Bab VIII
Mengenal diri, Mengenal Tuhan
“Man Arafa Nafsahu, Arafa Rabbahu. ‘Barangsiapa Mengenal Dirinya, Niscaya Akan Mengenal Tuhannya,’” (al-Hadits)
Anda menyukai sebuah karya seni? Ambil contoh sebuah lukisan. Bagi orang kebanyakan sebuah lukisan yang bagus adalah lukisan yang enak dipandang mata. Semakin sesuai dengan kenyataan maka semakin hebat pelukisnya. Semakin natural semakin dipuji. Seseorang yang menyaksikan sebuah lukisan indah namun ia bukan pegemar seni atau bukan orang yang bisa memberikan apresiasi seni, maka ia hanya berdecak kagum, lalu berlalu. Berbeda dengan orang yang tahu arti kebeberapa lama di depan lukisan. Lalu bergeser kesamping, maju atau mundur. Diamatinya beberapa lama ambil manggut – manggut. Kadang kepalanya dimiringkan ke kiri atau ke kanan mencari angel yang tepat. Begitulah, seseorang mengapresiasikan sebuah karya seni.
A. Indra
Manusia hidup di dunia dilengkapi dengan pancaindra. Dengan mata, kita bisa melihat berbagai macam warna – warni keindahan dunia. Meskipun warna dasar cuma ada tiga merah, kuning, dan biru namun kombinasinya dapat mencapai miliar warna. Kita akan saksikan demikian indahnya alam ini dengan warna – warni. Melalui program pengolah gambar, Corel Draw! Misalnya, kita akan mendapatkan kombinasi warna di layar computer yang tiada terhingga.
Dari indra kita juga mengenal ukuran. Ada berat, jarak kecepatan, waktu, dan sebagainya. Kita juga mengenal sifat (feeling) seperti rasa takut, berani, cemas, riang, marah, dan sebagainya. Rasa (taste) yang kita kenal, seperti pahit, manis, asam, pedas, dan hambar. Semua itu adalah pancaran daya serap indra yang dimiliki oleh manusia untuk mengenali potensi dan lingkungan. Pada binatang tingkat rendah mereka dianugerahi tentacle’ alat penangkap’ atau sensor – sensor yang berfungsi untuk mengenal dan mengidentifikasi lingkungannya. Sensor itu mendekati sebuah objek dan menyatakan kepada tubuhnya apakah benda yang di endus tersebut aman atau berbahaya.
Pada awalnya indra pada manusia memang berfungsi sebagai sensor semata. Namun, karena manusia dibekali akal yang yang mempunyai sifat selalu ingin tahu, maka dikembangkanlah pengindraannya untuk bernalar. Ada yang mendapat secara langsung dari pengalaman, ada yang diberi tahu oleh orang lain atau melalui metode pengamatan. Dalam bukunya Pengantar ke Filsafat Sain, Andi Hakim Nasoetion menjelaskan bahwa seorang anak kecil yang kebetulan meraih kain penutup meja tiba – tiba saja mendapatkan pengalaman bagaimana caranya mendapatkan suatu benda yang ada diatas meja tetapi jauh dari jangkauannya. Kalau ia ingin meraihnya cukup dengan menarik taplak meja saja. Dipedesaan ada seorang anak menderita sakit mata adakalanya ibu atau bapaknya mencoba mengobatinya dengan menjilati mata anaknya yang sakit itu. Pengalaman turun – temurun mengajari mereka bahwa tindakan seperti itu dapat menyembuhkan penyakit mata yang bernanah. Mereka tidak sadar bahwa hal itu dapat terjadi karena didalam air liur ada zat yang dapat menghambat perkembangan bakteri yang menimbulkan nanah.
Demikian pula, kalau ada anak yang sakit perut maka disuruh makan pisang raja atau pisang ambon lumut yang sudah dibakar dalam kulitnya. Mereka tidak tahu bahwa dalam pisang, terutama pisang raja terdapat kandungan tanin atau zat penyamak yang tinggi dan pisang ambon yang dibakar akan mengandung arang yang memiliki daya serap racun yang dikeluarkan kuman disentri yang ampuh. Orang yang berfikir ilmiah akan mencari – cari zat apa saja yang terdapat di dalam pisang raja dan pisang ambon yang bekerja menghambat diare. Kalau kemudian ia tahu bahwa yang bekerja adalah tanin dan karbon aktif, ia dapat menggunakan bukan hanya pisang raja atau pisang ambon lumut yang dibakar sebagai penangkal diare, melaikan bahan – bahan lain mengandung tanin, seperti air teh kental, serbuk pinang atau serbuk gambir atau arang batok kelapa.
Manusia selalu mempunyai rasa ingin tahu karena Allah Sang Pencipta adalah Zat Mahatahu. Sebagaimana hadits yang dikutip al-Ghazali dalam buku terkenalnya Kimia Kebahagiaan. Nabi saw. bersabda, “Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya sendiri.” Rasa ingin tahu manusia tersebut menghasilkan pengetahuan. Masih dicontohkan Andi Hakim, kalau sebutir padi dikecambahkan pada lumpur yang digenangi air, gabah itu akan menumbuhkan daunnya terlebih dahulu. Baru kemudian akarnya tumbuh dan masuk ke dalam lumpur. Akan tetapi kalau butir itu dikecambahkan pada tanah yang tidak digenangi air, yang terlebih dahulu ialah akarnya. Baru kemudian daunnya yang tumbuh. Manusia yang ingin tahu mengapa hal itu terjadi mencoba menerangkan peristiwa itu sekuat akalnya. Ia akan mengambil kesimpulan bahwa di dalam lingkungan yang cukup airnya, seperti di dalam genangan air, sebutir gabah tidak mendapatkan kesulitan air, akan tetapi mungkin mendapat kesulitan memperoleh oksigen untuk kehidupannya. Oleh karena itu, daunlah yang terlebih dulu ditumbuhkan karena selain menjadi alat asimilasi, daun padi apabila tersembul di atas permukaan air akan dapat menghisap oksigen. Setelah itu barulah akar ditumbuhkan. Selain memang bertugas menyerap unsur hara di dalam lumpur akar itu pun akan mengokohkan tumbuhannya batang padi karena sistem perakaran dapat mencengkeram tanah. Lain halnya jika gabah terjatuh di tempat yang tidak tergenang. Oksigen akan ada di dalam bercukupan, akan tetapi gabah harus sibuk mencari air untuk kehidupannya. Karena itulah, sistem perakaran harus ditumbuhkan terlebuh dulu sehingga setelah air bukan menjadi masalah lagi barulah daun ditumbuhkan sehingga biji padi berubah menjadi tumbuhan yang lengkap.
B. Ilmu
Semua contoh penalaran tersebut menunjukan bahwa ada dorongan rasa ingin tahu pada manusia. Semuanya ditemukan atas dasar naluri keingintahuan melalui pengamatan. Akan tetapi, semua kumpulan pengetahuan yang ditemukan berdasarkan naluri ingin tahu itu belum termasuk ilmu pengetahuan atau sains. Mengapa demikian? Menurut Andi, karena setelah pengetahuan itu ditemukan yang menemukannya berhenti disitu saja, dan tidak berkeinginan untuk berusaha mencari keterangan mengapa hal – hal itu terjadi. Itulah beda antara pengetahuan (knowledge) dengan ilmu pengetahuan atau sains (science). Hanyalah setelah memahami prinsip dasar, bahwa di dalam pisang raja yang bekerja menagkal diare, dan kemudian dapat mengatakan bahwa bahan – bahan lain yang mengandung zat yang sama, juga dapat digunakan sebagai pengganti pisang raja untuk keperluan yang sama, baru dapat di katakan bahwa pengetahuan yang diperoleh itu sudah mengandung unsur – unsure ilmu pengetahuan.
Manusia terus menata dan menyusun pengetahuan – pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Pernyataan – pernyataan khusus seperti pisang raja mengobati diare, diterjemahkan menjadi penyataan umum, yaitu zat tanin terdapat juga dalam pisang raja dapat mengobati diare. Keteraturan – keteraturan di alam raya ini di pelajari. Mulai dari alam sekitar disekelilingnya sampai di alam jagat raya seperti perhitungan peredaran planet – planet. Semua itu menunjukan keteraturan. Tidak mungkin semua itu terjadi dengen sendirinya. Tidak mungkin semua itu tanpa ada yang menciptakan dan mengaturnya. Disitulah manusia menemukan Sang Maha Pencipta.
Menemukan keteraturan dalam alam memang suatu pekerjaan yang tidak gampang. Seseorang harus mempunyai bekal ilmu pengetahuan yang cukup untuk memahaminya. Semakin kompleks keteraturannya, semakin membutuhkan pengetahuan yang mendalam. Namun demikian, untuk menemukan Tuhan dalam teraturan jagat raya ini tidak harus menjadi professor atau pakar terlebih dahulu. Keberadaan Tuhan dapat disaksikan dimana saja, asal kita temui ciptaan-Nya. Salah satunya manusia itu sendiri.
Oleh karena itu, tidak salah jika Rasulullah saw. mengatakan,
“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Jadi, tidak perlu jauh – jauh memikirkan alam semesta untuk mencari Tuhan. Allah sudah menunjukan jati diri-Nya melalui salah satu tanda – tanda-Nya yaitu manusia itu sendiri. Dalam hadits lain dikatakan, “Allah menciptakan manusia di alam kemiripan dengan diri-Nya sendiri.” Masalahnya, mampukah manusia mengenal dirinya?
Mengenal diri tidak sekedar mengenal identitas. Tidak sekedar mengenal diri, misalnya saya seorang pria berusia lima puluh tahunan, berambut putih, mata belok, kulit sawo matang, pendidikan sarjana, karyawan swasta, menikah dengan seorang istri dan dua anak dan sebagainya. Juga bukan sekedar mengenal tentang sifat – sifat dimilikinya seperti saya orangnya pemarah, saya menyukai warna merah, saya tidak suka keramaian, saya agak introvert, dan sebagainya. Pengenalan diri seorang manusia lebih dari itu.
Pengetahuan tentang diri tentang utama adalah perenungan tentang siapakah kita, dari mana asal kita, untuk apa kita berada di dunia yang fana ini dan akan kemana setelah kita meninggal nanti. Itulah pertanyaan dasar yang harus kita pecahkan oleh diri seseorang, yang insya Allah setiap manusia akan merasakannya. Sebab Allah dengan anugerah akal kepada manusia telah memberikan beban (taklif) berpkir bagi setiap manusia dewasa untuk mencari kebenaran. Dengan kemampuannya berpikir maka manusia akan menemukan Tuhannya.
Al-Ghazali dalam Kimiyatus Sa’adah berkata bahwa langkah awal dalam mengenal diri adalah menyadari bahwa diri kita ini terdiri dari bentuk luar yang disebut dengan jasad dan wujud dalam yang disebut dengan hati atau ruh. Yang dikatakan hati bukan seonggok daging yang terletak di bagian kiri badan. Pada hakikatnya hati tidak termasuk dalam dunia kesat mata melainkan dunia maya. Hati datang ke dunia ini sebagai pelancong yang mengunjungi suatu negeri asing untuk keperluan perdagangan dan akhirnya akan kembali ke tanah asalnya. Pengetahuan tentang wujud dan sifat – sifat hati inilah yang merupakan kunci pengetahuan tentang Tuhan.
Dalam bagian lain, al-Ghazali memberikan perumpamaan jasad bisa digambarkan sebagai sebuah kerajaan. Jiwa (ruh) sebagai rajanya dan indra sebagai tentara – tentaranya. Nalar sebagai perdana mentri, nafsu sebagai pemungut pajak dan amarah sebagai petugas polisinya. Agar kerajaan menjadi aman, nafsu dan amarah harus dipisahkan serta betul – betul berada dalam pengawasan raja. Sementara itu, perdana mentri yang memberikan arahan kebijakan kerajaan mau di bawa kemana. Kalau perdana metri juga terpengaruh atau di kuasai oleh pemungut pajak atau polisi, kondisi kerajaan juga akan berbahaya. Jiwa yang membiarkan bagian – bagian dalam dirinya yang lebih rendah mengusai bagian – bagian yang lebih tinggi, ibarat menyerahkan seorang bidadari kepada kekuasaan seekor anjing atau bagaikan menerahkan seorang muslimah suci kepada preman kafir yang kasar.
Mengenal jiwa atau hati dalam diri manusia adalah hal yang hakiki. Pada diri manusia ada sisi watak kebinatangan, ada watak setan dan watak malaikat. Ketiganya bertarung untuk mendapatkan posisi yang dominan dalam dirinya. Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Watak setan sering mengobarkan kejahatan, permusuhan, akal bulus dan kebohongan. Sementara watak malaikat selalu melakukan perenungan akan keindahan Tuhan. Dalam perjuangan hidup, mau tidak mau sifat dan watak tersebut tidak bisa sama sekali hilang, namun tugas manusia untuk meminimalisasi sifat hewan dan setannya serta meningkatnya watak kemalaikatannya.
Selanjutnya mengasah dan memelihara sifat malaikat dalam diri menjadi prioritas utama dalam hidup. Jiwa dan hati adalah cermin yang harus selalu bersih dan mengilap agar kita dapat bercermin didalamnya. Pantulan cermin dalam hati akan memancarkan cahaya Tuhan. Di sutulah manusia mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Tatkala manusia sedang bercermin, meskipun tidak melihat di dalam cermin ada “rupa” Tuhan, namun ia merasakan kebesaran-Nya. Bahkan tidak saja melihat jiwanya, namun apa yang dilihatnya ia melihat keagungan-Nya. Inilah ciri – ciri manusia yang mengenal Tuhan yang disebut dengan ulil albab. Semua ciptaan Allah, baik langit dan bumi, siang dan malam, menjadi tanda keimanan bagi mereka. Tidak ada satu pun yang di ciptakan Allah dengan sia – sia. Seperti difirmankan Allah dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda – tanda bagi orang – orang yang berakal (ulil albab). (yaitu) orang – orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia – sia. Mahasuci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (Ali Imran: 190 – 191)
C. Iman
Pengenalan inilah akan melahirkan iman yang hakiki. Seorang muslim yang menemukan Tuhannya dalam perenungan alam semesta, termasuk dirinya, akan kokoh imannya. Itulah mengapa ketika ayat diatas turun, Rasulullah saw. menangis sampai air matanya membasahi tanah tempat beliau sujud. Bilal menyapa Rasulullah pagi – pagi dengan heran, “Wahai Rasulullah, bukanlah dosa – dosamu teman diampuni. Mengapa engkau menangis?” Nabi saw menjawab,
“Bukankah aku sebagai hamba yang bersyukur? Tadi malam telah turun ayat Ali Imran, ‘innafi khalqis samaawaati…(ayat diatas). Celakalah orang yang membacanya tapi tidak mau merenungkannya.”
Banyak tanda – tanda di ala mini untuk mengenal Tuhan. Seorang Arab Badui (pendalaman) ditanya bagaimana ia mengenal Tuhan. Secara mengejutkan ia menjawab, “Adanya tahi unta menunjukan adanya unta dan bekas tapak kaki menunjukan pernah ada orang yang berjalan.” Sangat sederhana namun hakiki. Demikian pula, mengenal diri sendiri. Pada diri manusia banyak tanda – tanda kekuasaan-Nya. Memahami jasad diri tidak harus menjadi dokter terlebih dulu. Seorang yang mencari kebenaran akan selalu menggali potensi diri, termasuk potensi jasadiah. Keteraturan pertumbuhan rambut pada letak yang berbeda, jaringan otot maupun sendi yang saling menguatkan ataupun sekedar air ludah yang kotor ternyata banyak khasiatnya. Itu semua juga akan mendekatkan diri kepada Allah dan membentuk iman yang kuat.
Jadi, dimulai dari mengindra yang sederhana akan menghasilkan sifat ingin tahu. Sifat ingin tahu akan menghasilkan ilmu pengetahuan dan akhirnya berujung menghasulkan iman. Itulah keimanan hakiki. Yaitu keimanan yang terjadi melalui proses berpikir, mengenal diri, alam semesta dan kehidupan. Bagi seorang muslim yang sudah terlanjur berislam karena adat dan lingkungan, wajib melakukan perenungan agar imannya makin mantap, tidak goyah sehingga terjerumus ke sifat setan atau binatang. Sementara siapa pun juga, muslim maupun kafir pada dirinya telah Allah berikan akal, yang pada saatnya yaitu ketika usia akil balig akan berfungsi untuk mencari kebenaran. Karena mereka membiarkan sifat setan atau binatang mengalahkan sifat malaikatnya. Atau mereka membiarkan nafsu atau amarahnya menguasai nalarnya.
Seorang muslim yang telah mencapai keimanan hakiki perilaku akan berbeda dengan yang lain. Dari keimanan tersebut akan terpancar tingkah laku dan perbuatan yang merefleksikan sifat – sifat Tuhannya. Sifat Asmaul-husna yang sembilan puluh sembilan mengenjawantahkan dirinya. Aktivitasnya akan menyuburkan sekelilingnya sehingga semua orang akan merasakan manfaat kehadirannya. Orang semacam inilah yang disebut Rasulullah sebagai sebaik – baik manusia,”Khairunnas man yanfa’unnas. ‘Sebaik – baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain.’”
D. Ihsan
Amal orang yang imannya kuat adalah amal yang ihsan. Ihsan artinya amal yang dilandasi niat yang baik (lillahi ta’ala) dan sesuai dengan tuntunan-Nya. Sebagai refleksi diri-Nya, manusia berjalan dan bertingkah laku menyesuaikan kehendak dan aturan – aturan-Nya. Ihsan dalam pengertian lain yaitu amal perbuatan yang dilakukan seorang mukmin dengan sangat serius dan hati – hati karena setiap saat Tuhan mengawasinya. Sebagaimana sabda Nabi,”Beramal seolah – olah melihat Tuhan, kalau tidak bisa maka seolah –olah Tuhan melihat dan mengawasi kita.”
Amal orang yang ihsan memancarkan cahaya ilahiah. Namun demikian, bukan tidak berarti tanpa cacat. Setan akan terus – menerus memperlihatkan nafsu serta ambisinya menjatuhkan seseorang ke jurang nista. Amal ihsan kadang – kadang akan dibuat atau selewengkannya dengan tujuan lain. Itulah mulai timbul benih – benih riya’ (pamer), ingin dipuji. Oleh karena itu, tidak boleh tidak, amal yang ihsan harus selalu ikhlas.
E. Iklas
Keiklasan dalam beramal yang ihsan merupakan puncak amal perbuatan manusia. Iman Ghazali pernah berkata, “Semua manusia akan rusak, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pun akan rusak, kecuali orang yang beramal. Orang yang beramal pun akan rusak, kecuali iklas.”
Manusia yang mengenal Tuhannya tidak akan takut dengan wawasan setan. Ibarat seorang mau memasuki sebuah rumah, di depan pintu sudah menghadang seekor anjing galak menyalak – nyalak. Bagi orang yang tidak kenal atau tidak tahu caranya maka akan lari ketakutan. Sementara orang yang sudah kenal dengan tuan rumah akan tenang dan menuju ke pintu pagar untuk memencet bel. Sang tuan rumah akan keluar dan menyambut serta menyuruh sang anjing untuk diam. Demikian pula dengan kita manusia, Allah akan membukakan pintu buat kita apabila kita sudah mengenal-Nya. Mulailah dengan mengenal diri sendiri. Dengan 5 I di atas, insya Allah hidup akan menemui khusnul khatimah, yaitu indra yang menghasilkan ilmu, ilmu yang menghasilkan iman, iman yang menghasilkan amal ihsan, serta ikhlas dalam menjalankan amal. Insya Allah.
* * * |