Biografi
Palgunadi Tatit Setyawan

 

“Kalau begitu, saya orangnya kalahan dong Mbah,” protes Palgunadi kecil kepada kakeknya. Sang kakek bernama Saleh Haji memang yang memberi nama Palgunadi. Ia sedang bercerita tentang sejarah nama yang diberikan kepadanya.

Palgunadi artinya cakap, baik secara fisik maupun budi pekerti. Nama Palgunadi diambil dari cuplikan kisah pewayangan Palguna Palgunadi. Dalam cerita tersebut Palgunadi terbunuh. Palgunadi kecil protes kepada kakeknya karena memberi nama orang yang kalah.

“Justru Palgunadi itu menang. Menang di akhir,” jelas sang Kakek. “Sing menang wekasane dalam bahasa Jawa.”

Itulah doa sang kakek agar palgunadi kelak menjadi orang yang menang di akhir. Bukan sekadar di dunia, tapi di akhirat. Setelah dewasa dan mengkaji agama Palgunadi baru sadar setelah membaca firman Allah surah ad-Dhuha, “walal aakhiratu khairul laka minal uulaa. ‘Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulann.’”

Palgunadi Tatit Setyawan Anak tertua dari lima bersaudara itu lahir tahun 1939 di Tegal. Ayah bernama Sunaryo dan kakek bernama Suharto. Sementara kakek dari ibu bernama Saleh Haji, kakek yang sangat dekat dengan dirinya dan mempengaruhi jalan hidupnya, termasuk pula yang memberikan nama. Tatit artinya petir karena pas lahir sedang banyak kilat petir menyambar. Ayahanda adalah aktivis perkumpulan Indonesia Muda (IM) sehingga semua anaknya diberi akhir Setyawan.

Sang kakek mengajarkan falsafah padanya untuk sinau dadi wong sugih, ojo dadi wong mlarat ‘jadilah orang kaya, jangan jadi orang miskin’. Apa criteria melarat atau miskin itu? Pertama pemahaman agama kurang, kedua lemah dalam berpikir, dan ketiga kehormatannya tercuri. Oleh karena itu, untuk menjadi orang yang kaya bukanlah sekadar banyak harta tapi terutama kehormatan harus dijaga, jangan lemah dalam berpikir dan dalami ilmu agama.

Pada usia delapan tahun, Palgunadi dibawa kakeknya yang bekerja sebagai juru gambar di Perusahaan Jawatan Kereta Api, ke pelabuhan. Disana terlihat ada sebuah crane yang rusak, teonggok begitu saja tidak diperbaiki. Palgunadi kecil dengan polos bertanya, “Mengapa crane itu dibiarkan rusak, Mbah ?” Sang kakek menjawab bahwa yang bisa memperbaiki barang itu adalah para insinyur Belanda. Saat itu tahun 1947, dimana orang Belanda banyak yang pulang ke negerinya. “Oleh karena itu, kamu nanti harus menjadi insinyur agar bisa memperbaiki crane itu,” ujar kakeknya.

Akhirnya sejak itu, tertancap di dada Palgunadi untuk menjadi insinyur. Serasa ia menjalankan misi dari kakeknya untuk memperbaiki crane itu. Pendidikan SMP dan SMA ditempuhnya di jalur B atau IPA. Gurunya di SMP sempat ingin memasukkannya ke jurusan C atau ekonomi untuk selanjutnya masuk SMEA. Namun ia berusaha keras menolaknya agar tetap meneruskan ke SMA B.

Selepas SMA pikirannya hanya satu, masuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, yang pada saat Pal kecil berusia delapan tahun bernama Sekolah Teknik Tinggi (selanjutnya di tahun 1959 menjadi ITB, Institut Teknologi Bandung). Ia masuk tanpa tes karena nilai SMA-nya lebih dari cukup. Saking fokusnya kepada bidang teknik, Palgunadi sampai tidak tahu harus memilih jurusan apa. Saat pendaftaran di depan loket seseorang petugas bertanya mau mengambil jurusan apa, Palgunadi bingung. Ia minta waktu sebentar dan bertanya kepada orang-orang di sekitarnya kalau untuk memperbaiki crane mesti masuk jurusan apa. Akhirnya, ia mendapat jawaban jurusan Teknik Mesin. Mulailah ia kuliah di sana.

Sebelum lulus, Palgunadi muda sudah dipinang Departemen Pekerjaan Umum (PU) sekaligus diberikan beasiswa belajar. Tahun 1962 status kepegawaiannya dialihkan dari PU ke PNS Angkatan Darat. Di sanalah ia mempelajari kemiliteran. Semua pendidikan kemiliteran diikuti sampai ke Seskoad. Bahkan oleh pemerintah disekolahkan untuk mendalami bidang balistik di Yugoslavia. Ia berhasil menyandang gelar Dipl.Ing.Balistician. Setelah itu ia bekerja di PT Pindad, sesuai keahliannya sehingga pension tahun 1983. Pangkat terakhir adalah Letnan Kolonel.

Saat menjalani Masa Persiapan Pensiun (MPP), Pal Pal diterima di PT United Tractors dan selanjutnya ke PT Astra International Tbk. sebagai Corporate Communicator. Pada posisi inilah Pak Pal mulai banyak dikenal orang. Wajah dan komentar-komentarnya sering menghiasi media massa kala itu. Saat meninggalkan Astra tahun 1997, beliau menduduki jabatan terakhir sebagai Senior Vice President.

Kemudian Pak Pal dipinang perusahaan Amerika-Inggris GIBB Ltd. dari Lawgibb Group dengan posisi sebagai Regional Director untuk Asia. Lepas dari GIBB, ia diminta bantuan oleh konglomerat Raja Garuda Mas (RGM) Grup untuk melakukan hal yang sama seperti di Astra dengan pangkat dinaikkan tingkat satu menjadi Executive Vice President. Pada tahun 2003, Pak Pal melepas semua jabatan formal tersebut.

Dii tengah kesibukannya memberikan ceramah di berbagai tempat, Pak Pal diamanahi sebagai salah satu dari tiga wakil Indonesia untuk menjadi Member of ABAC Business Advisory Council untuk masa jabatan 2001- 2006. Seabrek jabatan lain yang saat ini disandangnya adalah sebagai Wakil Ketua Majelis Wali Amanah ITB, Kepala Pengembangan Manajemen dan Kewirausahaan Universitas al-Azhar Jakarta, anggota Dewan Riset Nasional, anggota Dewan Desain Nasional, anggota Badan Pengawas DML (Dana Mandiri Lingkungan), salah satu pendiri dan anggota Masyarakat Transparasi Indonesia (MTI) serta menjadi ketua Yayasan Para Sahabat, sebuah lembaga sosial yang bergerak di bidang pemberian kredit mikro (micro fiancing). Kiprahnya di dunia dakwah Islam juga tidak perlu disangsikan. Ia aktif di Daarut Tauhid, Bandung dan berceramah di berbagai kalangan terutama para professional muda.

Ya, begitulah Palgunadi. Yang menikah dengan Hetty Soemanti di Bandung tahun 1964. Dikaruniai seorang putra dan seorang putrid, juga mejadi kakek, saat ini, dari tujuh orang cucu. Kawan-kawan dekatnya mengenal dia sebagai sosok manusia yang selalu murah senyum, spiritually logical thinking, disiplin, kebapakan dan rendah hati. Lebih dari itu semu, Dia adalah orang yang selalu belajar tiada henti dan sederhana. Itulah Palgunadi.

 

* * *

 
Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul