Menyikapi Perubahan
Oleh : Palgunadi T. Setyawan

 

Di alam semesta ini ada sumberdaya yang tunggal tak tergantikan, namanya waktu. Dengan konsep waktu itu, maka manusia yang waras, dia disadarkan pada kenyataan bahwa segala sesuatu tidak ada yang abadi, segala sesuatu berubah. Barang menjadi lapuk, umur menjadi tua, pagi digantikan siang, siang digantikan malam dan malam digantikan pagi lagi. Suatu perubahan terus menerus tidak berhenti.

Manusia diberi kemampuan berfikir. Dengan berfikir, selain sadar tentang waktu dan perubahan yang berkait dengan waktu itu, manusia diberi kemampuan memilih. Alam ini diciptakan selalu dalam pasangan. Ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada nyaman ada derita, ada surga ada neraka, ada laki ada perempuan. Dalam melakukan pilihan itulah manusia terbentuk. Manusia terbentuk menjadi apa dia lahir dan batin, bukan karena alam (nature) bukan pula karena lingkungannya (nurture) melainkan karena pilihan-pilihan yang dilakukannya sepanjang hidupnya. Kesadaran tentang perubahan kemudian memikirkan apa yang inderanya tangkap dalam proses menjalani kehidupannya yang menjadikannya tahu dan mengerti, manusia lalu melakukan pilihan-pilihan karena dia mampu melihat apa yang dia pikirkan, konsekuensi dari pilihannya itu, kealam ghaib, suatu ruang dan waktu baru yang belum pernah dialaminya dimasa datang yang hanya ada dalam imajinasinya.

Imajinasi berada dalam ruang dan waktu dimasa datang sebagai perwujudan dari melihat apa yang dipikirkannya itu disebut visi.

Berfikir membawa seseorang saat ini berada karena apa yang dia pikirkan kemarin dan apa yang dipikirkan sekarang akan membawa dia berada besok. Karena itu kualitas berfikirnya akan menentukan kualitas hidup seseorang. Orang yang sukses berbeda berfikirnya dengan orang yang gagal.

Berfikir merupakan suatu proses dari memikirkan apa yang dilihat yang melahirkan pengetahuan dan pemahaman berlanjut dengan kemampuan melihat yang dia pikirkan, yang melahirkan hikmah, wisdom, dasar dari dia melakukan pilihan dalam perjalanan hidupnya. Bila kita mampu menuntun pikiran kita menelusuri jalan setapak yang tepat menuju umajinasi atau visi yang kita harapkan, sukseslah kita, sejahtera, nyaman lahir dan bathin. Karena itu musuh terbesar kita ialah membiarkan pikiran kita mengambil jalan setapak yang keliru yang berisi pikiran-pikiran negatif, buruk sangka yang akhirnya melahirkan imajinasi yang keliru. Inilah awal dari segala nestapa.

Barang kali surga itu visi dari semua kita, namun proses menuju surga itu, proses kita berubah sehingga mampu menapaki jalan setapak menuju surga itu, proses perubahan terus menerus menjadi lebih baik, lebih dewasa. Itulah yang dikehendakiNya dari kita.

Maturitas, menjadi dewasa, menjadi lebih dewasa itulah esensi perubahan.

Karena itu saudaraku, berubahlah, hijrahlah dengan keyakinan (Iman) dan dengan pengetahuan (Ilmu) menjadi dewasa dan lebih dewasa lagi.

Nikmatilah hadiah hidup ini dengan sikap yang benar dan tepat, hidup ini indah sekali.

Tuntutlah dia dengan visi yang indah sehingga kita dapat menjalani hidup ini dengan ceria karena termotivasi untuk mencapai visi yang indah itu

 

Media Asuransi No. 207
April 2008

 

 

Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul