Manusia makan dari life system. Tapi dia juga harus mempu memanfaatkan in animate system. Sebagai contoh, batu bara itu in animate tapi manusia mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat, energi. Einstein dengan teori relatifitasnya menyatakan bahwa benda mati atau materi pada hakekatnya merupakan bentuk lain dari energi , yang mempunyai hubungan yang dinyatakan dengan rumus yang amat terkenal itu : E=MC2. Demikianlah manusia secara fungsi adalah satu. Ia tidak di bedakan karena warna kulit, letak geografis, ideology yang dianutnya dan sebagainya.

Semua sama dan satu dalam fungsinya. Itulah yang dinamakan Keesaan Kemanusiaan.

Untuk fungsi itulah Allah menurunkan petunjuknya agar manusia mampu memahami hukum – hukumnya dengan mengutus para guru yang kita sebut Para nabi dan para rasul itu dengan diberi wahyu, yang secara harfiah berarti diberi informasi langsung dari Allah, kemudian mengajarkan pengetahuan, yang ia dapatkan melalui wahyu itu kepada orang dekat pilihannya yang akhirnya menjadikan mereka itu satu elit dari satu kaum.

Elit – elit inilah dalam perilaku kehidupannya akhirnya melahirkan suatu system hukum dan aturan yang kemudian menjadi pedoman menjadi pedoman bagi kaum tertentu itu. Dengan demikian dilihat secara hirarki terjadilah satu hirarki system yang runtut dan teratur. Bertumpu dan taat pada sunatullah. Terjadilah system alam jagat raya dan bumi sebagiai tempat manusia dan makhluk hidup lainnya itu hidup. Inilah system alam dan lingkungan hidup. Di dalam system alam dan lingkungan hidup ialah dicontohkan oleh perilaku para – para elit itu, bagaimana manusia hidup berbudaya. Sistem ini disebut dengan system sosial budaya itulah diatur siapa berkuasa apa dan berkuasa apa . Ini disebut system politik. Di dalam system politik itu diatur siapa, apa dan bagaimana membangun ‘kebutuhan’ dan ‘pemenuhannya’. Sistem ini disebut system ekonomi. Di dalam system ekonomi, manusia berupaya, menggunakan akal budi dan pengetahuannya, untuk melahirkan berbagai perangkat alat dan metoda guna membantu dan mempermudah pemenuhan kebutuhannya itu ini di sebut system teknologi.

Bahwa kemudian bisa saja Sistem Teknologi mempengaruhi system ekonomi, dan Sistem Ekonomi mempengaruhi Sistem Politik, lalu Sistem Politik mempengaruhi Sistem Alam Lingkungan yang menjadikan proses perubahan yang tiada henti dan berkelanjutan, namum Hukum dan Sistem Alam (sunatullah) mempunyai otoritas memjaga hirarki itu dalam tatanannya yang benar.

Hirarki ini terganggu tatkala manusia mulai tidak percaya akan ketak_terhingga_an. Kemudian merasa bahwa semuanya terbatas (limited). Maka ia akan berpikir bahwa ketak_terhingga_an itu omong kosong (nonsense). Dan oleh karenanya keberlimpahan itu juga omong kosong. Dilandasi kekhawatiran, ia menjadi pelit dan tamak (greed). Dan itu tidak indah, harmoni menjadi hilang. Yang kemudian, akan terlanggarlah keadilan, yang akhirnya akan mengganggu keseimbangan dan pasangan.

Namun, Sunatullah mempunyai kekuasaan untuk mengambil system hirarki sebagaimana semestinya. Sunatullah akan membangun pasangan baru, keseimbangan baru, keadilan baru dan seterusnya sehingga tercipta kembali keharmonisan baru. Dan yang terkorbankan pasti tiada lain manusia itu sendiri. Ada tulisan bijak di kebun binatang Singapura yang berbunyi:

“Bila ikan terakhir sudah terpancing, sungai terakhir sudah di racuni, pohon terakhir sudah di tebang dan buruan terakhir sudah di tembak, baru manusia sadar bahwa uang yang tidak bisa dimakan”

Dari sini dapatlah dipetik hikmah bahwa manusia dalam menjalani hidupnya akan menghadapi apakah kemakmuran, ataukah bencana. Ini semua adalah demonstrasi tunggalnya dal mutlaknya kekuasaan tunggal yaitu kekuasaan Allah. Maka tidak ada kata yang lebih benar dalam menghadapi apa yang terjadi selain ucapan Maha Suci Allah, Segala Puji untuk Nya, Tiada Tuhan selain Diri Nya dan Sungguh Maha Besar Dia. ‘Subhanallah, Alhamdulillah wa laa ilaaha illallahu Allahu Akbar’

Wujud dari kekuasaan Allah yang mutlak namun penih kasih dan saying itu, adalah diberinya petunjuk, yang mengatakan bahwa setiap mansia adalah pemimpin yang harus menghadapi apa yang harus dihadapinya secara individu namun harus dalam rangkaian kebersamaan dengan orang lain maupun dengan yang selain dirinya. Seorang pemimpin yang mendermakan kepemimpinnya untuk manfaat bersama, dalam kebersaan. Inilah yang disebut Pemimpin dengan Karakter Korporasi.

Kekuasaan Allah akan menampilkan kenyataan bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang abadi. Semu dalam proses berubah. Dan bagi manusia esensi perubahan adalah kedewasaan (to be matured), menjadi selalu lebih baik dari sebelumnya (khaiu min amsihi).

Kenyataan yang kedua dari kekuasaan Allah adalah bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang tidak terkait satu dengan yang lain. Apapun yang ada adalah bagian tak terpisahkan dari yang lain, apakah memberi akibat mudharat (merusak) maupun manfaat, semuanya terkait (interlinked). Oleh karenanya satu tidak bias lepas dari yang lain. Satu perbuatan buruk sekecil apapun akan berakibat, dan sekecil apapun perbuatan baik akan bermanfaat. Dan semuanya akan kembali kepada yang melakukannya.

Oleh karenanya, kenyataan yang ketiga adalah bahwa kebahagiaan manusia tidak terletak pada betapa bahagia dirinya, namun betapa bahagiannya banyak orang karena dirinya. Manusia ada, pasti bukan untuk dirinya tapi untuk yang selain dirinya. Sikap paling bijak dari kenyataan ini adalah membangun hati yang mampu melepaskan diri dari hasil apapun upaya dan ikhtiarnya. Ia haus mampu mengikhlaskan diri menjadi pupuk bagi kehidupan. Ajaran Agama mengatakan bahwa,

“Tidaklah nabi (sebagai representatif manusia) diturunkan ke muka bumi kecuali sebagai rachmat bagi seluruh alam.” “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain.”

Maka hakikat menjadi manusia yang sempurna adalah menjadi pemimpin dengan karakter korporasi, dengan karakter keberjamaahan. Tiada pilihan lain manusia itu harus cerdas. Ia harus cerdas dengan sadar, tentang dirinya, sadar tentang fasilitas yang ada atau disediakan untuk membangun dirinya, sadar tentang peran yang harus ia jalankan, sadar tentang peran orang lain yang setara dan seimbang dengan dirinya dan oleh karena itu harus mampu memiliki kemampuan komunikasi, yang mensilaturahimkan peran dirinya dengan orang lain serta alam sekelilingnya, dan peran orang lain itu serta alam sekitarnya dengan dirinya.

Itulah hakikat mematangkan diri, menempatkan diri sepatut-patutnya dalam proses perubahan yang tiada henti. Inilah bekal untuk berbahagia, sejahtera, nyaman lahir dan bathin, dunia dan akhirat.

Wisuda ini bukan akhir, tetapi awal memasuki universitas yang lebih berat, lebih canggih, lebih memerlukan komitmen, kecerdasan dan keikhlasan untuk menjalaninya, yaitu Universitas Kehidupan. Jadilah pemenang dalam kehidupan ini. Seorang yang tuflihuun. Yang menggunakan petunjuk Alaah, yarsyuduun dengan sebaik-baik yang mampu ia lakikan. Yang hasilnya akan menjadikannya ahli syukur, tasykurun. Dengan syukur itu sebagai modal dia akan membangun diri penuh pengertian, antum ta’lamuun, yang akhirnya akan menjalankan tugas ini dengan penuh ketakwaan, tattaquun. Selalu siap menerima panggilan tugas dengan selalu mengucapkan sami’na wa atha’na. Saya dengar ya Allah, dan saya ikhlas melaksanakan dan menjalinya.

Allah a’lam bi shawab.

Jika ada kebenaran itu datangnya dari Allah, jika ada kesalahan itu semata-mata karena kelemahan dan kekurangan saya. Akhirul kalam : Selamat berjuan !

Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum wr.wb.

 

Bandung , 27 Oktober 2007

UNIVERSITAS KRISTEN MARANTHA

 

 


Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul