, zakat merupakan bukti konsistensi seseorang dalam melaksanakan ajaran agama, konsistensi atas pengakuan seseorang terhadap keesaan Allah swt. dan kerasulan Muhammad saw..

Sebagaimana perintah shalat, perintah zakat pun membawa konsekuensi. Jika itu dilakukan akan dapat menolong orang lain dan membebaskan dirinya dari pemilikan harta yang haram. Sementara jika ditinggalkan akan membawa dampak sosial berupa kemelaratan dan kerusuhan sosial. Bagi individunya akan mendapatkan ganjaran dari Allah yang setimpal. Seperti shalat, jika ditinggalkan tidak saja ia akan sesat, tapi sang pemberi perintah akan marah dan memberikan hukuman nanti apabila tiba saatnya. Zakat yang tidak dikeluarkan dari harta pemiliknya akan diancam Allah dengan siksa yang pedih. Dituturkan dalam Al-Qur’an,


“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka
beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu
dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka
(lalu dikatakan), ‘inilah harta bendamu yang kamu sumpan untuk dirimu sendiri,
maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (at-Taubah:34-35)

Oleh karena itu, seorang yang mempunyai konsep tauhid harus mempunyai komitmen atas konsep tersebut dengan shalat dan konsisten dengan membayar zakat. Proses tersebut seharusnya otomatis, seperti dalam sebuah perusahaan, seseorang yang bekerja akan digaji dan sebagain dari gajinya akan dipotong langsung oleh bagian personalia untuk dibayarkan sebagai pajak ke Negara, yaitu pajak penghasilan pasal 21 (PPh 21). Seorang yang konsisten mestinya setiap kali mendapatkan rezeki dari-Nya langsung memotong sesuai dengan ketentuan perzakatan.

 

D. Competence

Setelah konsistensi, yang harus dibangun seorang muslim agar menjadi manusia yang ideal adalah kompetensi. Dalam Islam membangun kompetensi diri adalah dengan melakukan puasa. Yaitu puasa Ramadhan setiap tahun sekali. Di luar itu Islam menyarankan untuk melakukan puasa seperti Senin-Kamis, puasa Nabi Dawud (sehari puasa sehari buka), puasa Arafah dan sebagainya.

Mengapa puasa dianggap sebagai pembangunan kompentensi. Sebab, hakikat puasa adalah menahan diri. Tidak saja menahan diri dari makan dan minum tapi juga menahan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah atasnya. Definisi puasa secara fiqih memang menahan makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa, dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Namun demikian, jika orang yang berpuasa tidak bisa menghindari hal-hal yang dilarang, seperti berdusta, menggunjing, melihat aurat lawan jenis dan sebagainya, maka puasanya hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Seperti sabda Nabi saw.,

“Berapa banyak orang yang puasa namun mereka tidak mendapatkan sesuatu kecuali lapar dan dahaga.”

Seorang muslim yang mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang dilarang Allah akan mendapatkan ganjaran yang besar. Ia mampu menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan, demi mendapatkan pahala dari-Nya. Orang seperti ini mempunyai nilai yang berharga di hadapan Allah juga manusia. Kompetensinya di mata Allah tinggi, karena pengendalian dirinya. Dalam hadits Qudsi bahkan Allah menjelaskan bahwa pahala puasa Allah sendiri yang akan mengganjarnya.

Seorang kawan di kantor diledek teman-temannya karena terlalu “lurus”. Terutama soal wanita. Apabila ada wanita cantik lewat, maka teman-temannya langsung membicarakan, sementara ia diam saja. Teman-temannya penasaran dan bertanya, “Apakah ia tidak mempunyai daya tarik terhadap lawan jenis atau memang ada penyaluran lain.” Maka ia menjawab, “Kita ini ibarat pagi hari masuk kantor. Lalu bos kita bilang, nanti siang kalian akan saya traktir makan di restoran mahal yang terkenal. Karena sudah dikasih tahu seperti itu, tentu kita tidak akan makan sampai waktu siang tiba. Andaikan seseorang pada pukul 10.00 atau 11.00 sudah makan, pasti ia tidak akan diikutsertakan makan siang.”

Makan pukul 12.00 siang yang ditraktir bos adalah ganjaran bagi seseorang yang dapat mengendalikan diri sampai waktunya tiba. Dalam kasus wanita, maka makan siang pukul 12.00 tadi adalah bidadari di surga yang akan didapat sebagai ganjaran dia menahan diri sejak pagi. Sementara orang yang tidak tahan perutnya akan makan dulu pukul 10.00 karena sudah lapar atau karena tergiur melihat hidangan lain yang kelihatannya nikmat. Padahal hidangan tersebut cuma makanan ringan yang kalau dibandingkan dengan hidangan di restoran tersebut jauh cita rasanya.

“Jadi saya bukannya tidak suka dengan hidangan yang disajikan pukul 10.00. Namun karena saya ingat nanti pukul 12.00 mau makan enak, maka lapar saya tahan sebentar. Demikian pula dengan wanita cantik tadi. Saya bukannya tidak tertarik atau tidak berselera dengannya, tapi saya lebih berselera dengan bidadari yang dijanjikan Allah di surga kelak.” Itulah kunci pengendalian diri, tidak mengumbar nafsu. Di mata Allah itulah kompentensi yang dimiliki manusia untuk memasuki surga-Nya. Di mata manusia, ia adalah orang yang suci (kadang di masyarakat justru disebut dengan sok suci) karena mampu mengedalikan diri dan tidak goyah oleh godaan.

 

E. Connection

Terakhir, setiap manusia harus mempunyai hubungan yang harmonis dengan manusia lain. Hubungan tersebut tercermin dalam ibadah haji dan umrah. Bagaimanapun kondisi seorang muslim pada saat ia menunaikan ibadah haji maka ia sama derajatnya dengan yang lain. Tidak ada atasan bawahan, tidak ada pejabat rakyat, tidak ada tua muda, tidak ada miskin kaya. Semuanya sama di mata Allah. Semuanya berthawaf mengelilingi Ka’bah dengan kondisi yang sama. Tujuan mereka Cuma satu, yaitu mendekatkan diri dengan-Nya.

Pola hubungan dalam ibadah haji tersebut harus direfleksikan dalam dunia nyata. Seorang muslim sudah semestinya menjalin ukhuwah dan silaturahmi terhadap saudaranya dalam bentuk apa pun juta. Tidak ada saling meninggikan atau merendahkan diri. Semuanya sama dalam satu tujuan. Semuanya bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam hubungan manusia satu sama lain akan terasa sangat efektif apabila didasari oleh landasan yang sama. Dimulai dari konsep yang sama, komitmen dan konsisten serta kompetensi masing-masing, manusia membuat sinergi agar membawa manfaat bagi dunia. Seorang muslim yang sudah berhaji seyogianya membawa dampak positif bagi masyarakat sekitarnya. Ia akan menjalin koneksi antarsatu potensi masyarakat dengan masyarakat lain sehingga terbentuk satu kekuatan. Kekuatan itulah yang akan mendorong terciptanya kedamaian di atas kebenaran. Seorang haji yang melaksanakan fungsi tersebut, dalam bahasa agama, memperoleh predikat haji yang mabrur. Hajinya diterima Allah sebagai bentuk ibadah dan ketaatan.

Seorang haji harus mampu merajut benang potensi yang ada pada dirinya dan kaum muslimin yang lain untuk menciptakan kedamaian. Ia harus mampu membawa model berhaji saat di tanah suci sebagai bentuk koneksitas untuk diterapkan di daerahnya masing-masing. Dia akhirnya akan menjadi simpul dari tali-tali potensi umat dan menggerakkannya kea rah kebaikan dan kemajuan. Seorang muslim yang seperti itu menjadi penggerak bagi kemajuan sebuah masyarakat.

Dengan merefleksikan kelima rukun Islam, maka seorang muslim harusnya menjadi manusia yang ideal. Tidak saja ideal di mata Allah dan kaum muslimin, namun bagi kaum yang lain pun ia akan disegani dan dihormati. Orang akan mudah menaruh kepercayaan, dan menggantungkan semua harapan karena ia akan membawa masyarakatnya dari kegelapan menuju kepada terang. Ia akan mengarahkan masyarakatnya kepada kebaikan. Orang seperti ini tidak diragukan lagi kemampuannya. Bagaikan seorang banker yang gembira melihat seseorang yang memenuhi criteria 5C, maka Allah pun akan senang gembira melihat hamba-Nya yang punya 5C: Concept, Commitment, Consistency, Competence, dan Connection.

 

 

* * *

 

 

 
Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul