Bab VII
Apakah rezeki yang baik itu?

 

Rezeki, sebagaimana juga jodoh dan kematian marupakan takdir Allah. Namun demikian, masih saja manusia mempersoalkannya, walaupun Allah pula yang menyatakan bahwa kita masih punya “andil” dalam menemukan takdirnya. Misalnya dengan berusaha dan berdoa. Dengan semakin keras kita berusah, rezeki akan mudah di dapat. Bahkan Nabi saw. mengajarkan tindakan – tindakan untuk memperlancar datangnya rezeki diantaranya dengan bersilaturahmi.

Persoalan yang selalu menghinggapi sebagian manusia soal rezeki adalah saat menerimanya. Salah satu sifat manusia adalah kurang puas, terutama soal materi. Bahkan, apabila ia mendapat emas segunung, ia masih akan mengincar dan mengusahakan supaya bisa menjadi dua gunung, demikian sabda Nabi. Tidak banyak orang yang bersyukur apa yang atas apa yang di karuniakan Allah kepadanya. Allah mengatakan , “Sedikit dari hamba – hamba-Ku yang bersyukur.” Ketiadaan rasa syukur ini menghambat manusia melihat rezeki yang telah di terimanya.

Padahal nikmat Allah yang di berikan kepada manusia sangat banyak. Mulai dari bangun tidur hingga kembali mata terlelap di larut malam, niscaya kita kerepotan menghitungnya. Misalnya, tatkala bangun bagi kita mendapati diri kita tidur dalam kasur yang empuk. Barang kali lima atau sepuluh tahun lalu kita masih tidur pada tikar di atas balai-balai sehingga ketika bangun badan pada pergal-pegal semua. Saat mengambil air wudhu kita merasakan kesegaran air di kamar mandi kita yang mengalir di antara sela-sela jari maupun wajah kita. Kalau air terlalu dingin kita bisanya menyetelnya menjadi hangat. Mungkin dulu ketika masih kos di daerah kumuh, air susah didapat. Kalau pun ada mungkin baunya kurang sedap dan terasa aneh jika di pakai kumur-kumur.

Salah satu kiat gampang mensukuri rezeki dari Allah adalah dengan membandingkan orang lain atau diri kita sendiri pada kondisi yang lebih buruk. Dengan selalu dihadapkan pada kondisi seperti itu tentu manusia akan sering bersyukur.

Melihat apa saja yang ada sebagai rezeki memang tidak gampang. Manusia sering mengukur keberadaan rezeki dengan harta yang dipunyainya. Padahal rezeki yang diberikan Allah tidak melulu bersifat materi. Masyarakat umum memang sering mengartikan rezeki dengan harta atau bahkan uang. Rezekinya bagus artinya dia kaya secara materi. Seseorang mendoakan sahabatnya agar rezekinya lancer berarti ia berharap bisa mendapatkan harta dengan mudah. Sebenarnya rezeki bisa saja tidak erupa harta dengan mudah. Sebenarnya rezeki bisa saja tidak berupa harta. Dia bisa saja berupa sesuatu yang difatnya non materi. Ia bisa merupakan suatu keadaan yang menjadikan kita mau bersyukur kepada-Nya. Dalam islam rezeki yang dianggap baik sebagai berikut.

 

A. Harta yang baik

Rezeki dalam pandangan umat manusia kebanyakan adalah karunia berupa harta. Allah memberikan rezeki kepada manusia dalam segala kondisi. Artinya manusia bisa mendapatkannya dengan cara yang halal, bisa pula dengan cara yang haram. Harta haram juga merupakan rezeki dari Allah, tapi Allah memberikannya dengan tidak “rela”. Dalam menangkap rezeki yang dicurahkan oleh-Nya, manusia dianjurkan dengan cara yang halal. Misalnya, dengan bekerja keras sesuai tuntunan yang telah diberikan agama.

Kriteria awal harta yang baik adalah harta yang didapatkan dengan cara yang baik. Bagaimana cara mendapatkan harta yang baik akan dibahas di lain kesempatan, tidak di tuliskan ini. Kriteria berikutnya mengenai harta yang baik sebagai rezeki dari Allah adalah penggunaannya pun secara baik pula. Seperti apakah harta yang baik dilihat dari penggunaannya?

1. Harta yang Mendekatkan Pemiliknya kepada Allah

Harta yang baik adalah harta yang di dapat dari cara yang halal dan harta tersebut makin mendekatkan pemiliknya dengan Allah. Harta yang justru menjaukan pemiliknya dari Allah adalah musibah. Tipe manusia seperti ini jelas tidak akan bersyukur atas apa yang telah diterimanya. Misalnya, seorang manager mempunyai penghasilan yang besar dari usaha yang halal. Namun, karena seharian penat bekerja maka malam harinya ia pergi ke nightclub dan berhura – hura dengan minum – minuman keras. Keceriaannya di malam itu untuk menghilangkan kepenatan justru melanggar tuntutan agama. Harta semacam itu, meski didapatkan dengan cara yang halal, merupakan harta yang tidak baik karena dibelanjakan dengan cara yang batil.

Hal yang semestinya dilakukan manajer tersebut adalah di siang hari ia bekerja keras, pulang kantor ia langsung pulang untuk bercengkerama dengan anak dan istrinya. Kehadiran ia di tengah keluarga akan membawa keceriaan sejati di rumah. Harta yang dia dapatkan sebagai hasil usaha keras di siang hari, dibelikan mainan atau hadiah untuk anak ataupun istrinya. Barangkali juga ia segera berganti baju dan makan bersama keluarga di rumah makan, ia mendatangkan keceriaan bagi semua. Usahanya menggembirakan semua anggota keluarganya akan mendekatkan dirinya kepada Allah.

Bisa juga ia mencari aktivitas lain dengan menghadiri acara – acara majelis zikir dan ilmu. Harta yang didapatkan dipakainya untuk menambah ilmu atau membantu saudara – saudaranya yang lain. Harta yang di belanjakan tidak saja dengan cara yang benar, tapi juga agar mendekatkan dirinya kepada Sang Khaliq adalah harta yang baik. Harta yang tidak akan dihisab, kecuali dengna diberikan imbalan yang berlipat ganda seperti janji Allah,


“Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang – orang yang menafkahkan hartanya di jalan
Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap – tiap bulir
tumbuh seratus biji. Allah melipat gandakan ganjaran bagi siapa yang Dia hendaki. Dan Allah Mahaluas
karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.”
(al-Baqarah: 261)

Dapat dibayangkan betapa besar imbalan yang diberikan Allah bagi mereka yang menggunakan hartanya untuk keperluan agama dan masyarakat luas. Menggunakannya seribu rupiah setara dengan tujuh ratus ribu rupiah. Bagaimana kalau sejuta? Bagaimana kalau lebih dari itu? Itu pun janji Allah bisa lebih dari sekedar perkalian tujuh ratus. Hanya saja, kalau dipersuntukkan sebagai pemberian kepada orang lain, maka dilarang dengan menyakiti atau mngungkit – ungkit pemberian itu. Juga, tidak pamer agar terlihat orang lain meskipun menampakkan pemberian tidak dilarang.

Dalam kelanjutan ayat tersebut Allah memberikan perumpamaan jika seseorang menafkahkan hartanya di jalan Allah tapi dengan cara menyebut – nyebut pemberian tersebut dan dengan maksud riya’ maka ia laksana tanah di atas batu licin. Tanah itu akan segera lenyap dengan adanya embusan angin atau hujan deras. Sementara, orang yang menafkahkannya dengan keridahan diri ingin mendekatkan dirinya dengan Allah maka ia seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang di siram oleh hujan lebat. Maka kebun itu akan menghasilkan buah yang berlipat ganda. Kalau pun hujan lebat tidak menyiramnya, hujan rintik – rintik pun dapat membuat kebun tersebut berbuah dengan baik.

Jadi, syarat harta yang baik adalah harta yang didapat dengan cara yang halal kemudian digunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta berupa pemberian kepada orang lain dengan tidak menyakiti yang bersangkutan atau bermaksud riya’ (pamer). Semakin ia menggunakan harta itu, semakin ia dekat sengan Allah dan bertambah ketaqwaannya. Itulah ciri rezeki harta yang baik.


2.Harta yang Bermanfaat bagi Orang Lain

Berikutnya adalah rezeki harta yang membawa manfaat bagi umat manusia. Contoh klasik adalah harta yang dibelanjakan untuk keperluan amal jariah seperti pembangunan masjid, gedung untuk sekolah, rumah sakit, panti asuhan, penampungan, orang tua jompo, pembuatan jembatan atau saluran air dan sebagainya. Seseorang yang menggunakan kelebihan hartanya untuk kepentingan imbalannya secara jariah, yaitu tidak terputus – putus selama dimanfaatkan oleh orang lain meskipun ia telah meninggal. Hanya sebagaimana cirri harta yang pertama, maka cara mendapatkannya pun harus halal.

Memang tidak sedikit orang yang mendapatkan harta haram kemudian menafkahkannya untuk kepentingan agama atau masyarakat umum dengan alasan supaya bersih. Misalnya seseorang melakukan korupsi, sebagian harta korupsi tadi dipakai untuk menyumbang mesjid atau membangun rumah sakit. Penggunaan harta seperti itu, walaupun ikhlas tidak akan diterima oleh Allah. Hartanya pun terkategori harta yang tidak baik. Prinsip Robin Hood tidak ada di dalam islam. Robin Hood merampok harta orang – orang kaya kemudian membagikannya kepada orang miskin. Perbuatan memberi harta kepada orang miskin memang amal yang baik. Tapi merampok, meski yang dirampok pejabat korup, tetap saja merampok. Islam melarang merampok, tidak peduli kepada orang baik atau orang jahat.

Jadi, harta yang baik salah satunya adalah karena ia dimanfaatkan untuk orang banyak. Orang, terutama kalangan bawah bisa ikut merasakan harta yang dimilikinya karena harta itu dipakai bersama – sama seberapa pun kecilnya. Sederhananya, lampu jalan di depan rumah mati, sementara kas RT tidak ada. Maka kita bisa membelikannya atau kita pasang sendiri lampu yang cukup terang di depan rumah sehingga orang yang lewat akan merasa nyaman, tidak tersandung batu, tifak takut gelap maupun sarang kejahatan.

Sedikit apa pun, usahakan harta kita bermanfaat buat orang lain. Sebab, hakikatnya rezeki harta itu pemberian Allah. Milik Allah. Tifak perlu ragu untuk membelanjakannya di jalan-Nya. Maka akan indah sekali dunia apabila setiap manusia saling membantu dalam kebaikan. Allah berfirman,

“Tolong – menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwadan janganlah tolong – menolong dalam berbuat dosa dan keburukan.” (al-Maa’idah: 2)


3. Harta yang Pemiliknya Merasa Cukup

Harta yang baik sebagai rezeki dari Allah adalah harta yang tidak menggerogoti jiwa pemiliknya. Harta tersebut tidak seperti air laut, yang setiap kali kita meminumnya jika haus, akan membuat kita makin haus. Harta yang baik adalah harta yang pemiliknya merasa cukup dengan harta itu. Ia tidak silau dengan kemegahan dan kemewahan. Hidupny sederhana, karena ia merasa denngan harta itu sudah cukup.

Kriteria cukup ini punya kaitan erat dengan hal pertama dan kedua. Tanpa rasa cukup pada dirinya, mana mungkin seseorang akan membelanjakan hartanya di jalan Allah, maupun sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ia akan terus beralasan bahwa kebutuhannya belum cukup sehingga belum bisa berinfak maupun beramal. Ketika dimintai sumbangan masjid, ia berdalih masih harus memperbaiki atap rumah atau keran dapur yang bocor. Saat perpustakaan sekolah membutuhkan buku – buku bermutu ia tidak mau berpartisipasi karena anaknya sendiri pun masih butuh buku. Pokoknya, ia hanya mau beramal dengan hartanya kalau semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Padahal adakah seseorang seperti itu merasa cukup dengan kebutuhannya? Ketika masih kontrak rumah, ia tidak mengeluarkan hartanya untuk berjihad dengan dalih mau beli rumah. Ketika sudah membeli rumah, mengisi perabotan dan peralatan rumah menjadi alasan. Ketika semua sudah lengkap, renovasi rumah ganti menjadi galih. Berikutnya renovasi dan membeli rumah lagi yang lebih besar. Akhirnya, sampai kapan ia merasa cukup?

Oleh karena itu, harta yang baik adalah harta yang membuat pemiliknya merasa cukup. Keuntungannya, adalah ia tidak diperbudak hawa nafsu dengan harta itu. Hidupnya akan tenang, tidak ngoyo dalam mengejar dunia. Kedua, dengan kecukupannya, ia bisa menafkahkan hartanya di jalan Allah atau sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, meskipun antara kecukupan dan keinginan untuk beramal adalah sesuatu yang berbeda. Bisa jadi seorang merasa cukup dengan hartanya, tapi ia tidak tergerak untuk beramal. Namun yang jelas , kalau seseorang masih merasa kurang dengan hartanya ia tidak akan memungkin beramal.

Ciri – cirri harta yang baik dapat kita amati dari kehidupan para sahabat Nabi.saw. Salah satunya Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat yang paling kaya. Ia tidak merasakan masalah ketika berhijrah dari Mekah ke Madinah. Padahal dengan hijrah tersebut semua harta bendanya harus di tinggalkan begitu saja, sementara di Madinah belum tahu nasibnya seperti apa. Ia hijrah dengan tidak membawa apa – apa. Di Madinah ia dipersaudarakan dengan salah seorang muslim. Madinah yang memberikan materi bahkan mencari istri baginya. Abdurrahman menolak dan hanya berkata, “Tolong tunjukkan saja di mana letaknya pasar di Madinah!” Ia berdagang dan berusaha lagi sehingga akhirnya menjadi kaya kembali. Dalam sejarah, ia tercatat pernah membeli tanah seharga 40 ribu dinar dan di bagikan kepada keluarga Nabi dan kaum muslimin yang fakir. Suatu ketika ia menyediakan 1500 ekor kuda untuk keperluan jihad. Pada saat meninggal, ia mewasiatkan agar para veteran Perang Badar diberikan masing – masing 400 dinar. Sampai – sampai Utsman bin Affan, salah satu sahabat yang juga kaya pun mengambil bagiannya. Utsman berkata, “Sesungguhnya harta Abdurrahman halal dan suci dan makan dari harta itu sehat serta berkah.”

Itulah contoh harta yang baik. Abu bakar as Shiddiq sahabat Nabi saw. paling senior pernah menyerahkan seluruh hartanya kepada Nabi saw. untuk digunakan bagi kepentingan umum. Nabi saw. sendiri kaget,”Nanti engkau dan keluargamu makan apa, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab,”Cukup Allah yang menjamin hidupku dan keluargaku.” Abu Bakar adalah puncak dari sosok seseorang yang merasa cukup dengan rezeki harta yang diberikan Allah kepadanya.

 

B. Keluarga yang Sakinah

Seringnya manusia kurang mensyukuri rezeki yang telah di berikan Allah kepadanya karena beranggapan bahwa rezeki hanya berupa materi, khususnya uang. Padahal Allah juga memberikan rezeki-Nya tidak saja dalam bentuk materi, tetapi juga nonmateri. Salah satunya adalah keluarga yang sakinah. Bisa jadi seseorang miskin harta tapi mempunyai keluarga yang membuatnya bahagia. Kebahagiaan tersebut adalah rezeki yang patut disyukuri.

Kebahagiaan dalam rumah tangga adalah puncak kebahagiaan di dunia. Sepanjang pengalaman penulis, kebahagiaan keluarga merupakan kebahagiaan yang mempunyai kadar tertinggi di antara kebahagiaan – kebahagiaan yang lain. Kebahagiaan dan keindahan dalam rumah tangga, kebahagiaan bersama anak dan istri, terasa lain.

Setiap manusia pasti pernah merasakan saat – saat bahagia. Mungkin pada saat ia lulus ujian, mungkin saat diterima kerja atau promosi jabatan, mungkin saat memenangkan tender, mungkin saat melangsungkan pernikahan dan sebagainya. Nmun Allah saw. telah memberikan kebahagiaan yang demikian besar dalam rumah tangga. Kebahagiaan tersebut berupa kebersamaan dalam kehidupan sehari – hari antara pasangan dan anak cucu mereka. Anugerah tersebut sesuai dengan apa yang selalu dipinta manusia saat mendoakan keluarganya, sebagaimana dalam firman-Nya,


“…Wahai Tuhanku, jadikanlah istriku dan anak – anakku permata hati dan jadikan
mereka pmpinan orang – orang yang bertaqwa.”
(al-Furqaan: 74)

Dari doa tersebut akan terpancar suasana gembira dan bahagia setiap hari. Saat – saat yang paling indah adalah berkumpul dengan keluarga. Maka setiap memandang istri, anak – anak atau cucu, maka hati kita akan bahagia. Meskipun hanya memandang atau menyaksikan gurauan mereka. Itulah anugerah yang di berikan Allah atas kebahagiaan berumah tangga. Sehingga dapat di katakana itulah kebahagiaan di dunia yang hakiki.

Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang di dasari cinta kasih dan kesamaan keyakinan. Mereka adalah suami atau istri dan anak – anak yang saleh. Mereka satu sama lain saling mendukung dan mematutkan diri. Seperti apakah mereka?


1. Istri/Suami yang Saleh

Dalam keluarga yang sakinah tentu anggota – anggotanya merupakan orang – orang yang saleh. Mereka adalah orang – orang yang taat pada agama, menjalankan ibadah, menjauhi kemaksiatan, dan banyak beramal. Suami rajin shalat bersama istri dan anak – anak. Ia membangunkan keluarganya untuk bangun malam dan shalat tahajud. Tiap maghrib atau lepas subuh rumah mereka ramai dengan bacaan Al-Qur’an. Mereka juga gemar bersedekah dan menyatuni fakir miskin. Dasar agama ini menjadi vital mengingat kebaikan di luar kebaikan dalam kerangka agama belum tentu menjamin kebahagiaan.

Suami dan istri yang saleh tentu saling mendukung. Sering kita mendengar ungkapan, “Tidak ada pria baik kecuali di belakangnya ada istri yang baik, tidak ada pria yang buruk kecuali ada istri yang buruk di belakangnya.” Demikian pula sebaliknya dengan wanita. Dukungan yang diberikan adalah, dukungan untuk melaksanakan kebaikan dan menciptakan kondisi agar keduanya bisa saling berbuat baik.

Suami istri yang saleh juga saling mengisi kekurangan masing – masing. Allah menciptakan manusia dengan sifat – sifat yang berbeda. Mereka saling mematutkan diri agar serasi dan semputna. Misalnya, seorang suami yang mempunyai sifat introvert’ pendiam, tertutup’ dapat di tutup oleh istri yang mempunyai sifat extrovert ‘terbuka’. Sehingga ketika menghadapi orang atau pihak lain, keluarga tersebut tampak serasa dan yang penting kekurangan sifat masing – masing tidak akan menimbulkan masalah karena saling mengisi. Contoh lain yang lebih sederhana adalah bagaimana mereka tampil berdua sesuai dengan kondisi masing – masing. Seorsng suami yang berprofesi guru mempunyai istri perias di salon. Sang istri tentu tidak akan berhias menor tatkala ada acara perpisahan sekolah memdampingi suaminya. Ia akan berdadan sepatutnya menyesuaikan kondisi profesi yang suami. Demikian pula sebaliknya, apabila istri ada acara kondangan, maka suami tidak akan berbusana seperti seorang guru, tapi bisa memberi keseimbangan mendampingi istri.

Suami dan istri yang saleh tentu saling mencintai. Namun, kecintaan mereka di dasarkan pada kecintaan kepada Allah. Artinya , sepanjang sang pasangan mencintai Allah, maka ia akan mencintainya. Namun apabila tidak ada kecintaan kepada pasangannya. Jadi, jika suami atau istri mencintai pasangannya maka ia akan mencurahkan segala kasih saying padanya. Namun, jika tidak ada rasa cinta maka ia tidak akan menyakiti pasangannya.

Secara peran, suami menjadi kepala keluarga. Ia menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap segala sasuatu dalam “kerajaan” rumah tangganya. Seperti sabda Nabi saw. ,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban. Seorang suami adalah pemimpin bagi rumah tangganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”

Seorang pemimpin, apalagi pemimpin keluarga, bertanggung jawab atas kelangsungn hidup keluarganya baik dalam hal fisik maupun nonfisik Seorang suami saleh yang bertanggung jawab harus bekerja keras mencukupi kehidupan rumah tangganya, mendidik istri, dan anak – anaknya agar taat kepada Allah dan bermanfaat bagi masyarakat. Kebanyakan manusia hanya menyadari tanggung jawab materinya saja dengan hanya memberikan uang kepada istri dan anak tiap bulannya. Namun ia tidak peduli dengn kelakuan dan tingkah polah istri dan anak – anaknya, apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak. Padahal, kelakuan dan akhlak mereka tanggung jawabnya juga. Seorang suami yang saleh akan memperhatikan itu semua karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Sementara peran istri adalah memberikan ruh bagi suami. Istri yang saleh secara harfiah sudah di jelaskan oleh hadits Nabi.Beliau mencirikan istri yang saleh yaitu mereka yang taat pada suami, menyenangkan jika dipandang, menjaga harta suami dan kehormatan dirinya tatkala suaminya tidak ada. Istri yang saleh membuat suaminya ridha. Bahkan, Nabi saw. manjanjikan surga bagi seorang istri yang pada saat meninggalnya sang suami ridha atas hidupnya. Istri yang saleh menjadi dambaan bagi semua pria. Namun wanita seperti itu jumlahnya memang tidak banyak. Sebuah ungkapan menyatakan wanita saleh bagaikan burung gagak yang sayapnya putih sebelah. Sebuah ungkapan yang menunjukan sedikitnya wanita salehah.

Jadi, seorang suami yang mempunyai istri salehah atau seorang istri yang mempunyai suami saleh berarti memeliki rezeki yang baik dari Allah. Anugerah itu patutu disyukuri dengan selalu menjaga dan mempertahankannya. Sama dengan harta, kesalehan istri atau suami juga harus “disalurkan” secara baik demi kepentingan agama dan masyarakat sekitarnya.


2. Anak yang Saleh

Anak yang saleh adalah anak yang berbakti pada orang tua. Dengan cara apa ia berbakti? Tentu dalam banyak hal. Diantaranya membantu keluarga dalam urusan – urusan kerumahtanggaan. Bagi anak laki – laki, lebih ke arah fisik dan perlindingan kepada anggota keluarga yang wanita. Ia dapat di andalkan dalam menyelesaikan suatu persoalan.

Dari segi non materi anak yang saleh taat menjalankan perintah agama. Ia rajin beribadah dan berakhlak mulia. Juga ia rajin mendoakan ayah dan ibunya setiap kalinya selesai shalat. Ia pun pandai menempatkan diri sebagai anak sehubungan dengan kondisi dan profesi orang tuanya. Lebih dari itu, seorang anak yang saleh adalah anak yang bermanfaat bagi lingkungannnya. Dikampung ia senang membantu tetangga dan aktif dalam kegiatan pemudaan. Aktifitasnya di dalam dan di luar rumah akan membuat bangga orang tua.

Pada dasarnya orang tua selalu ingin membanggakan anaknya. Orang tua yang saleh akan merasa bangga jika anaknya menjadi anak yang saleh, tidak sekedar pandai dan juara. Orang tua akan bangga dan bahagia jika punya anak yang taat beragama dan pandai bergaul dalam masyarakat. Sementara dari kepandaian otak tidak terlalu buruk. Istilah sekarang, anak yang mempunyai EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) yang tinggi adalah dambaan orang tua.

Mempunyai anak yang saleh merupakan rezeki yang baik dari Allah. Ia patut disyukuri, terlebih di zaman sekarang dimana banyak anak yang tidak menghormati atau berbakti kepada orang tua. Rezeki harta yang diperoleh orang tua tidak mampu menjadikan rezeki yang satu ini menjadi rezeki yang baik pula. Oleh karena itu, anak yang saleh harus “di pelihara” oleh orang tuanya agar membawa manfaat yang luas, baik diri, keluarga maupun masyarakat luas.

 

C. Teman yang Baik

Salah satu jenis rezeki yang baik adalah teman yang baik. Teman adalah rezeki. Namun rezeki yang bagaimana? Tentu teman yang saleh. Rasulullah bersabda.

“Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk bagaikan pembawa menyak wangi dengan peniup api. Pembawa minyak wangi ada kalanya dia memberimu atau engkau membeli darinya atau paling tidak engkau akan mendapatkan bau yang harum darinya. Sedangkan peniup api (biasanya pada tukang pandai besi), ia bisa membakar pakaianmu atau paling tidak engkau akan mendapatkan bau (pembakaran) yang busuk darinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Memang, teman apalagi teman akrab akan membawa pengaruh pada diri kita. Nabi pernah bersabda,

“Seseorang akan terpengaruh agama temannya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang di antara kamu memperhatikan siapa temannya.” (HR Tirmidzi)

Seseorang akan dilihat dari kawan – kawannya. Kalau sahabat karibnya seorang bajingan tentu orang akan mengenal kita bajingan pula. Demikian pula apabila kita dengan orang yang saleh, kita akan “kecipratan” pula akan kesalehannya. Rasulullah memerintahkan kita untuk,

“Jauhilah olehmu teman yang buruk. Karena sesungguhnya engaku akan dikenal dengan keburukannya.” (HR Ibnu Azakir)

Seorang teman yang baik tidak mendekat hanya saat sukses atau menjauh ketika jatuh. Ia juga tidak mengajak kepada yang buruk namun mengajak pada kebaikan, saling memberi, berkirim salam dan mengingatkan akan kebaikan. Teman yang baik akan membuat kita merasa aman dengan terhadap diri (fisik dan nonfisik), harta dan keluarga kita.

Diluar itu semua, seorang teman yang baik adalah teman yang selalu hadir jika dibutuhkan (friends that you can rely/call on). Kapan saja kita meminta bantuan kepadanya ia selalu menyambutnya. Sering kita dengar ungkapan, “A friend in need is a friend indeed.” Jika kita sedang ada masalah ia menawarkan solusi atau minimal memberikan simpati.

Seorang eksekutif perusahaan dalam negeri sedang “ditawar” oleh perusahaan raksasa dari Amerika. Pimpinan perusahaan tersebut langsung terbang dari AS ke Jakarta untuk mewawancarai eksekutif local itu demi memastikan apakah orang ini layak untuk mewakili perusahaan globalnya di Indonesia. Sang eksekutif bingung. Ia tidak menyangka pimpinan perusahaan raksasa itu datang ke Indonesia hanya untuk makan siang dengannya. Apa yang harus ia lakukan? Akhirnya ia menelepon orang itu untuk minta izin membawa temannya sebagai teman ngobrol dan dia pun tidak merasa keberatan.

Eksekutif tersebut segera mengontak teman – temannya. Mereka diajak makan siang bareng seorang pimpinan perusahaan raksasa dari Amerika yang akan membuka perwakilan di Indonesia. Teman yang di ajak ada tiga orang. Mereka adalah mantan gubernur DKI yang menjadi anggota MPR. Orang ini tentu menguasai kondisi politik baik di eksekutif maupun legislatif. Teman kedua adalah calon duta besar Indonesia untuk untuk Amerika. Orang ini tentu menguasai hubungan kedua Negara baik dari segi politik maupun ekonomi. Teman ketiga adalah seorang pengacara yang kondang dengan masalah – masalah hukum positif di Indonesia yang berkenaan dengan bisnis.

Ketiga kawan tersebut meskipun orang sibuk, mereka ternyata menyempatkan diri memenuhi undangan tersebut. Itulah kawan yang you can call on. Saat makan bersama, sang eksekutif local bersama ketiga temannya, sedangkan tamu yang jauh itu ditemani seorang representatifnya di Indonesia. Obrolan terlangsung dengan lancar dan asyik. Tamu tersebut tampak gembira dengan keterangan yang disampaikan oleh orang – orang penting kawan eksekutif tersebut. Tanpa terasa satu jam berlalu dan kawan – kawan tadi mohon pamit untuk kembali bekerja.

Kemudian kawan – kawan eksekutif tadi berkata pada tamunya, “Bagaimana.sir? Orang itu menjawab , “Oke. Anda diterima. Selamat bergabung .” Sang eksekutif malah kaget. “Lho, Anda belum mewawancarai saya, khan?” “Well,” kata sang tamu, “Orang yang mempunyai teman seperti itu tentu bukan orang sembarang. Anda saya pikir memang bukan orang sembarang,” ujarnya sambil melepas jabat tangannya. Saat itu sang tamu langsung menuju bandara dan balik ke negerinya.

Mempunyai kawan seperti orang ketiga tersebut tentu sebuah rezeki yang baik. Mereka datang saat dibutuhkan, meskipun sekedar makan siang dan ngobrol. Mereka memberikan rezeki yang baik buat kita, walau tidak berupa harta. Toh, pada akhirnya seperti dalam kejadian di atas, ujung – ujungnya rezeki harta yang didapat eksekutif tadi sebagai kepala cabang untuk Asia pasifik karena teman – temannya yag baik. Jadi, teman yang baik adalah rezeki yang baik.

 

D. Lingkungan yang Baik

Nabi bersabda, “Al-jar qabla addar.” ‘Tetangga sebelum rumah.’” Rasulullah saw. memerintahkan kita agar memperhatikan lingkungan terlebih dahulu sebelum memilih rumah. Jika seseorang akan membeli rumah periksalah apakah lingkungan tempat ia tinggal kelak adalah lingkungan yang baik. Suasananya islami dan tidak cenderung maksiat. Jika lingkungan tersebut akan memberikan situasi yang kondusif bagi perkembangan pendidikan dan akhlak bagi keluarga kita, maka bolehlah kita beli dan tinggal di rumah itu.

Namun sering diantara kita membeli rumah memilih daerah terlebih dahulu. Daerahnya bagus atau tidak, dekat atau jauh, elite atau kumuh, banjir atau tidak, mahal atau murah, dan sebagainya. Memilih tempat tinggal dengan memperhatikan faktor-faktor fisik memang bukan sesuatu yang terlarang bahkan dianjurkan agar kita nyaman menempatinya. Namun faktor lingkungan harus dipertimbangkan terlebih dahulu. Sebagaimana teman, lingkungan juga menunjukkan siapa kita. Sebuah perumahan yang sering rumah-rumahnya dijadikan tempat wanita simpanan akan mempengaruhi kita ketika kita menunjukkan tempat tinggal kita. Bahkan kalau sebuah perumahan terkenal dengan wanita simpanan, istri kita yang baik-baik pun akan disangka wanita nakal. Jangan-jangan malah ditawar orang pula. Oleh karena itu, memilih lingkungan terlebih dulu sangatlah penting. Jangan sampai menyesal karena membeli rumah bukan seperti membeli pisang goring, yang kalau rasanya tidak enak tinggal buang dan kita beli lagi.

Bagi seseorang yang mempunyai lingkungan tempat tinggal baik, itu merupakan rezeki yang baik pula baginya. Lingkungan yang baik adalah yang islami, saling menolong, jauh dari intrik dan gossip, peduli terhadap tetangga, saling tegur sapa, saling memberi (misalnya berkirim makanan), saling mengingatkan jika salah dan yang penting kita merasa aman tinggal di lingkungan tersebut. Seorang suami yang bekerja akan tenang meninggalkan istri dan anaknya di rumah. Karena tetangga akan ikut menjaganya.

Oleh karena itu, dalam Islam, “pagar makan tanaman” hukumannya berat. Kalau seseorang berzina dengan istri orang maka hukumannya berat. Namun lebih berat lagi kalau yang diajak berzina istri tetangga. Allah melipatgandakan hukuman terhadap orang tersebut. Semestinya pria tersebut ikut menjaga kehormatan istri tetangga baik dai dirinya maupun orang lain. Tetangga yang baik adalah tetangga yang ikut menjaga harta maupun kehormatan tetanggannya. Kalau lingkungan sudah seperti itu, maka itu adalah rezeki yang baik buatnya.

Berbeda dengan rezeki harta, rezeki keluarga, teman dan lingkungan bisa diperbaiki. Seseorang yang mendapatkan harta dengan cara tidak halal tidak bisa diperbaiki dengan menyedekahkannya pada fakir miskin. Seseorang yang melakukan korupsi hanya bisa memperbaiki kesalahannya dengan mengembalikan harta yang dikorup. Ia tidak bisa memanfaatkan harta tersebut untuk kebaikan. Sementara seseorang yang mempunyai keluarga, teman, atau lingkungan yang kurang baik karena salah mendapatkannya pertama kali, ia bisa memperbaiki rezekinya itu agar menjadi baik. Seseorang yang sudah terlanjur mempunyai istri atau suami yang tukang maksiat, bisa dan harus bisa memperbaiki kelakuan pasangannya agar menjadi baik. Demikian pula dengan teman dan lingkungan. Apabila kita pertama kali tergiur dengan tawaran developer untuk membeli rumah yang bagus dan murah, ternyata lingkungannya bobrok moralnya, maka kita wajib memperbaiki lingkungan tersebut. Kita harus menebus kesalahan untuk itu, juga agar hidup yang selanjutnya kita tempuh menjadi sakinah.

 

E. Pekerjaan yang Baik

Yang terakhir, salah satu rezeki yang baik adalah pekerjaan yang baik. Rezeki ini jarang dipikirkan dan direnungkan oleh banyak orang. Mereka terbawa dengan rutinitas keseharian. Berangkat pagi dan pulang petang, tanpa memikirkan apakah sebetulnya pekerjaan yang ia lakukan di kantor, pasar maupun tempat-tempat lain itu baik atau tidak.

Padahal pekerjaan yang baik adalah rezeki yang baik yang diberikan Allah pada kita. Bagaimana pekerjan yang baik menurut Islam? Pekerjaan yang menjadi rezeki yang baik adalah pekerjaan yang tidak menjauhkan dirinya dari ibadah kepada Allah. Bisa saja waktunya ia mengerjakan pekerjaan tersebut padat. Namun tidak menjadi masalah jika ia meninggalkan untuk shalat atau acara rapat-rapat kerohanian. Seseorang yang sibuk (atau menyibukkan diri?) dengan pekerjaannya sehingga ia tidak bisa melakukan ibadah (bukan karena ia malas ibadah) maka pekerjaan tersebut musibah baginya. Ia harus segera keluar kalau tidak bisa memperbaiki pola kerjanya. Memang bekerja sebagai suatu kewajiban yang diperintahkan agama, terutama bagi laki-laki. Tapi kewajiban ibadah lebih diprioritaskan sebagaimana sabda Nabi saw.,

“Mencari pekerjaan yang halal adalah wajib, setelah kewjiban-kewajiban ibadah.” (HR Ahmad)

Di samping pekerjaan yang kita lakukan tidak menghalangi kita untuk melakukan ibadah, pekerjaan yang baik adalah yang sesuai atau cocok dengan kita. Pekerjaan tersebut sesuai dengan impian kita, sesuai dengan bakat kita, sesuai dengan profesi kita, sesuai dengan hati nurani kita. Pekerjaan yang membuat kita tidak ikhlas juga termasuk musibah bagi kita. Sebab kita tidak akan dapat mensyukuri rezeki yang satu ini jika kita tidak ikhlas. Oleh karena itu, carilah pekerjaan yang sesuai dan cocok dengan diri kita.

Selain cocok, pekerjaan yang baik harus dapat meningkatkan integritas kita. Jangan sampai karena kita suka atau cocok dengan pekerjaan tersebut, kita menjadi tidak berkembang dan tidak bertambah kemampuannya. Integritas yang terdiri dari kompetensi terhadap pekerjaan dan kultur budaya kerja yang baik menjadi syarat pekerjaan yang baik. Ia dibutuhkan untuk mengembangkan karier dan potensinya agar lebih maju. Kemajuan itulah yang membuat ia merasa berhasil. John Ruskin berkata, “Agar orang dapat berbahagia dalam melakukan suatu pekerjaan diperlukan tiga hal, mereka harus menyenangi pekerjaan tersebut, mereka tidak perlu terlalu bekerja keras, dan mereka harus memiliki suatu rasa keberhasilan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut.”

Seperti kata Ruskin, berikutnya pekerjaan yang baik adalah yang tidak terlalu berat. Meskipun orang dapat beribadah dalam bekerja, juga pekerjaannya sesuai dengan keinginan, namun kalau terlalu berat itu tanda-tanda kurang baik. Rasulullah pun pernah menyatakan bahwa seseorang yang bekerja mengharapkan dunia, Allah akan membuat pekerjaan tersebut menjadi susah dan berat. Artinya dengan pengertian terbalik, orang yang pekerjaannya susah dan berat termasuk orang yang tujuan bekerjanya mencari dunia. Padahal bekerja semata-mata hanya mencari dunia dilarang oleh Allah. Bekerja adalah ibadah. Allah menyukai ibadah yang ringan tapi istiqamah, seperti sabda Nabi saw.,

“Sebaik-baik ibadah adalah yang ringan namun rutin.”

Itulah rezeki yang baik. Allah memberikannya tidak melulu berupa harta, namun bisa juga keluarga, teman, tetangga, dan pekerjaan. Semua rezeki yang baik tersebut patut direnungkan keberadaannya. Jangan sampai kita lupa mensyukuri atau hanya mensyukuri nikmat harta saja. Keempat rezeki yang lain, dalam banyak hal, justru lebih besar nilainya dibanding rezeki harta. Oleh karena itu, sekali lagi, jangan lupa mensyukurinya.

 

 

* * *

 
Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul