Aktual Dalam Setiap Sajian Kesempatan
Oleh : Palgunadi T. Setyawan

 

Barangkali memang sudah begitu dirancangnya dalam kelompok pertemanan dikampung, saya selalu di”marjinal” kan. Selalu jadi anak bawang. Ini karena umur termuda diantara teman, postur tubuh yang ceking maupun nyali istilah teman-teman karena tidak mau main yang macho, yang kasar-kasar. Itulah sebabnya saya jarang atau bahkan hampir tidak pernah diajak main mainan laki-laki: berenang, main bola, berkelahi dan sebagainya.

Sampai pada suatu hari, entah apa alasannya saya diajak teman-teman main bola yang ternyata hanya untuk menjaga pakaian. Dan diluar dugaan datanglah kesempatan untuk menggantikan penjaga gawang yang mendapat kecelakaan. Karena tidak siap dan tidak menduga dapat kesempatan, saya amat mengecewakan. Menjadi penjaga gawang yang buruk, kemasukan banyak dan jadi tumpuan kemarahan dan ejekan banyak orang.

Peristiwa ini menjadi titik balik yang merubah seluruh hidup saya. Sadar bahwa kesempatan dating seperti kilat, amat tidak terduga. Dan celakalah kita apabila tidak siap, tidak “fit and proper” istilah masa kini, untuk menangkap peluang itu.

Saya juga belajar bahwa tidak penting tugas apa yang diberikan, tapi kesempatan tak terduga apa yang muncul dalam menjalankan tugas itu. Itulah yang esensial. Seperti dalam tugas menjaga pakaian, ternyata menjadi penjaga gawang itulah kesempatan yang diberikan. Maka diam-diam saya melatih diri menjadi penjaga gawang yang baik dan ternyata bisa. Aktual menghadapi tuntutan kesempatan itu.

Cerita ini mewarnai hampir seluruh sukses karier saya sebagai professional yang telah 48 tahun lebih telah saya jalani hingga hari ini. Kuncinya adalah menjadi actual setiap saat, menyelaraskan diri secara mental, melakukan penyesuaian dengan kecerdasan dan menyumbangkan nilai tambah dengan terampil pada setiap peluang yang disajikan dihadapan kita. Itulah rahasia sukses dan itu hanya bisa dicapai dengan latihan dan menyempurnaan diri yang berlanjut dan tiada henti.

Orang bahagia itu adalah dia yang tahu dalam perjalan yang namanya kehidupan, kemana dia harus pergi dan “komit”, terpanggil, untuk menapaki dengan tekun setiap langkah dan proses menuju yang dia tuju itu.

Dalam proses itu dia menemukan apa yang dia bisa lakukan dan melakukan dengan terbaik yang dia bisa. Dia sadar mengapa dia harus melakukan itu dan melakukannya dengan ceria dan bahagia. Apabila seseorang mulai menyenangi apa yang dia kerjakan sebenarnya dia telah berhenti bekerja dan menikmati hidup ini. Walau terkadang dia tertempatkan dalam sudut yang paling gelap dalam hidupnya dia tidak berputus asa atau melampiaskan kemarahannya melainkan kemudian bertasbih mengingat Sang Maha Kuasa, kepada siapa kita semua mengabdi dan memohon petunjuk. Maka datanglah pertolongan dari tempat yang tidak terduga. Ujung-ujungnya dia akan menjadi orang yang berkecukupan. Hatinya penuh dengan kasih sayang. Dan sikapnya adil dan pemberani dalam memanfaatkan setiap peluang. Dia actual dalam setiap sajian kesempatan.

 

 

 

Copyright © 2008, Powered by CV. Mandiri Multi Kreasi
Design by Tata & Izul