Dirgahayu Negeriku
Oleh : Palgunadi T. Setyawan
Dua Agustus lalu kami diundang ke Kuala Lumpur, untuk menghadiri pernikahan putra seorang sahabat disana.
Kami gunakanlah kesempatan itu untuk berkelana, memenuhi janji menutup liburan cucu tercinta. Maka kami aturlah perjalanan ke dan kembali dari Kuala Lumpur menggunakan “multi modal” yang tersedia.
Dari Jakarta terbang ke Batam dengan Garuda, lanjut dengan kapal Feri ke Singapura. Menginap dua malam di Singapura dan menikmati Singapura. Dilanjutkan Singapura-Kuala Lumpur jalan darat dengan bus umum dan kembali ke Jakarta dari Kuala Lumpur dengan terbang murah jasa Air Asia Indonesia.
Perjalanan lancar dan amat menyenangkan serta edukatif. Dalam menikmati perjalanan itulah berdialog dengan Raysa cucu kami itu, mendengarkan celoteh gadis cilik 6,5 tahun, anak bangsa modern, murid kelas 1 SD di Jakarta, saya mendapatkan banyak pelajaran dan perenungan. Komentar pertamanya ketika menginjakkan kaki di Singapura: “Aki, Singapura ini Indonesia juga ya...??”. Berbagai cara saya mencoba menjelaskan kepadanya tentang Singapura sebagai negara lain, negeri jiran, yang bernama Singapura dengan segala kedaulatannya. Namun dia ngotot, Singapura Indonesia juga.
Baru saya sadar ketika malam itu, di Orchard Road yang terang-benderang berhias berbagai lampu dan amat semarak dihiasi bendera menjelang hari kemerdekaan Singapura 9 Agustus, saya mengerti ketika Raysa mengatakan: “Tuh kan Aki, semua bendera merah putih, bendera kita, jadi Singapura ini Indonesia juga”.
Bendera Singapura, yang memang merah putih itu, mirip benar dengan merah putih kita. Maka saya gandenglah Raysa, mendekati salah satu bendera itu, saya rentangkan dihadapannya dan saya tunjukkan bedanya.
Disudut sisi merah bendera itu ada bulan dan beberapa bintang berwarna kuning. Disitulah bedanya, inilah merah putih Singapura dan bukan merah putih Indonesia. Diluar dugaan komentar amat mengejutkan: “Oh begitu Aki, sekarang Raysa paham, kenapa disini semuanya lebih terang dan lebih bagus karena disini banyak bintang dan ada bulan yang selalu bersinar”.
Masya Allah.. Saya tertegun.. ingat berbagai krisis yang kita hadapi, khususnya krisis listrik dan energi yang sedang kita geluti.
Celotehnya berlanjut: “Senang juga ya Aki kalau Indonesia bisa seperti disini, Bersih, tempat sampah banyak dan bagus, bisa jajan es krim dipinggir jalan, tidak seperti di Jakarta dan Bandung. Orang “kita” memang jorok sih, suka buang sampah sembarangan”.
Saya sungguh berterima kasih pada sekolahnya, sebuah SD di Jakarta. Gadis cilik ini kental benar rasa kebangsaannya. Salah satu Tiang Utama berdirinya negeri ini.
Dalam keluguan dan kenaifannya dia sadar akan “rumah” bangsanya. Sebuah Negara berdaulat namanya “Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang dilambangkan oleh bendera Merah Putih kebanggaannya. Bernegara, Tiang Utama kedua berdirinya negeri ini.
Namun dalam kepiluan dan penyesalannya dia merasa bahwa negerinya belum seperti yang dia harapkan. Kenyataan kewilayahan Nusantara, yang berlipat ganda sejak di proklamasikan, bersyukur dan berterima kasih kepada para pahlawan bangsa, Djuanda, Muchtar Kusumaatmadja dan teman-temannya, yang telah mengutuhkan wilayah Nusantara sebagai Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia, merupakan suatu kenyataan, namun belum mampu mensejahterakan bangsa ini sebagaimana mestinya. Ini semua karena perilaku sebagian besar dari kita yang “belum pas” dalam mensyukuri nikmat anugerah yang namanya Kemerdekaan.
Saya merenung, ditegur oleh gadis cilik anak Indonesia modern, Raysa. Seberapa jauh sih kita sebagai anak bangsa telah terus memelihara dan mengembangkan paling tidak tiga tiang utama negara ini sehingga berhak hadir dimuka bumi ini secara bermartabat. Rasa Kebangsaan, Kesadaran Bernegara yang berdaulat dan Amanah Kewilayahan Nusantara, yang telah di anugrahkan kepada kita.
Memasuki peringatan Proklamasi 17 Agustus yang ke 63 tahun ini, marilah kita satukan hati, pikiran dan tubuh kita, mengamalkan janji kita menjadi “Pandu Ibu Pertiwi” sebagai mana kita lantunkan dalam lagu Indonesia Raya kita.
Semoga kita bukan tergolong kaum yang tidak bersyukur dan munafik.
DIRGAHAYU NEGERIKU !!! MERDEKA !!!