Komitmen dalam Pekerjaan
Oleh : Palgunadi T. Setyawan

 

Ada ungkapan manis tentang persahabatan. Persahabatan adalah suatu janji...yang diucapkan hanya dengan hati... Janji yang selalu diperbaiki,... pada saat dua sahabat bertemu dan saling tersenyum, barbahagia, ceria, menikmati setiap detik, hanya karena bisa menikmati kebersamaan. Janji untuk selalu saling mengingat, satu terhadap yang lain, dengan kebangaan dan kesyukuran, tatkala dalam keadaan terpisah, baik dekat ataupun jauh...

Alangkah indahnya makna cantik persahabatan di atas bila diperluas tidak hanya antara dua orang sahabat, melainkan juga dengan orang terdekat, keluarga dirumah, tetangga, kerabat, dekat atau jauh, handai tolan, orang sekampung, orang senegeri dan seterusnya. Dan, selanjutnya tidak hanya antara kita manusia, namun juga dengan seluruh ciptaan Tuhan yang lain, makhluk hidup atau mati, mengimplementasikan petunjuk, untuk menjadi rakhmat seluruh alam.

Dan itu diaplikasikan juga untuk membangun sikap kita terhadap lingkungan kita, keluarga kita, kekerabatan kita, kerukunan-tetanggaan kita, terhadap Negara dan tanah air, dan secara khusus kepada tempat kerja kita masing-masing.

Rasa sahabat, yang diungkapkan dalam bentuk janji, yang selalu diperbaiki, secara bersambung dan berlanjut, itulah makna komitmen.

Setiap perbuatan itu nilainya ditentukan niat yang melandasi perbuatan itu. Apabila kita biasa membangun niat dalam membentuk komitmen terhadap setiap tempat atau peluang kerja yang diberikan kepada kita, percayalah betapa anda akan terkejut mendapa komitmen balasan dari tempat kerja anda yang anda berikan komitmen itu. Tidak saja balasan yang seimbang, namun biasanya jauh lebih dari yang anda harapkan.

Saya telah lebih dari 48 tahun, sejak pertama kali mensyukuri mendapat kesempatan kerja dengan gaji tetap, di bulan April tahun 1960. Yang saya sikapi dengan sikap bersahabat dan komitmen terhadap pekerjaan sebagai diuraikan diatas: Melalui berbagai macam jenis pekerjaan yang dihadirkan dihadapan saya, dengan melalui pensiun resmi hingga empat kali, kini saya memasuki bulan kedua tahun ke-49, tanpa ada satu bulanpun yang terputus, semua tempat kerja saya membalasi komitmen saya itu dengan amat dermawan dan berlimpah pada akhirnya, walau memang mungkin tidak pada awalnya.

Dari komitmen saya pada pekerjaan itu, saya mendapat kelimpahan kesejahteraan, tidak saja rezeki duniawi, melainkan terutama rezeki rohani. Merasa menjadi pemenang dan bukan pecundang. Bukan dengan rasa bangga dan sombong, melainkan dengan bersyukur dan rendah hati. Tentu, komitmen itu harus dibarengi dengan sikap diri untuk selalu tumbuh dan berkembang. Aktual pada setiap saat, keadaan, maupun tuntutan tugas sebagaimana pekerjaan membutuhkan kita. Berusaha dan berikhtiar untuk tampil sebaik mungkin. Bersikap untuk memberikan yang terbaik yang bisa diberikan.

Masih selalu terngian di telinga saya kata-kata “Apabila kita bisa biasa bersikap memberikan kontribusi pada pekerjaan, mengerjakan lebih banyak dari yang kita terima, cepat atau lambat akan tiba saatnya, kita akan menerima lebih banyak dari yang kita kerjakan”. Dan, titik balik itu telah lama merupakan sejarah bagi saya.

Tidak ada manusia yang luar biasa. Kita ini manusia biasa biasa saja. Yang ada hanyalah mimpi yang luar biasa, yang diikuti oleh ikhtiar yang luar biasa serta dzikir yang luar biasa. Nanti yang dilangit akan memberikan anugerah hasil yang luar biasa.

 

Media Asuransi No. 208
Mei 2008

 

 

Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul