Bab IX
Membuat motivasi berkesinambungan
Hidup di dunia fana ini memang tidak mudah. Apalagi di zaman sekarang yang segala sesuatunya serba sulit. Tidak ada yang gratis. Semua diukur dengan materi. Kita melihat dengan mata kepala bahkan mengalami sendiri sulitnya hidup di kota – kota besar. Persaingan makin ketat. Untuk mendapatkan sesuap nasi seseorang harus berebut. Untuk hidup seseorang harus berkorban.
Di pinggiran kota Jakarta tidak sulit kita temukan bocah – bocah kecil pukul 10.00 malam masih memegang alat musik sederhana dari tutup botol mengamen di perempatan jalan. Pada saat lampu lalu lintas menunjukan warna merah mereka langsung menyebar mendekati mobil pribadi atau angkutan umum yang penumpangnya sudah tinggal satu dua. Ada yang memberi meski hanya satu dua keping uang, namun lebih sering tangan hampa. Belum lagi terlihat barisan ibu – ibu yang menggendong bayi merah menandahkan tangannya dengan memelas. Memang hidup ini demikian berat.
Setiap mata kita terlontar kepada seseorang pekerja kasar, kita membayangkan betapa kerasnya kehidupan ini. Seorang tukang becak berkeringat mengayuh becaknya di siang bolong hanya mendapatkan seribu dua ribu rupiah. Tukang bakso mendorong gerobaknya demikian jauh, hanya mendapatkan seribu dua ribu rupiah untuk satu mangkoknya. Demikian pula, pekerja sampah yang mengangkut sampah dari rumah – rumah dinaikan di atas truk untuk dibawa ke pangkalan. Para pemulung setia membersihkan plastik atau kardus – kardus untuk dijual kembali. Semua pekerja kasar kita rasakan betapa sulitnya mereka mencari sesuap nasi.
Akankah demikian dengan orang yang bekerja di kantoran? Ketatnya persaingan ternyata juga membawa beban hidup kepada masing – masing mereka. Susahnya mencari lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian membuat mereka alih profesi demgan bekerja ala kadarnya. Kalaupun sudah mendapatkannya, peluang untuk promosi sangat susah karena banyaknya karyawan. Jadi, jangankan mengharapkan kenaikan gaji, mereka tidak di PHK saja mungkin sudah amat bersyukur, sebab setiap waktu perusahaan mengumumkan beban – bebannya terutama dari sector tenaga kerja. Pengumuman seperti itu cukup membuat para pekerja berhati – hati, jangan sampai ada efisiensi yang mengarah pada PHK.
Di kalangan eksekutif tidak kalah pula kesulitannya. Mereka merasa beban anak buahnya ada pada pundaknya. Betapa sulit memutar uang dan menjalankan bisnis untuk menghidupi perusahaan agar tetap eksis. Kadang muncul aturan pemerintah yang kurang kondusif, langsung membuatnya stress. Mulai dari kenaikan UMP, tarif pajak baru, perizinan – perizinan maupun peraturan – peraturan baru telah membuatnya mabuk dalam mengurusi perusahaannya.
Begitulah, di mana – mana realitas kehidupan kota memang berat. Tidak percuma peramal Joyoboyo membuat prediksi masa sekarang dengan bait – bait puisinya.
“Zaman Edan”
Pacen amenangi jaman edan,
Sing ora edan ora kaduman
Sing waras padha nggragas,
Sing tani padha ditaleni
Wong dora padha ura – ura
Begjane sing eling lan waspada.
Kerasnya kehidupan memang ternyata dialami dari masa ke masa. Tidak cuma zaman globalisasi saat ini. Syair Joyoboyo disinyalir juga bukan sebuah ramalan, namun menceritakan kondisi yang memang terjadi pada masa itu. Walhasil, memang kehidupan itu sendiri keras. Kapan pun di mana pun. Hidup memang sebuah perjuangan.
Bagi seorang muslim, kehidupan merupakan rahmat dari Allah. Kehidupan adalah suatu hal yang kita syukuri karena kita ada berkat kasih sayang-NyaS. Seorang muslim mempunyai motivasi yang berbeda dalam menjalani kehidupan dengan orang lain.Motivasi seorang muslim berkesinambungan dalam hidupnya. Setidaknya motivasi pada diri seorang muslim itulah yang mebedakan dirinya dengan yang lain dalam mengurangi kehidupan yang keras ini.
Fakta boleh sama. Keras dan cerdas. Namun, pandangan seorang muslim mampu menyikapi kerasnya kehidupan dengan tersenyum dan penuh harapan. Mengapa motivasi mereka tinggi? Sebab seorang muslim mempunyai pegangan iman. Tujuan hidupnya jelas. Mereka mengetahui hakikat kehidupan yang sebenarnya. Dalam bahasa lain yang bisa di ungkapkan, mereka mempunya motivasi pendorong, yaitu tujuan hidup (purpose to live for) kebersamaan dalam hidup (self to live with) keyakinan untuk hidup (faith to live by).
A. Purpose to live
Seorang muslim mempunyai tujuan hidup. Ia tidak semata – mata menjalani hati – harinya begitu saja tanpa arti. Ia tidak sekedar bangun pagi, sarapan, berangkat ke kantor, bekerja sesuai dengan pekerjaannya, sore hari pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarga, makan malam, menonton televisi atau membaca majalah kemudian tidur untuk besoknya kembali bekerja. Barang kali aktivitas seorang muslim dengan yang lainnya sama. Namun yang membedakannya adalah seorang muslim hidupnya mempunyai misi, yaitu rahman lil alamin. Misi hidupnya, yaitu membuat lingkungan sekitarnya mendapatkan rahmat. Oleh karena itu, keberadaannya akan mewarnai lingkungannya, tentu dengan hal – hal yang baik. Seorang muslim laksana lebih bagi lingkungannya. Ia makan dari sesuatu yang bersih dan menghasilkan sesuatu yang bersih lagi bermanfaat, yaitu madu. Meskipun jangan sekali – kali mengganggu karena kalau ia marah bisa sakit terkena sengatannya. Dengungan sayap – sayapnya juga membuat nyanyian merdu. Begitulah seorang muslim.
Menjadi rahmat bagi manusia lain memang misi suci seorang muslim. Setidaknya itu yang tercermin dari diri Nabi Muhammad saw. yang dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an,
“Dan tidaklah Aku mengutus engkau, wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi alam ini.”
Bagi seorang muslim wajib hukumnya mencotoh bagaimana perilaku Nabinya. Apabila Nabi Muhammad dijadikan Allah, sebagai rahmatan lil alamin maka umatnya pun demikian. Nabi saw. terkenal orang yang terpecaya, rajin, dan gemar membantu. Tak jarang beliau terlihat menyuapi makan pengemis di pinggir jalan atau menjahitkan baju nenek – nenek tua. Nabi Muhammad saw. adalah rahmatan lil alamin dan kita umatnya mempunyai misi yang sama. Misi ini yang selalu berkobar dalam diri seorang muslim sehingga menjadi motivasi yang kuat dan berkesinambungan. Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain akan memotivasikan seseorang dalam perbuatannya selalu cerah dan ceria. Menusia semacam ini tidak akan mengenal istilah stress.
Jadi, samakah orang yang hidup dengan misi dan tanpa misi? Apalagi dengan misi mulia, seperti rahmatan lil alamin, sungguh seorang muslim akan hidup bahagia dunia akhirat, meski pun fakta yang di hadapinya sama dengan yang lainnya.
B. Self to Live With
Seorang muslim yang selalu bermanfaat bagi orang lain pasti akan selalu dirindukan. Orang seperti ini pasti banyak kawan. Tidak sekedar kawan yang banyak, tapi juga kawan – kawan yang baik yang selalu saling membantu. Kawan – kawan seperti itu ia dapatkan karena ia telah memberikan keteladanan yang baik. Bagi dirinya, kawan – kawan yang baik itulah aset yang memberikan motivasi bagi hidupnya. Kebersamaan yang dijalin dengan sesama tersebut menghadirkan manfaat yang sangat luas.
Seorang muslim hidup tidak boleh sendiri. Keberjamaahan atau kebersamaan selalu melingkungi dirinya. Bahkan itu termasuk anjuran agama agar selalu bersatu dalam tali Allah. Dengan membawa misi rahmatan lil alamin dan hidup dalam keberjamaahan akan senantiasa membuat hidupnya lebih hidup. Memahami diri sendiri dan orang lain dalam jamaah akan senantiasa memotivasi dirinya agar berbuat lebih baik. Ia bisa memerankan dirinya sendiri, sebagai peran utama, juga bisa mencari peran pembantu atau bahkan tidak berperan sama sekali. Semuanya akan saling mengisi peran.
Oleh karena itu, orang yang hidup sendiri dan menyendiri tentu tidak sama dengan mereka yang hidup bersama dengan kawan – kawan yang baik. Orang yang merasa dirinya tidak berarti pasti tidak punya motivasi yang kuat dalam hidupnya. Namun bagi mereka yang merasa mempunyai kebersamaan atau self to live with, hidup pasti akan terasa lebih indah dan kebahagiaan akan selalu teraih, meskipun realitas yang dihadapi seorang muslim sama dengan yang lainnya.
C. Faith to Live By
Satu hal yang dimiliki seorang muslim yang barangkali tidak ada di orang lain, ia memiliki keimanan yang kuat. Keimanan dan keyakinannya itu akan menuntun hidupnya ke jalan yang benar. Ajaran agama yang dipelajarinya benar – benar di terapkan untuk kemaslahatan dirinya maupun orang lain.
Akidah islam adalah kekuatan tersebut. Islam merupakan jalan hidup, way of life. Tuntunan yang akan menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju terang. Ia menerangkan semua peristiwa secara rinci sehingga tidak perlu repot – repot dalam pengalamannya. Aturan universal dan terbukti mampu membawa dunia kepada kejayaan. Keyakinan akan kebenaran inilah yang menjadi motivasi seorang muslim dalam mengalami hidupnya. Tanpa keimanan akan islam, seseorang akan mudah berputus asa menjalani hidup. Seperti yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an,
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya hanyalah
orang kafir yang putus asa dari rahmat Allah.” (Yusuf: 87)
Dalam kerasnya hidup di kota besar, tentu pegangan keimanan menjadi penentu sukses tidaknya kehidupan. Bayangkan, dengan kondisi yang carut – marut seperti ini tidak ada iman yang di pegang, apa jadinya. Manusia yang rakus akan menerkam mangsanya yaitu sesama manusia. Orang yang tidak mempunyai iman akan mudah goyah diterpa angin dan cobalah hidup. Ia bagaikan kipas yang diterbangkan angina kemana pun arahnya. Ujung – ujungnya ia akan jatuh dan ditindas oleh kendaraan yang lewat. Namun, tidak demikian bagi seorang muslim. Keimanannya justru menjadi pegangan dalam menjalani hidup. Mana yang halal dan mana yang haram benar – benar ia perhatikan untuk kelangsungan hidupnya sendiri. Baginya apa yang telah ditetapkan dan diatur oleh Tuhannya merupakan manfaat buat dirinya. Dirinya tidak akan tersesat dengan berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Sebab Rasullah saw. pernah bersabda di akhir hidupnya,
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan
sesat apabila berpegang teguh kepadanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.”
Orang Islam punya Al-Qur’an dan hadits. Itu cukup untuk bekal menjalani hidup di tengah kekacauan dunia sekarang ini. Kedua pedoman tersebut merupakan kompas untuk menunjukan arah yang tepat bagi hidup ini. Tentu aja orang yang hidup dengan suatu pedoman tidak sama dengan mereka yang arah hidupnya tidak jelas.
Dengan ketiga motivasi pendorong tersebut seorang muslim akan melenggang dengan nyaman dalam menjalani kehidupan ini. Kerasnya kehidupan akan dijalaninya dengan penuh keceriaan. Kemudian, bagaimana agar terus berkesinambungan?
Ketiga motivasi tersebut boleh di bilang berdasar dari internal diri seorang muslim. Sudah sebagaimana mestinya seorang muslim bertindak sepeti itu. Namun demikian, bisa jadi motivasi akan luntur bila lingkungan tidak mendukung atau malah merusak. Faktor eksternal atau segi pergaulan mau tidak mau harus selaras dengan motivasi tersebut.
Jadi kenyataan, hidup memang berat, itu tidak bisa dimungkiri. Namun, seorang muslim mempunyai motivasi hidup yang terus berkesinambungan yang dapat menjadikan hidup ini indah. Dengan motivasi yang dimilikinya , mau “zaman edan” atau “zaman waras”, ia akan selalu menyambut kehidupan sebagai tantangan, ia akan mewujudkan impian yang penting, ia menikmati hidup. Simple bukan?
* * * |